Hari Perempuan di Tengah Kesenjangan Gender Sosial di Masyarakat

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok. Pribadi Dian Nafiyanti Hanafi.

Oleh : Dian Nafiyanti Hanafi

Perempuan, jika mendengar kata “Perempuan” apa yang terbesit di benak kalian? yah, ia adalah Makhluk ciptaan Tuhan yang paling rumit, mereka adalah makhluk yang katanya Perasa, atau penuh Intuitif, katanya mereka adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Benarkah demikian?. Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada hari ini 8 Maret 2021, hari dimana seluruh dunia menghormati keberadaan Perempuan dan mengkampanyekan hak-hak setiap perempuan yang ada. Lalu benarkah perempuan sudah mendapatkan hak – haknya hari ini? pada kenyataannya Hingga hari ini masih banyak perempuan-perempuan di luar sana yang hak-haknya masih terenggut.

Hingga hari ini Perempuan masih hidup ditengah stereotip-stereotip yang diciptakan masyarakat yang sifatnya melemahkan dan menghambat kemajuan Perempuan. Salah satu contoh stereotip bahwa Perempuan dilahirkan untuk menjadi Ibu, menjadi istri, tidak penting bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan terlalu tinggi karena pada akhirnya mereka hanya akan menjadi “Ibu Rumah Tangga”. Hal ini berdampak pada kemajuan Perempuan yang hingga kini masih berada di Hierarki yang rendah.

Di beberapa daerah di Indonesia sendiri tingkat Pernikahan Dini masih sangat tinggi. Mengapa demikian? ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini salah satunya faktor Ekonomi, sedangkan Perempuan dituntut untuk menjadi “penyelamat” ekonomi keluarga.

Beberapa masyarakat berpandangan bahwa perempuan tidak butuh sekolah yang tinggi untuk sukses, cukup dengan menikahi keluarga yang tingkat finansialnya terbilang tinggi Perempuan sudah bisa hidup enak dan membahagiakan keluarganya. Bukankah hal itu sama dengan merampas hak-hak perempuan. Padahal perempuan juga memiliki hak kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri tanpa ada intervensi dari pihak manapun termasuk orang tua dan keluarga.

Berbicara soal hak kebebasan, Perempuan juga belum mendapatkan hak kebebasannya dengan benar. Hingga hari ini perempuan masih hidup dibawah ketakutan-ketakutan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Maraknya pelecehan seksual yang dialami perempuan masih menjadi masalah yang cukup darurat di Dunia maupun di Indonesia sendiri.

Masyarakat selalu menuntut perempuan untuk bertingkah sewajarnya, menggunakan pakaian yang tertutup, bahkan perihal suara dan lisan pun perempuan harus bisa menjaga sebisa mungkin agar mereka tidak “memancing hasrat Lelaki”. Hingga hari ini masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak saya mengenai kesenjangan tersebut. Mengapa hanya perempuan yang dituntut?, Mengapa sebaliknya masyarakat kita tidak pernah menuntut laki-laki untuk mengedukasi diri mereka sehingga mereka bisa belajar menahan diri?. Yang paling buruk adalah ketika perempuan dihadapkan pada situasi tersebut dan menjadi korban pelecehan seksual masyarakat seakan berusaha membungkam Perempuan untuk tidak bersuara. Hal itu terjadi karena stigma masyarakat yang mengaggap korban pelecehan sebagai Aib yang tidak boleh diketahui orang lain, sebaliknya para pelaku diluar sana dibiarkan merajalela hidup dengan tenang. Ironis bukan? akibatnya banyak perempuan-perempuan yang menjadi korban hingga hari ini takut untuk Speak-up mengenai hal yang telah dialaminya karena takut dengan cemohan masyarakat, takut dipandang buruk, hingga berdampak buruk pada kondisi psikologis korban yang paling buruk adalah Depresi dan Perilaku Self-Harm. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat kita seakan tidak berpihak kepada korban, hal ini dapat kita lihat ketika ada seorang wanita yang menjadi korban pelecehan dan berani untuk bersuara bukannya membantu menenangkan malah balik menyalahkan korban dengan alasan-alasan seperti Pakaian yang mungkin terlalu terbuka, gestur tubuh, dan lainnya.

Padahal Berpakaian juga merupakan hak kebebasan Perempuan. Selain itu pelecehan dapat terjadi pada siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Pakaian tidak menjadi alasan pelecehan terjadi. Bahkan sebuah survey dilakukan oleh Koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta, dan Change.org Indonesia. Dilansir dari NewsDetik.com Top 3 baju yang mereka (perempuan) kenakan rok/celana panjang (18%), baju lengan panjang (16%),sedangkan 17% mengenakan Hijab. Hal ini kemudian membantah persepsi masyarakat perihal penyebab terjadinya pelecehan adalah pakaian yang dianggap “Kurang Sopan”, Survei dilakukan terhadap 62.224 orang dari berbagai latar belakang identitas.

Dari analisis data responden tersebut, diketahui waktu kejadian pelecehan seksual juga banyak terjadi di siang hari. Mayoritas korban mengaku mengalami pelecehan secara verbal.

Saya hanya berharap perempuan-perempuan di luar sana bisa bertahan ditengah kerasnya Stereotip Negatif dari masyarakat. Untuk perempuan – perempuan yang pernah menjadi korban dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti Sexual Harrasment, Pernikahan dini yang terpaksa, maupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hei semangat yah kalian semua adalah orang yang kuat, Jangan takut untuk bersuara, Tuhan sendiri percaya bahwa kalian adalah orang yang kuat. Sudah saatnya kita berpihak kepada para penyintas Pelecehan Sexual, dan saling menguatkan. Selamat hari Perempuan Sedunia aku, kamu, dan kita semua adalah orang yang kuat.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester IV

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami