Bom Bunuh Diri di Katedral, Begini Tanggapan Ketua Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc. Pribadi Syamsul Arif Ghalib.

Washilah – Bom meledak di Gereja Katedral, Kota makassar, Sulawesi Selatan. Ledakan yang disinyalir sebagai bom bunuh diri diperkirakan meledak sekitaran jam 10:30 WITA Minggu, (28/03/2021), bertepatan dengan selesainya Misa.

Kejadian ini menewaskan pelaku dan 14 korban mengalami luka-luka. Pasca ledakan, ditemukan bagian tubuh yang berserakan di tempat kejadian. Selain itu, beberapa video amatir yang berhasil direkam oleh masyarakat turut meramaikan jagat sosial media.

Menanggapi Insiden tersebut, ketua Generasi Muda Forum Kerukunan Umat beragama Sul-Sel, Syamsul Arif Galib mengungkapkan bahwa kejadian ini bukan kali pertama terjadi di Makassar dan hal ini tentunya tidak bisa diterima.

“Pengeboman seperti ini tidak bisa diterima karena harus mengorbankan orang lain, tiba-tiba keluar dari gereja kemudian jadi korban,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sekretaris Jurusan Studi Agama Agama itu membeberkan kasus tersebut bukan pertama kali terjadi di Makassar, tahun 2002 bom bunuh diri pernah terjadi di McDonald’s.

Ia menjelaskan, pelaku bom bunuh diri menyasar gereja menurutnya sebagai upaya mengganggu hubungan baik antar islam dan Kristen.

“Diharapkan menjadi trriger konflik antar agama seperti yang terjadi di Ambon, bahkan Poso kemarin,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya insiden tersebut ditujukan untuk menciptakan ketidakstabilan, bahkan temuan polisi mengatakan aksi ini juga sebagai bentuk balas dendam atas penangkapan beberapa teroris pada awal januari di Sul-Sel.

Dosen Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) ini menjelaskan bagaimana cara mengantisipasi hal ini agar tidak terulang dikemudian hari.

“Hal yang paling mendasar untuk mengantisipasi hal ini agar tidak terulang kembali adalah semua kelompok haruslah bekerja sama untuk membangun kembali pluralitas dan saling hidup berdampingan dengan damai,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap masyarakat tidak serta merta memberi stigmatisasi buruk terhadap golongan tertentu karena kasus ini .

“Saya berharap masyarakat tidak serta merta memberikan stigma buruk terhadap kelompok tertentu,” harapnya.

Dalam kejadian ini, ia juga menginginkan agar masyarakat menumbuhkan nalar kritis dan rasa simpatinya.

“Masyarakat perlu menumbuhkan nalar Kritis dan juga perlu menumbuhkan rasa simpati bahkan turut mendoakan, sebaliknya tidak menjejalkan beberapa berita berita hoax yang dibangun dari narasi-narasi individu dan disebarkan pada sosial media,” tutupnya.

 

Penulis : Nur Afni Aripin (Magang)

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami