Menyoal Jalan Alternatif: Keamanan VS Kenyamanan?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Potret Gerbang Gedung B pasca ditutup dan diberi garis polisi.

Washilah – Jalan alternatif penghubung antara Kampus II UIN Alauddin dengan Indekost yang berada di belakang kampus menuai polemik pasca ditutup. Pihak kampus mengklaim tindakan penutupan itu sebagai upaya dalam menjaga keamanan. Di sisi lain, tidak sedikit Mahasiswa yang mengeluh. Avira, Mahasiswa Semester VI menceritakan kisahnya.

Di tengah terik mentari siang itu, Avira (bukan nama sebenarnya) berjalan kaki dari Kamar Indekost tempat ia bermukim menuju Fakultasnya. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Tak lebih dari 50 meter, ia sampai di mulut “Gerbang Gedung B”, sebuah akses jalan alternatif bagi para mahasiswa yang tinggal di belakang Kampus agar bisa masuk ke Kampus Peradaban.

Melalui jalan alternatif yang biasa ia lewati, Avira hanya butuh waktu tidak lebih dari Lima menit untuk sampai ke Fakultasnya.

Jalan alternatif dimaksud merujuk pada sebuah tembok pagar kampus yang telah dilubangi kemudian ditutup dengan pintu yang dibuat dari terali besi. Lokasinya berada tepat di samping Gedung B, sebuah Gedung perkuliahan tambahan berlantai empat yang berada di pojok belakang area kampus II UIN Alauddin Makassar. Di sekitaran jalan alternatif itulah berdiri deretan Indekost, termasuk salah satunya indekost Avira bertempat tinggal.

Bukan tanpa alasan, Avira memilih menyewa indekost di sekitar area teresebut, selain karena murah juga karena jarak yang dekat. Dengan jalan alternatif yang tersedia, hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki dari Indiekos Avira menuju Fakultasnya.

Sebelumnya, ada tiga titik jalan alternatif; Dua buah tangga yang dipasang untuk melewati pagar kampus; Satu tangga terletak di belakang Fakultas Dakwah dan Komunikasi; Satunya lagi berada  di belakang Fakultas Adab dan Humaniora; (Keduanya telah dibongkar oleh pihak kampus) Yang terakhir, terletak di samping Gedung B. Mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus biasa menyebutnya dengan “Gerbang Gedung B”. Gerbang Gedung B inilah yang kerap dilalui Avira untuk menunjang berbagai aktivitasnya di area Kampus.

Hari itu senin (19/4/2021) dari kejauhan Avira melihat beberapa mahasiswi berdiri di depan Gerbang Gedung B. Mereka tak melangkah masuk, hanya bercakap-cakap dengan air muka kebingungan. “Kak, kenapa nda masukki?” tanya Avira dengan sama bingungnya. “Tidak bolehki bede lewat sini, mau ditutup katanya,” jawab salah satu mahasiswi tersebut dengan murung.

Akses yang selama ini mempermudah Avira menuju kampus telah ditutup. Terpaksa ia harus mengurungkan niat menuju Fakultasnya. Namun begitu, sebenanya masih ada dua pilihan bagi Avira, memesan Ojek Online dengan bayaran yang lumayan, atau berjalan kaki 40 menit dengan rute memutar di tengah matahari yang terik. “Besok atau lusa saja,” pikir Avira sembari membayangan dirinya berjalan sendiri selama 40 menit dengan keadaan berpuasa.

Selasa, 20 April 2021, Avira kembali berjalan menuju jalur alternatif tersebut untuk sekadar mencari tahu apakah ia benar-benar telah diharamkan melintas. Musibah tak dapat ia cegah, dari kejauhan, Gerbang telah dikerumuni oleh beberapa orang yang mencoba memasang pelat besi guna menutup Gerbang tersebut. Sejak saat itu, jalur alternatif  Gerbang Gedung B kini hanya menjadi sebuah cerita, bahwa jalur itu telah membantu aktivitas mahasiswa yang telah menjadi pengguna setianya.

Reporter Washilah mendatangi Gerbang Gedung B pada Rabu, 21 April 2021. Plat besi yang sebelumnya berdiri kokoh menutupi Gerbang Gedung B, kini telah tersungkur. Roboh. Selain itu, tanda peringatan “Dilarang melintas” milik pihak kepolisian nampak terlihat. Belakangan diketahui, ada oknum dengan sengaja merobohkan plat besi penghalang tersebut. Pihak kampus yang merasa dirugikan, menganggap tindakan itu sebagai perusakan, kemudian  melaporan kejadian tersebut ke Polres Gowa.

Di lokasi kejadian itu, di depan Gerbang Gedung B. Reporter Washilah bertemu dengan Avira, Perempuan itu menyampaikan keluh kesahnya terkait akses jalan alternatif yang telah ditutup. Menurut hematnya, berbagai masalah menimpa dirinya dengan penutupan akses tersebut. “Sekarang, saya sedang sibuk-sibuknya penyelesaian tugas akhir, otomatis haruski selalu sering-sering ke kampus, karena nda ada kendaraanku, berarti haruska jalan kaki memutar, minimal 40 menit kalo jalan kaki, belum lagi takutki untuk lewat jalur memutar karena sepi, sudah banyakmi juga kejadian pelecehan di sana”.

Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa menggunakan jasa transportasi Daring dapat menjadi sebuah solusi, namun akan membuat pengeluarannya semakin besar. “Sekali jalan itu minimal sepuluh ribu, itu untuk berangkat saja, belum lagi kalo mauki pulang, sama harganya. Berarti setiap hari minimal 20 ribu, kalau sebulan? Bakalan banyak sekali pengeluaran untuk transportasi saja”.

Salah seorang mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) angkatan 2019 yang tidak ingin disebutkan namanya, turut menyampaikan kekecewaan terhadap birokrasi kampus atas penutupan jalur alternatif tersebut.

Serupa dengan Avira, Ia juga menjadi pengguna setia jalur alternatif tersebut dikarenakan Ia hanya butuh berjalan kaki untuk tiba dan beraktivtas didalam kampus.

“Jauh-jauh hari sebelum isu penutupan saya selalu lewat sana, karna dekat, tinggal jalan kaki saja. sekarang harus pinjam motor ke teman baru bisa beraktivitas ke kampus, atau kalau mau ambil uang di ATM kampus,” Ucapnya.

Lebih lanjut, Ia juga mulai berencana untuk mencari indekost di lokasi yang berbeda sebagai akibat dari penutupan jalan alternatif tersebut, alasan kemudahan akses untuk memilih bermukim disana telah ditiadakan kampus.

“Sejak isu-isu penutupan jalan di samping gedung B itu ditutup sudah banyak orang yang berpikir untuk pindah, apalagi kalo sudah kuliah tatap muka di kampus otomatis saya pindah cari kos baru, bahkan kemarin saya lihat sudah banyak mahasiswa di sekitaran kost saya yang sudah pindah,” tutupnya cemas.

Jauh hari sebelumnya, pihak birokrasi UIN Alauddin memang telah mengagendakan penutupan jalur alternatif yang tersebar di beberapa titik. Pada konferensi pers yang dilakukan oleh Pimpinan Universitas pada (23/9/2020) untuk menanggapi kasus Kekerasan Gender Berbasis Online yang menimpa sejumlah mahasiswi UIN Alauddin. Kala itu, Kepala Biro Administrasi Umum dan Perencanaan Keuangan (AUPK) Alwan Subhan menjawab pertanyaan dari wartawan yang hadir mengenai alasan dibongkarnya tangga alternatif yang memudahkan para mahasiswa untuk memasuki kampus tanpa melewati gang dengan  potensi ancaman pelecehan seksual.

“Tangga-tangga di pagar kami sudah angkat, sisa satu (Gerbang gedung B), sekarang ini masih complain karena mereka merasa punya hak. Tetapi dalam dekat ini akan kami pagar (tutup), kalau kita sudah pagar (tutup) lalu mereka bongkar lagi, baru kita adakan tindakan hukum,” tegasnya.

Demi mengetahui secara pasti kebenaran perihal perusakan pelat besi milik kampus di Gerbang Gedung B, kami mewawancarai Kepala Satuan Pengamanan (Satpam) Kampus II UIN Alauddin Makassar, Syarifuddin. Lelaki bertubuh jangkung yang akrab dipanggil Komandan Syarif ini membenarkan kejadian tersebut. Menurut kesaksiannya, dua orang pelaku melakukan perusakan pada selasa (20/4/2021).

“Jam 10 pagi kami sempat melakukan penutupan, namun jam 7 malam ada dua orang warga melakukan pembongkaran. Kami tidak tau apa motifnya, mungkin karena ditutup akses jalannya, akhirnya kampus membawa kasus ini ke Polres Gowa,” pungkasnya.

Komandan Syarif juga menyebutkan bahwa penutupan terhadap gerbang tersebut sudah dilakukan berkali-kali, namun selalu berhasil dibuka kembali, puncaknya pimpinan memerintahkan agar pelat besi menjadi solusi mutakhir untuk menutup gerbang yang dinilai dapat mengganggu keamanan kampus.

“Sebenarnya sudah berkali-kali kami diperintahkan untuk menutup akses jalan tersebut demi keamanan mahasiswa, dan keamanan kampus, sehingga pimpinan meminta kami untuk memasang pelat besi di sana untuk menutup gerbang tersebut,” ungkpanya.

Penulis : Muhammad Wahyu (Magang)
Editor : Agil asrifalgi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami