Abu-Abu Metode Kuliah Semester Genap

Facebook
Twitter
WhatsApp
Washilah –Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) merubah dinamika kehidu-lpan.Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China itu, memaksa masyarakat berada dalam kondisi baru di segala sektor, termasuk pendidikan. Beberapa bulan terakhir otoritas pendidikan mewajibkan pembelajaran jarak jauh.

Pemerintah pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021.

Perguruan tinggi dapat melaksanakan perkuliahan campuran atau hybrid learning. Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia : Nomor 04/KB/2020, Nomor 737 Tahun 2020, Nomor HK.01.08/Menkes/7093/2020, Nomor 420-3987 Tahun 2020 telah dikeluarkan sejak 30 November.

Namun, Pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar belum menentukan sikap, ihwal metode perkuliahan yang akan dijalankan. Padahal masa perkulihan semester genap tidak lama lagi berlangsung, jika sesuai kalender akademik 2020/2021 akan dimulai pada 1 Maret 2021 mendatang.

Wakil Rektor I bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Prof Mardan mengaku masih menunggu kondisi pandemi Covid-19 di Sulawesi Selatan. Mardan mengatakan penyebaran virus itu masih fluktuatif, alhasil pertimbangan kesehatan mahasiswa bisa membuat was-was.

“Dalam keputusan empat menteri itu mengatakan menunggu kondisi disetiap daerah, sedangkan sekarang Sulawesi Selatan sedang dalam zona orange. Olehnya hingga saat ini belum ada keputusan terkait proses perkuliahan semester genap,” ungkap Mardan di ruang kerjanya, kamis (7/01/21).

UIN Alauddin Makassar , kata Mardan sebelum dikeluarkan SKB empat menteri tersebut memilih perkuliahan secara daring. Melalui surat edaran Rektor, Prof Hamdan Juhannis No. B-847/Un.06.I/PP.00.09/03/2020, tertanggal 15 Maret 2020, sebagai tindak lanjut edaran Kemendikbud.

Namun sejumlah masalah ditenggarai hadir dalam metode terbarukan ini. UIN Alauddin Makassar dianggap belum cakap mengimplementasikan perkuliahan daring Mardan megungkapkan ada banyak kritik yang diterimanya, mulai akses jaringan, kompetensi tenaga pengajar. Walau begitu, pimpinan UIN Alauddin Makassar , lanjut Mardan berupaya meminimalisir masalah perkuliahan daring itu, salah satunya dengan mengeluarkan sarana pembelajaran baru bernama Lentera yang biasa diakses lewat Google. Sayang aplikasi tersebut dianggap belum mampu memenuhi mobilitas pendidikan tinggi.

Mardan menyatakan aplikasi Lentera masih akan dikaji, evaluasi penerapannya digodok. Hal utama yang harus dipunya adalah sertifikasi Internasional. Selain itu sosialiasi penggunaan aplikasi untuk pengguna Android, IOS dan Windows harus terus dimaksimalkan, serta jadi atensi semua pihak.

“Lentera harusnya mendapatkan perhatian utama karena merupakan milik UIN makanya harus dipatenkan, tetapi sebelum dipatenkan itu saya minta
kalau bisa perangkatnya berstandar Internasional,” jelas Guru besar Ilmu Tafsir, Fakultas Adab dan Humaniora itu.

Lanjut, Mardan mengaku dari sisi dosen, kuliah daring berjalan lebih lancar dibanding dengan tatap muka. Terbukti pada saat Rapat Pimpinan (Rapim)pada 5 Maret 2021 beberapa peserta mengusulkan kuliah daring tetap dipertahankan walaupun Covid-19 telah pergi.

“Perkuliahan daring sudah wajib hukumnya (ada atau tidak ada Covid-19), karena ternyata perkuliahan lebih lancar dari aspek kerajinan dosen. Malah ada anggota rapim yang minta kuliah daring lebih banyak dari tatap muka,” rencananya.

Menurut Mardan system perkuliahan akan dibagi dalam tiga sistem yakni delapan pertemuan Luring, enam pertemuan Daring, dan terakhir dua pertemuan di lapangan. Jika diterima maka sistem perkuliahan ini akan berlaku untuk setiap jurusan dan mata kuliah yang ada dikampus peradaban. Namun Mardan tak menampik jika persoalan kuota dan jaringan mahasiswa harus dipertimbangkan dengan matang agar perkuliahan daring dapat berjalan efektif dan efisien.

Lain halnya dengan Titah Nurul Lathifah Tahar, mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat semester satu ini mengaku kuliah daring kurang efektif. Baginyadalam perkuliahan ia sulit untuk menangkap materi perkuliahan, apalagi ia baru saja menduduki bangku perkuliahan tahun 2020 kemarin.

“Kuliah daring kurang efektif karena sering kali materi yang disampaikan Dosen, sulit bagi mahasiswa untuk memahaminya,” keluh mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ini.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Gian Arif, mahasiswa Ilmu Hukum semester lima ini juga membenarkan jika lebih sulit memahami materi perkuliahan dengan system daring.

“Dalam perkuliahan daring, jaringan dan kuota adalah hal paling penting, tak jarang kami mahasiswa terkendala dalam dua hal itu yang otomatis menghambat proses perkuliahan,” jelas mahasiswa asal mamuju ini.

Tak hanya mahasiswa, salah satu dosen Ilmu Komunikasi, Asni Djamerang menjelaskan proses pengajaran lebih efektif tatap muka karna pembinaan karakter mahasiswa dapat dilakukan jika perkuliahan secara langsung (luring).
“Saya pribadi untuk menilai mahasiswa harus ada Face to Face. Karenanya kalau berbicara komunikatif pasti lebih efektif tatap muka,” ungkapnya.

Lebih lanjut Asni megaku perkuliahan daring adalah solusi terbaik untuk melanjutkan proses pembelajaran ditengah pandemi Covid-19 ini, hanya saja kesadaran mahasiswa untuk belajar, aplikasi pembelajaran, dan kuota mahasiswa harus dipikirkan kembali.

“Hambatan tidak hanya psikologi, tetapi juga mekanisme seperti jaringan. Tak jarang banyak mahasiswa yang tidak ikut perkuliahan karena masalah jaringan atau biaya kuota, ” jelas dosen mata kuliah Public Relation ini.

Lanjut, menurut Asni aplikasi belajar pun harus dipilih kembali yang lebih efektif dan efisien bagi mahasiswa maupun dosen. Walau demikian baginya hal positif bias diambil dari perkuliahan dari semester kemarin.

“Dari perkuliahan daring satu semester kemarin juga memiliki dampak positif misalnya keahlian mahasiswa dan dosen di bidang IT lebih terpacu lagi,” pungkasnya.

Efektivitas Kuliah Daring

Sejak diterbitkannya Surat Edaran Rektor nomor B-809/Un.06.1/PP.00.09/03/2020 mulai di terbitkan pada 9 Maret 2020, seluruh aktivitas perkuliahan di dalam kampus resmi ditiadakan dan berganti dengan perkuliahan daring. Terhitung hingga hari ini, perkuliahan daring telah dilaksanakan selama satu semester. Dari hasil riset yang di lakukan oleh Litbang UKM LIMA Washilah, tentang efektifitas kuliah daring menunjukan bahwa kuliah daring kurang efektif di banding kuliah tatap muka.

Menjawab hal tersebut, Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama, Yuspiani menjelaskan kampus selalu berusaha memaksimalkan kuliah daring salah satunya dengan menyediakan platform Lentera

“Sebenarnya kita selalu berusaha memaksimalkan sistem perkuliahan daring ini, karna kedepan meskipun sebenarnya tidak pandemi, sistem daring ini bagus kita gunakan jika efektif, nah sekarang kita punya lentera nah itu yang kita maksimalkan,” tuturnya.

Lanjutnya, dengan adanya platform kampus tersebut yaitu Lentera dapat memudahkan dosen dalam memberikan meteri beserta pemberian tugas kepada mahasiswa, mereka yang mengakses dapat dipantau secara langsung melalui pusat pengoperasian platform tersebut.

“Lentera kan juga bisa saya pakai untuk kuis, dosennya tidak perlu lagi mencari dimna kelasnya, begitu dia buka ada semua daftar mahasiswanya dia tahu berapa mata kuliahnya dalam satu semester, ada berapa kelas,” ungkapnya.

Untuk kedepannya Yuspiani mengaku akan lebih meningkatkan pedoman untuk para dosen dalam memaksimalkan memakai lentera serta menambah fasilitasi layaknya zoom dan lebih memperkaya fitur-fitur baru nantinya.

“Kedepannya harus di ajarkan juga bagaimana dosen kita memaksimalkan Lentera ini.Dosen-dosen kita semuanya sudah diajarkan, sudah diberikan bekal tentang metode sistem perkuliahan daring,” pungkasnya.

 

Pengumpulan pendapat melalui pembagian kuesioner online ini dilakukan oleh Bidang Riset Divisi Litbang UKM LIMA Washilah pada 3 Januari 2020 sampai dengan 15 Januari 2020 dengan jumlah responden sebanyak 387. Responden merupakan mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang melakukan proses belajar dengan menggunakan sistem perkuliahan daring. Jumlah responden ditentukan dengan proporsional di setiap Fakultas, menggunakan metode ini dengan tingkat kepercayaan 95%, dan margin of error 5%. Meskipun demikian, kesalahan diluar pencuplikan dimungkinkan terjadi.

 

Tulisan ini telah terbit di Tabloid Washilah Edisi 113

Penulis : Nur Isna Mulyani Rasya, Ardiansyah, Agil Asrifalgi.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami