Hari Kartini dan Emansipasi Perempuan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber : Wikimedia Commons.

Oleh : Nur Afni Aripin

Hari ini tepat tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Perayaan ini mulai digelar sedari tahun 1964 lalu,  pasca dikeluarkannya keputusan Presiden RI No. 108 di tahun yang sama oleh Presiden Soeharto.

Tak ayal hingga sekarang 21 April tak lekang sepi dirayakan sebagai hari Kartini, terlihat dari beberapa ucapan-ucapan identik dengan emansipasi perempuan yang memang menjadi titik tolak ukur perjuangan Kartini sendiri, turut bersileweran di jagat media sosial memeriahkan. Setidaknya menjadi kontribusi aktif masyarakat sekarang menghargai perjuangan sosok Kartini.

Berbicara hari Kartini, barangkali tak akan dipisahkan pada persoalan emansipasi perempuan. Kartini sendiri merupakan sosok pahlawan cerdas yang begitu gigih memperjuangkan  persamaan hak wanita pribumi yang kala itu yang masih dianggap sebagai hal baru bahkan terkesan tabu .

Kartini berjuang bukan dengan senjata api, pun bambu runcing tapi beliau memperjuangkan hak-hak perempuan melalui kepiawaiannya dalam menggoreskan tinta pena di atas kertas putih yaitu dengan sumbangsihnya dalam berliterasi. Salah satu karya fenomenal beliau adalah buku yang diberi judul ” Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang merupakan kumpulan surat-surat kartini kemudian dikemas rapi hingga melahirkan sebuah buku.

Pemikiran Kartini memang  memberi perhatian penuh terkhusus pada permasalahan perihal emansipasi perempuan dalam melihat perbandingan antara perempuan eropa dan perempuan pribumi kala itu.

Hingga pada puncaknya ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi, karena kedudukannya masih tertinggal jauh atau bahkan memiliki status sosial yang cukup rendah. Selain itu, pemikirannya juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi.

Menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh baik persamaan hak, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Konklusi dari Cita-cita luhur Kartini sendiri adalah melihat perempuan-perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dengan bebas .

Berlandaskan pada rasa prihatin terhadap minimnya pendidikan yang diterima oleh kaum perempuan di Indonesia saat itu, dia mendobrak stereotip wanita hanya sebatas pengurus rumah, dan mencetuskan sekolah dasar pertama untuk wanita di Indonesia pada tahun 1903.

Kartini menjadi fondasi wanita modern di Indonesia untuk mendapatkan kesempatan setara dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.

Pada akhirnya, Kartini menggunakan hak istimewa pendidikan yang dia miliki dalam membuat dampak serta mendongkrak perubahan historis bagi seluruh hak wanita di Indonesia.

Hal yang sama dapat kita lakukan dengan merebaknya ketersediaan platform media komunikasi yang ada di era digital sekarang saatnya kita membicarakan perubahan dan kesetaraan. Pasalnya meskipun kemajuan pesat telah dirasakan semenjak di era Kartini, namun tetap saja tak bisa dinafikkan kesetaraan perempuan dengan pria masih jauh dari yang seharusnya.

Seperti kesadaran terhadap pentingnya pendidikan bagi perempuan masih tergolong rendah, menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada 2016 lalu rata-rata perempuan hanya mendapat pendidikan sampai kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Dengan kata lain, rata-rata lama perempuan bersekolah hanya selama 7,5 tahun.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menunjukkan, angka melek huruf pada perempuan lebih rendah dari laki-laki dengan berada di angka 94,33 persen dan laki-laki 97,48 persen.

Faktor ekonomi digadang-gadang  menjadi salah satu  pemicu ketertinggalan perempuan untuk merasakan gemerlapnya pendidikan. Alasan lain menyebutkan bahwa adanya intervensi antara urusan rumah tangga terhadap pendidikan juga menjadi faktor dominan.

Ketika perempuan ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi, maka akan ada hambatan yang menjelaskan bahwa pernikahan menjadi urusan utama daripada studi dan hal tersebut masih marak kita jumpai terkhusus di pelosok-pelosok daerah.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, semangat untuk berpendidikan makin lama kian pudar seiring dengan hambatan-hambatan yang terjadi. Jika menikah sejalan dengan penyelesaian studi tentu saja hal itu dirasa meruwetkan, toh perempuan akan mengalami peran ganda sehingga mengharuskannya untuk bekerja keras guna melakukan penyeimbangan, dalam konteks sosial yang masih berlutut pada pemikiran gender konvensional itu-itu saja.

Seperti pemikiran yang masih dilanggengkan hingga sekarang ini yakni, suatu hal yang dianggap wajar jika laki-laki bekerja atau bahkan memperoleh segala impiannya, seperti  pengembangan diri pun melanjutkan studi, bukan mengurusi perkara domestik yang menjadi urusan perempuan.

Bukan hanya itu kondisi lain menjelaskan bahwa masih banyaknya pelecehan terhadap perempuan pada dunia pendidikan, dikutip dari Tirto.id mengungkapkan jika pelecehan seksual terhadap perempuan di kampus terjadi sekitar 36–44 persen. Begitupun yang tertulis pada jurnal Psychology of Women Quarterly, dari meta-analisis 71 studi, sebesar 58% perempuan pernah mengalami pelecehan pada ranah akademis.

Sehingga penulis bisa menarik benang merah untuk dijadikan kesimpulan bahwa Proses diskriminasi, pelecehan hingga tindakan-tindakan yang merugikan perempuan yang pada akhirnya cenderung  merusak perempuan dan disenyalir sebagai tembok pembatas yang membelenggu dan menjadi hambatan perempuan dalam menempuh pendidikan, sialnya hal tersebut merupakan realitas yang sering kita jumpai sekarang ini.

Seolah tak ada habisnya problem dari hambatan perempuan dalam menempuh pendidikan juga, ialah budaya patriarki yang masih dominan. Selain itu terdapat diskriminasi secara budaya, di mana perempuan ditempatkan dalam subsistem di bawah laki-laki, hak-hak yang terkesan dipinggirkan dan dikesampingkan.

Maka perlu ditekankan jikalau kurang meratanya pendidikan terutama untuk perempuan, tidak hanya diakibatkan oleh faktor ekonomi saja namun pengaruh budaya patriarki masih membelenggu turut mengambil peran.

Padahal berpuluh-puluh tahun lalu, Kartini telah memperjuangkan  pentingnya emansipasi terhadap perempuan, seperti pemberian akses pendidikan secara meluas. Namun dalam praktiknya sekarang ini masih belum berjalan maksimal, sehingga perempuan masih terkungkung bahkan terkesan dibelenggu.

Penting untuk kita ingat seberapa jauh kita telah melangkah sejak era Kartini, bagaimana seorang perempuan seperti dia telah membuka gerbang hak-hak dan kesetaraan perempuan. Sebuah perjuangan yang akan selalu diingat bahkan terpatri dalam sanubari. Pertanyaan yang kemudian mengganggu penulis akankah perjuangan tersebut disia-siakan? lagi dan lagi dipatahkan oleh realitas yang ada bukan?

 

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik (FUFP) Semester VI.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami