Menjemput Tali Persaudaraan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Kondisi jalan yang dilewati oleh mahasiswa KKN-DK Tombolo Pao saat melayat disalah satu warga Desa Langkoa yang meninggal.

Washilah – Kami dapat kabar dari ibu posko, salah satu warga di Langkoa meninggal dunia. Untuk sampai ke Langkoa, butuh tenaga yang lebih kuat; melewati jalan yang berlumpur, dan tanjakan curam.

Esok harinya, saat kami sarapan, sekonyong-konyong bapak posko ajak kami ke Langkoa “siapa yang mau ikut ke Langkoa melayat?”. Kami ragu iyakan ajakan bapak, karena ada teman, yang mau dijemput sorenya. Dengan ragu saya angkat tangan “Saya mau ikut, pak”. Ini adalah pengalaman berharga. “Jam sembilan kita berangkat yaa” kata bapak.

Setelah hujan redah, kami mempersiapkan diri untuk berangkat; ganti baju dan cuci muka. Sekitar jam 09.00 WITA kami berangkat, dari rumah bapak posko. Saya, bapak posko, dan tiga warga Bangkeng Batu menapak jalan yang licin menuju Langkoa.

Jalan banyak yang berlobang dan becek. Rombongan lainnya telah mendahului kami. Beberapa jam kemudian, kami bertemu rombongan lain, yang mau melayat. Kami ikut singgah untuk menunggu rombongan lain, dan mengambil nafas sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa menit menunggu rombongan lain, mereka pun tiba, dan kami melanjutkan perjalanan. Saya menengadah melihat rute pendakian. Dingin sudah semakin menusuk tulang. Badan mengigil. “Rusak mi jalanan, banyak yang berlobang karena ban motor” kata bapak posko sambil tunjuk jalan yang berlubang.

“Dulu, jalanan tidak begini. Kalau mauka ke sekolah waktu dulu, pasti celana dan baju saya basah, karena rumputnya masih tinggi,” kata bapak posko.

Ada satu rombongan membawa anak kecil usia sekolah dasar. Ada warga hanya pakai sandal jepit. Ada pula warga lain yang menenteng payung. Terlihat tidak ada persiapan matang. Mereka rela pergi melayat tanpa persiapan matang demi merawat silaturahmi.

Setelah lewati hutan Pinus, terlihat lah rumah duka. Jarak rumah berjauhan, dari satu rumah ke rumah yang lain. Kami berhenti sejenak, membersihkan lumpur yang menempel di kaki. Setelah kaki bersih, kami pun naik ke rumah duka.

Di atas rumah duka, banyak yang menunggu kami. Ruang tamu penuh dengan pelayat. Mereka duduk melingkari jenasah. Pakaian tebal dan sarung membungkus badan, untuk menghangatkan mereka.

Lihat orang-orang di ruang tamu, dengan raut muka sedih, ikut merasakan kehilangan keluarga. Banyak pelajaran yang saya dapat dari perjalanan ini. Silaturahmi adalah kunci memperat tali keluarga. Orang orang di sini rela melewati hutan Pinus yang jalanannya becek dan berlobang.

Hujan rintik turun membasahi rumah yang sudah tua. Seseorang yang dinanti-nanti memasuki rumah. Tangannya menenteng beberapa lembar kain. Orang-orang mulai mengubah posisi duduknya. Dia adalah orang yang akan mengkafani jenasah.

Hujan rintik turun mewakili perasaan orang orang di Langkoa yang berkabut. Langit sedih karena kehilangan keluarga, dan senang karena tali persaudaraan masih terawat dengan erat.

 

Penulis : Muhammad Junaidi

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami