HMJ Arsitektur Adakan Sekolah Advokasi, Ketua Jurusan : Tetap Jaga Silaturahmi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Terlihat Pemberian sertifikat penghargaan oleh Muhammad Yusuf Maulana (Sebelah Kiri) selaku Wakil Ketua Umum II HMJ Teknik Arsitektur UIN Alauddin Makassar kepada Pemateri Sejarah Pergerakan Mahasiswa Indonesia, Andi Dwi Sasmianto RM. (Sebelah Kanan). Pada Minggu, (11/04/2021).

Washilah – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Arsitektur UIN Alauddin Makassar Mengadakan Sekolah Advokasi yang merupakan salah satu Program Kerja (Proker) Departemen Advokasi dan Strategi, bertempat di Ruko, Jl. Yasin Limpo. Sabtu (10/04/2021).

Kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu 10 April sampai minggu 11 April 2021 tersebut mengusung tema “Mewujudkan kader yang analitis, kritis dan progresif dalam menumbuhkan kesadaran sosial” dan diikuti oleh 49 Mahasiswa Jurusan Arsitektur.

Sekolah Advokasi ini bertujuan untuk membina dan mewadahi Mahasiswa dalam melakukan advokasi dengan menggunakan metode yang tepat serta melahirkan kader-kader yang peka terhadap problematika sosial.

Ketua Jurusan Arsitektur, Ir Zulkarnain ST MT dalam sambutannya memberikan pesan kepada mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut bahwa pentingnya menjaga silahturahmi dan ikatan persaudaraan sehingga ideologi persaudaraan yang ada akan membawa sebuah persatuan yang utuh dan kuat.

“Menjadi sangat penting agar kita tetap menjaga silaturahmi dan ikatan persaudaraan, karena dengan merawat ikatan persaudaraan ideologis akan membuat kita menjadi lebih kuat dan utuh dalam setiap pengambilan keputusan dan pergerakan,” Pesannya.

Ketua HMJ Arsitektur, Muhammad Naufal Saranani menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan membentuk tanggung jawab moril sebagai tujuan penting dalam kehidupan bermahasiswa, sebagai bekal yang dapat diaplikasikan nantinya kemasyarakat melalui metode-metode yang tepat.

“Sekolah Advokasi ini hadir ditengah-tengah kondisi generasi penerus khususnya mahasiswa yang kekeringan akan kesadaran tanggung jawab morilnya, mahasiswa sebagai insan intelektual harusnya dapat menjadi pemecah kebuntuan di manapun dia berada melalui metode-metode yang tepat,” jelasnya.

Penulis : Heni Handayani (Magang)
Editor : Ardiansyah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami