Isra’ Mi’raj dan Spirit Membangun Peradaban

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc. Pribadi

Oleh : Panji Hartono

Peristiwa isra’ mi’raj merupakan salah satu peristiwa besar yang pernah terjadi dalam perjalanan panjang umat islam. Peristiwa tersebut teramat penting dalam ajaran islam, olehnya peristiwa itu diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Indonesia sendiri sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, begitu mengapresiasi peristiwa tersebut, sehingga peristiwa itu dijadikan sebagai hari libur nasional. Tentu penetapan hari libur tersebut harus dimaknai lebih dalam lagi, yaitu di tengah kesibukan yang mengepung keseharian kita, harus ada waktu yang kita sisipkan untuk mencoba memaknai peristiwa penting itu, utamanya bagi umat islam.

Karena isra’ mi’raj merupakan suatu rangkaian peristiwa penting yang hadir dalam perjalanan sejarah umat islam, tentunya menyimpan pesan-pesan sublim yang dapat diambil ibrah (pelajaran).

Terkait bagaimana fakta perjalanan Rasulullah SAW dari masjid al-haram mekkah ke masjid al-aqsa palestina (isra’) dan dari masjid al-aqsa kemudian naik ke sidratul muntaha (mi’raj), berbagai macam prespektif dapat kita jumpai dari beragam sumber.

Para ahli tafsir menuturkan tentang adanya perbedaan pendapat dikalangan umat islam, apakah Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa isra’ dan mi’raj itu secara ruhani-jasmani, ataukah ruhani saja. Sebagian besar riwayat megatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan suci itu secara ruhani-jasmani sekaligus, tapi ada beberapa riwayat, seperti dari Aisyah, Muawiyah dan al-hasan (ibn ali ibn Abi Thalib), sebagaimana dikutip oleh al-zamakhsyari dalam kitab tafsirnya, al-kasysyaf, bahwa isra’ dan mi’raj itu dialami Nabi secara ruhani saja.

Tetapi sesungguhnya masalah itu, dihadapan Tuhan yang Maha kuasa tidak relevan, karena apapun yang dikehendaki oleh tuhan tentu akan terjadi. Dari situ harus kita pahami bahwa peristiwa tersebut tidak lepas dari “campur tangan” tuhan, olehnya ayat Al-Qur’an yang membahas perihal peristiwa tersebut yakni al-isra’ ayat 1 dibuka dengan narasi “subhanalladzi asro’ Bi abdihi “… (maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya).

Karena perjalanan tersebut tidak lepas dari campur tangan tuhan, maka peristiwa tersebut dikategorikan peristiwa sejarah yang sangat luar biasa, bahkan awal-awal nabi menceritakan peristiwa itu tidak sedikit yang menganggap peristiwa tersebut irasional, termasuk pengikut rasulullah sendiri. Olehnya dalam menyikapi peristiwa tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe, pertama, orang yang mengingkari rasulullah, semakin menghina dan mencaci maki Rasulullah. Kedua, orang yang belum teguh dalam keimanannya, mulai ragu dengan Rasulullah. Ketiga, yang telah teguh imannya, tetap kokoh iman dalam dirinya, termasuk sahabat rasulullah yang cukup setia abu bakar yang kemudian diberi gelar ash-shiddiq (pendukung kebenaran yang tulus).

Meskipun peristiwa tersebut diintervensi langsung oleh tuhan, bukan berarti peristiwa itu tidak dapat dijamah oleh analisa ilmu pengetahuan, seorang pegiat tasawuf modern bernama agus mustofa, dalam salah satu bukunya berjudul “terpesona di Sidratul Muntaha” mencoba untuk menafsirkan ayat yang membahas ihwal peristiwa tersebut dengan pendekatan sains.

Persoalan yang coba digali adalah perjalanan panjang tersebut yang hanya ditempuh dalam satu malam. Kita ketahui bahwa informasi dari Al-qur’an berkaitan dengan transportasi yang digunakan oleh rasulullah dalam peristiwa tersebut yaitu menggunakan buraq atau barqun yang berarti cahaya. Dan dalam tinjauan ilmiah sangat mustahil bobot badan materi muhammad mampu bersesuaian dengan kecepatan cahaya, maka dalam kacamata ilmu pengetahuan, jika yang melakukan perjalanan menggunakan buraq tersebut adalah fisik materi muhammad maka konsekuensi logisnya adalah fisik materi tersebut pastinya akan hancur lebur jika harus menyesuaikan diri dengan kecepatan cahaya.

Dalam bukunya tersebut Agus Mustofa mencoba menggunakan suatu teori yang disebut teori “annihiliasi” sebagai pisau analisa, dimana teori tersebut menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu berat massa pada materi fisik dapat diubah menjadi cahaya yang sangat minim bobot berat massanya, dan ditegaskan bahwa makhluk yang ditunjuk langsung oleh tuhan untuk mengoperasi fisik materi muhammad menjadi cahaya adalah jibril yang kita ketahui bersama merupakan makhluk cahaya, sehingga proses annihiliasi tersebut pastinya sangat mudah dilaksanakan. Tentunya proses tersebut tidaklah sesimpel yang dijelaskan di atas, intinya menurut agus mustofa yang melakukan perjalanan menggunakan buraq tersebut adalah muhammad yang telah diubah menjadi cahaya oleh jibril.

Dalam penjelasan lain, dapat kita lihat dalam kerangka teori kenisbian waktu seperti dikembangkan oleh Albert Einsten. Kalau einsten dan para ilmuwan dapat membangun teori bahwa manusia dapat “berjalan-jalan” ke masa lalu dan masa mendatang (antara lain berdasarkan kenisbian waktu) yang teori itu telah dituangkan dalam tulisan-tulisan science fiction seperti ide tentang adanya lorong waktu (time tunnel) maka mungkin saja bahwa nabi dalam isra’ mi’raj itu, dengan kehendak Allah karena dibebaskan oleh-Nya dari belenggu dimensi waktu, telah melakukan perjalanan dalam “lorong waktu” sehingga beliau dapat melihat dan mengalami hal-hal di masa lalu dan di masa mendatang tersebut. demikianlah yang dijelaskan pula oleh cendekiawan muslim indonesia Nur cholish madjid dalam salah satu karyanya “islam agama peradaban”

Seperti halnya dengan pertemuan Nabi s.a.w dengan para Nabi dan para Rasul terdahulu sepanjang zaman dalam shalat bersama dan beliau menjadi imam, begitu pula pengalaman keberadaan Nabi di Masjid Aqsha adalah suatu pengalaman yang sudah lepas dari dimensi ruang dan waktu yang relatif, sebab semasa Nabi melakukan perjalanan suci itu, Masjid Aqsha dalam arti bangunan fisiknya belum ada, kecuali sisa beberapa bagiannya yang kurang penting.

Penjelasan di atas semuanya adalah sebuah pendekatan yang bersifat spekulatif. Sekali lagi, masalah bagaimana Nabi Muhammad mengalami isra’ mi’raj itu, di hadapan kehendak Allah dan kemahakuasaan-Nya, tidaklah terlalu relevan. Kita percaya kepada Allah, dan kita membenarkan terjadinya Isra’ dan Mi’raj itu dengan sepenuh hati.

Yang menarik untuk kita coba selami adalah nilai-nilai spirit yang ada pada peristiwa tersebut yang dapat kita jadikan pegangan dalam hidup terutama dalam membangun peradaban.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri terjadi pada tahun ke 11 masa kenabian, dan kita ketahui bersama bahwa setahun sebelumnya merupakan tahun-tahun kesedihan yang dialami nabi karena istri tercinta yakni khadijah dan pamannya abu thalib meninggal dunia, olehnya tahun tersebut disebut tahun kesedihan (am al-huzn). Pada masa itu juga cobaan dakwah rasulullah mencapai puncak ujiannya, maka rasulullah mengalami guncangan psikis yang berat, sisi-sisi kemanusiaannya terlihat, namun karena beliau merupakan manusia spesial sekaligus kekasih tuhan, maka dalam keadaan sedang terpuruk saat menjalankan misi menyampaikan risalah mulia, Allah SWT mengundang beliau untuk melaksanakan safari spiritual menuju dekapan hangat ilahi yang dilukiskan dalam kitab suci “bertemu di sidratul muntaha” yang kemudian dikenal dengan peristiwa isra’ mi’raj tersebut.

Tentu muncul pertanyaan, kenapa tuhan dengan kemahakuasaannya tidak membolak-balikkan saja hati orang-orang kafir pada saat itu, bukankah tuhan adalah dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia?

Tentu dengan kemahakuasaannya, hal demikian amatlah mudah di sisi tuhan, Namun karena rasulullah merupakan panutan yang setiap laku dan peristiwa yang dialaminya pasti menjadi contoh dan panutan bagi umatnya, maka walaupun peristiwa yang dialami rasulullah sangat berdimensi transenden karena diintervensi langsung oleh tuhan, namun tidak berarti menegasikan sisi-sisi imanennya atau sisi-sisi duniawi dan manusiawinya sehingga dapat diambil ibrah atau pelajaran untuk kehidupan manusia setalah masa rasulullah. Sehingga dalam setiap perstiwa yang dialami rasulullah tidak serta merta tuhan dengan kekuasaannya lantas menghilangkan unsur proses duniawi yang dialami oleh rasulullah, itulah kenapa dalam islam kita tidak mengenal apa yang dinamai “mistifikasi” terhadap person muhammad. Sehingga dalam kecintaan kita kepada rasulullah, tetap saja kita tidak mengkultus secara berlebihan personifikasi muhammad, olehnya islam tidak mengenal suatu pahaman yang menyematkan pengkultusan secara berlebihan pada persofinifikasi seseorang, wajar saja dalam islam kita tidak mengenal apa yang disebut muhammadanisme, sebagaimana kita kenal suatu paham yang disebut marxisme, leninisme, maoisme dan lain-lain.

Kembali kepada kondisi sebelum peristiwa isra’ mi’raj itu berlangsung yang dimana telah kita ketahui bahwa kondisi rasulullah pra-isra’ mi’raj merupakan kondisi terpuruk dalam proses perjuangannya dalam memperkenalkan ajaran mulia sebagai basis membangun peradaban, kemudian safari isra’ mi’raj yang bermuara perjumpaan dengan tuhan itu akhirnya memberikan kekuatan dan spirit baru pada diri rasulullah, maka hikmah yang dapat diambil dari situ adalah kesadaran diri untuk selalu melibatkan tuhan dalam setiap usaha atau perjuangan kebaikan yang kita lakukan apalagi kalau perjuangan tersebut bukanlah perjuangan kecil seperti membangun peradaban.

Kita pahami bahwa sekelas Muhammad s.a.w yang nyata merupakan kekasih tuhan yang mengemban amanah langsung dari tuhan pula masih digambarkan dalam perstiwa isra’ mi’raj bagaimana muhammad itu sangat butuh dengan tuhan. Maka dari sanalah kita dapat amati bahwa setiap upaya dalam membangun suatu cita-cita peradaban yang tidak menghadirkan tuhan (nilai-nilai ketuhanan) dalam setiap hembusan nafas perjuangannya maka tidak akan pernah menjumpai suatu keberhasilan yang hakiki.

Sebagaimana kita ketahui dalam panggung sejarah muncul sosok seperti jengis khan sebagai representasi kedigdayaan bangsa mongol yang kita ketahui waktu itu sangat kejam dan jauh dari nilai-nilai ketuhananan, fakta sejarah membuktikan bahwa mereka tidak mampu bertahan pada perjalanan sejarah dalam membangun peradaban dan cerita manis mereka dalam membangun peradaban akhirnya sirna dikoyak-koyak zaman.

Selain Jengis Khan, dapat kita ambil perbandingan pula sebuah cita-cita membangun peradaban tanpa kelas yang coba ditawarkan oleh sosok bernama Karl Marx, tetapi kita ketahui bahwa basis perjuangan tersebut tidak sama sekali berpangkal pada kesadaran akan nilai ketuhanan, tetapi hanya ditopang oleh kesadaran kesejarahan yang berbasis materi “Materialisme Dialektika History”, maka ujung dari cita-cita tersebut hanya berjumpa dengan ruang kosong yang hampa, itulah yang disebut cita-cita “utopia”.

Adapun peradaban barat yang kita temui hari ini yang gegap gempitanya ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dapat dipastikan akan menemui jurang kebinasaan ketika peradaban tersebut hanya didominasi oleh basis kesadaran materialis dan semakin kering akan nilai-nilai ketuhanan. Karena Al-qur’an sendiri telah memberikan informasi ” fandzuru kaifa kana akibatul mukadzdzibin” maka amatilah di atas pentas sejarah muka bumi ini, kesudahan bagi mereka yang mendustai kekuasaan tuhan.

Sementara jika kita coba bandingkan dengan peradaban rabbani yang dicetuskan oleh muhammad yang berawal dari kota kecil yastrib lalu diubah menjadi madinah (madaniyah atau tamaddun) yang berarti peradaban, dimana pada saat itu yastrib atau madinah jika dibandingkan dengan dua peradaban besar yaitu romawi dan persia secara kasat mata dapat dimetaforkan “al-farqu baina as-sama’i wa al-ardhi” perbedaannya ibarat langit dan bumi, tetapi kota kecil tersebut dipenuhi oleh dada-dada yang telah bersemayam tuhan di dalamnya, maka optimisme dan rasa tidak gentar dalam memperjuangkan peradaban rabbani senantiasa menghiasi gerak-gerik mereka, bagaimana seseorang bisa merasa lemah dalam menegakkan ajaran kebenaran sedangkan di dalam dadanya telah bersemayam tuhan yang maha kuasa?

Lalu bagaimana jika kita coba kontekstualisasikan dengan kondisi bangsa kita indonesia?, apakah bangsa kita ini yang merupakan mayoritas muslim terbesar di dunia telah mampu untuk mewarisi “api” dari spirit isra’ mi’raj tersebut, ataukah kita hanya mewarisi “abu” dari peristiwa penting tersebut sehingga setiap tahunnya kita hanya mampu merayakannya secara seremonial tanpa mengejewantahkan nilai moril dari peristiwa tersebut dalam ikhtiar kita merestorasi peradaban bangsa kita?

Jika kita amati, bukankah pandangan hidup atau weltanschaung bangsa indonesia yang berjumlah 5 butir yang diikat dalam “pancasila” menempatkan “ketuhanan yang maha esa” pada butir pertama, berarti dapat ditarik sebuah konklusi bahwa pendiri bangsa kita (founding parents) sadar betul akan urgensi dari nilai-nilaia ketuhanan dalam mendirikan bangsa ini. Lantas apakah peradaban indonesia kita ini sudah sesuai dengan peradaban yang dirintis oleh baginda Muhammad s.a.w? Jika belum apakah berarti bahwa pancasila yang merupakan kesepatan bersama atau dengan berbagai istilah seperti “kalimatun sawa'” titik temu atau bisa juga disebut “mitsaqon ghalizah” perjanjian agung atau dengan istilah nur cholish madjid “konvergensi nasional”, terdapat kekeliruan di dalamnya?

Sepertinya bukan itu soalnya, tapi mari kita coba merenung bersama “Apakah semua eleman bangsa ini telah insaf untuk memaknai secara mendalam dan sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan, baik itu kehidupan personal maupun kehidupan kolektif? ”

Biarkan masing-masing hati kita berdialektika dengan diri sendiri dalam menjawabnya.

Tuhan sebaik-baik petunjuk

Wallahu a’lam bissawab

 

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Semester X

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami