Kontradiksi Feminisme dan Budaya Patriarki: Agama Sumber Budaya Patriarki?

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh: Dian Nafiyanti

Feminisme sebuah istilah yang sudah tidak asing di telinga masyarakat, meskipun begitu Feminisme seringkali disalahpahami oleh sebagian besar orang. Sebelum lanjut ke Pembahasan, Penting untuk kita ketahui “Apa sebenarnya Feminisme itu dan Sejarah terbentuknya Feminisme”.

Dikutip dari IDNTIMES.COM Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik, jadi dapat kita simpulkan pengertian Feminisme adalah gerakan social yang bertujuan untuk memperjuangkan Kesetaraan Gender, yang mana hal ini bermaksud bahwa laki-laki dan Perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan Sosial Masyarakat (Society).

Feminisme berbicara tentang paradigma pemahaman yang komprehensif dengan Keadilan yang berbasis Gender. Berbicara tentang Sejarah Gerakan Feminisme, Pada tahun 1848 Elizabeth Cady Stanton bersama dengan Susan B. Anthony melakukan gerakan sosial yang memperjuangkan kebebasan dan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat dan hak suara perempuan dalam memilih yang dilakukan pada abad ke-19. Selanjutnya pada awal abad ke-20 muncul gerakan perempuan yang berideologi sosialisme yang dicetuskan oleh seorang Feminis dari Eropa yang bernama Clara Zetkins bersama dengan Emma Goldman dan Rosa Luxemburg.

Di Indonesia sendiri tokoh Feminis yang paling terkenal ialah R.A Kartini dalam Bukunya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang memberi semangat dan pemahaman tentang hak–hak yang seharusnya didapatkan para perempuan di Masa itu. Ketika hak pendidikan hanya dimiliki oleh Laki–laki dan keluarga bangsawan, hal ini pula yang mendorong R.A Kartini melakukan revolusi Pendidikan, dimana Laki–laki dan Perempuan berhak mendapatkan Pendidikan.

Nah, jika mengacu kepada Sejarah Gerakan Feminisme, dapat kita simpulkan bahwa Feminisme merupakan paham yang tujuannya positif. Dilain sisi ada banyak pihak yang merasa gerakan ini mengancam posisi Laki–laki, padahal sejatinya feminisme tidak hanya memperjuangkan hak Perempuan namun juga memperjuangkan hak laki–laki dan menghilangkan Stigma yang tidak benar dalam masyarakat. Hal ini kontradiksi dengan Budaya Patriarki yang hingga saat ini masih tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Mengutip dari HerStory.co.id Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang utama dan dominan kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.

Dalam domain keluarga, yang disebut ayah memiliki otoritas atas wanita, anak, dan properti. Beberapa masyarakat patriarkal juga bersifat patrilineal, yang berarti bahwa properti dan gelar diturunkan kepada keturunan laki-laki.

Secara implisit, sistem ini melembagakan aturan dan hak istimewa laki-laki dan menempatkan perempuan di bawah posisi laki-laki, dengan kata lain Budaya Patriarki sendiri merupakan system yang menempatkan Laki–laki dalam posisi yang lebih tinggi dari perempuan, Budaya Patriarki sendiri menganggap bahwa laki–laki lebih Superior daripada perempuan, dan laki–laki bisa mendominasi kehidupan sosial dalam segala aspek termasuk Politik bahkan keluarga.

Akhirnya muncul stigma-stigma seperti Laki–laki harus kuat, Laki–laki yang menangis adalah laki–laki yang lemah dan dianggap tidak Jantan, selain itu adapula anggapan jika laki–laki yang melakukan perawatan dan berdandan cenderung “tidak normal”, atau Perempuan yang harus memiliki sifat Pemalu, Anggun, dan Cenderung lemah.

Stigma seperti inilah yang coba dihilangkan dari masyarakat melalui Feminisme. Namun masih banyak orang yang menilai Feminisme sebagai suatu gerakan yang salah dan dinilai menganut paham Liberal, bahkan beberapa Aktivis dan Tokoh agama menentang Gerakan ini. Meskipun begitu masih banyak feminisme muslim terkenal yang memperjuangkan kesetaraan gender seperti Penulis asal Maroko Fatima Mernisi yang berhasil meraih penghargaan Nobel Peace Prize Shirin Ebadi dari Iran.

Ironis bukan, hingga saat ini perempuan masih ditempatkan pada Hierarki terendah, Di beberapa Negara terutama Asia seperti India praktik Patriarki masih sangatlah kental disana bahkan bisa saya katakan “Parah”, dimana Perempuan dianggap hanya sebagai alat untuk melahirkan keturunan, dan dapat diperdagangkan oleh Orang tua mereka sendiri dalam hal ini yang saya maksud ketika para Orang tua disana yang merasa berhak atas kehidupan putrinya dapat dengan bebas memaksa pernikahan yang tidak diinginkan sang Anak demi mendapatkan status dan Mahar.

Apa bedanya hal ini dengan perdagangan dan eksploitasi anak dibawah umur. Anak kecil yang seharusnya masih bermain dan memegang Boneka dipaksa memegang Pisau Dapur, anak kecil yang seharusnya masih berada dalam pangkuan orang tuanya dipaksa memikul beban dan tanggung jawab keluarga.

Di Negara India tingkat pernikahan dini masih sangat tinggi. Berbeda dengan anak laki–laki disana, sebuah keberuntungan jika terlahir sebagai anak laki–laki disana, karena anggapan bahwa anak laki–laki adalah Investasi besar dalam keluarga, yang bisa menjadi alat untuk mencari uang. Untuk itulah feminisme hadir agar kesenjangan sosial seperti ini bisa dihilangkan, feminisme juga memperjuangkan hak laki–laki, dimana laki–laki tidak wajib menjadi tulang punggung keluarga, Laki–laki tidak perlu dituntut untuk harus bekerja keras dan menghasilkan uang seperti menurut persepsi masyarakat. Laki–laki juga berhak menolak tanggung jawab yang tidak bisa dilakukannya. Begitupun Perempuan, perempuan berhak menolak pernikahan yang bukan keinginannya.

Selain itu salah satu faktor mengapa perempuan masih berada pada hierarki terendah karena pandangan masyarakat yang menganggap bahwa Perempuan tidak bisa menjadi pemimpin karena sifat perempuan yang cenderung lebih menggunakan perasaan daripada logika ketika mengambil keputusan, sedangkan laki–laki menggunakan Logika dan Pikiran saat mengambil keputusan. Satu lagi Stigma tidak benar yang dari Masyarakat kita.

Padahal yang sebenarnya adalah baik itu Perempuan maupun laki–laki mereka sama–sama menggunakan Perasaan dan logika mereka tergantung situasi yang ada di depan mereka. Tidak selamanya perempuan menggunaan perasaan ketika mengambil keputusan, Jika memang benar begitu maka Bu Susi Pudjiastuti selaku menteri Kementrian Kelautan dan Perikanan kemarin tidak akan berani menenggelamkan 40 kapal Pencuri Ikan di Natuna pada waktu itu jika mempertimbangkan Perasaan kasihan dan kemanusiaannya semata.

Masih kah kalian berpikir bahwa perempuan hanya mengambil keputusan berdasarkan perasaan mereka, Bagaimana dengan Kisah Kekaisaran Romawi yang menggerakkan pasukannya karena merasa terancam oleh sebuah Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Wanita bernama Ratu Zenobia.

Lalu benarkah Budaya patriarki bersumber dari Agama ? Apakah Agama Islam membenarkan Budaya Patriarki ?

Sebagaimana Yang tertuang dalam Al – Quran pada surah Al–Baqarah ayat 30  “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Khalifah pada surat tersebut bermakna menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya.

Al-Zamakhsyarî menafsirkan makna khalifah pada surah ini tidak hanya berarti Adam (mewakili laki-laki). Dalam Al Qur’an sendiri tidak pernah menegaskan bahwa hanya laki – laki yang bisa menjadi Pemimpin. Menurut ajaran islam sendiri seorang Pemimpin harus memiliki 4 karakteristik yakni Siddiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (Komunikatif), dan Fathonah (Cerdas).

Nah jika seperti itu, Konsep kepemimpinan dalam Islam dapat dilakukan oleh siapapun tidak dan tidak membatasi gender Baik itu Laki – laki maupun Perempuan. Lalu Dalam Al-Quran Surah An-Naml ayat 23, Allah berfirman “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar.” yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ratu Balqis yang mana pada masa kepemimpinannya Rakyatnya mampu hidup makmur dan sejahtera.

Dalam hal ini jika seseorang mampu, berkompeten, dan memiliki kapasitas dalam memimpin semua orang berhak memimpin dan dipimpin entah dia Perempuan ataupun laki–laki. Sampai sini Masih kah kalian berfikir bahwa Agama Islam mendukung Budaya Patriarki? Jawabannya Tidak, bahkan Prinsip Feminisme dapat menjadi titik temu dalam Teologi Islam yang berupaya menciptakan kehidupan yang adil dan setara antara laki-laki dan Perempuan.

Banyak sekali contoh kasus yang terjadi belakangan ini yang diakibatkan Budaya Patriarki yang masih ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Contoh Kasus pelecehan yang dialami oleh Seorang Wanita berusia 38 tahun yang menjadi korban pelecehan seksual di sebuah area Gang Perumahan yang dilakukan oleh seorang Pria pengendara Bermotor di Bilangan Kaliabang (Bekasi Utara).

Berdasarkan rekaman CCTV yang beredar Wanita itu menggunakan Jilbab Panjang berwarna Hitam membawa barang belanjaan di tangannya, sebelum akhirnya si Pengendara Bermotor ini datang dari arah berlawanan dan meremas Payudara si Korban. (sumber :Megapolitan.Kompas.com)

Perlu digaris Bawahi bahwa Perempuan bukanlah objek seksual dari Laki-laki, dan pandangan bahwa perempuan harus menutup aurat supaya terhindar dari pelecehan tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya masih banyak perempuan Di Luar sana yang mendapat perlakuan tidak senonoh. Pakaian tertutup bukan berarti para wanita sudah aman dari pelecehan, Sebaliknya para laki-laki harusnya bisa belajar memberi edukasi untuk diri mereka agar belajar menahan nafsunya, bukan hanya sekedar menyalahkan perempuan.

Feminisme juga memperjuangkan hak-hak Laki–laki dalam hal ini tuntutan bahwa Laki–laki harus kuat dan tidak boleh menangis adalah stigma yang salah. Baik Laki–laki maupun Perempuan semua berhak mengekspresikan Perasaan dan diri mereka sesuai dengan keinginan mereka.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi Semester III.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami