Tradisi Pabelu dan Rate di Malam Maulid Dusun Panaikang Selayar

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Google

Oleh: Sugiya Selpi

Tepat 12 Rabiul Awal tahun Hijriyah, Nabi Muhammad SAW lahir menginjakkan kaki di dunia. Dan hingga sekarang kelahiran nabi tauladan ini dirayakan sebagai wujud cinta kasih terhadap beliau.

Di Indonesia sendiri dimana memiliki beragam budaya, tentunya perayaan maulid nabi berbeda-beda berdasarkan kultural masing-masing. Umumnya semua ummat Islam melakukan peribadatan dalam mengekspresikan rasa cinta kasih nabi seperti salawat nabi SAW, berpuasa, pengajian atau tabliq Akbar dan lainnya yang sesuai syariat Islam. Namun, berbeda dengan perayaan maulid nabi di Dusun Panaikang, Desa Jambuiya, Kec. Bontomanai, Kab. Kep. Selayar.

Dusun Panaikang merupakan salah satu perkampungan yang memegang teguh adat istiadat leluhur sehingga sampai sekarang adat ini masih diberlakukan. Di Dusun Panaikang khususnya, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW memiliki ciri Khas tersendiri. Perayaan maulid dilakukan sehari dua malam. Malam pertama, diadakan sebuah adat perayaan biasa disebut dengan istilah Pabelu’. Pabelu’ adalah kegiatan dimana para gadis dikumpulkan dalam satu ruangan misalnya di lapangan atau gedung kemudian para lelaki memasuki ruangan tersebut dan memberi daun pandang ke para gadis untuk dipotong.

Pabelu’ ini dipercaya sebagai sebuah media pencarian jodoh sebab mempertemukan para lelaki dan para gadis. Dalam perayaan ini, para gadis menggunakan kostum Kebaya agar terlihat sopan sedangkan para lelaki menggunakan sarung sebagai kostum bawahan. Biasanya kegiatan Pabelu’ ini dilaksanankan dari jam delapan malam sampai jam empat subuh.

Malam kedua perayaan maulid nabi Muhammad SAW, tradisi yang dilakukan adalah membuat Nasi Ketan, istilah di kampung ini biasa disebut Songkolo. Songkolo yang jadi akan dimasukkan ke beberapa bakul yang nantinya akan disajikan dalam pesta inti perayaan maulid nabi. Biasanya sesuai tradisi, bakul yang terisi Songkolo ini dibawa ke Mesjid. Di Masjid inilah akan dilakukan ritual nyanyian biasa disebut Rate’.

Nyanyian berdasarkan dari tulisan kitab bahasa lontar. Yang menyanyi yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang tahu membaca bahasa lontar. Nyanyian ini mengandung puji-pujian kepada nabi Muhammad SAW. Setalah melakukan ritual nyanyian itu, bakul yang terisi Songkolo dibagikan kepada masyarakat yang turut hadir di tempat itu dan juga kepada sanak saudara.

Seperti itulah adat maulid nabi di dusun Panaikang. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada istiadat masih dipegang teguh masyarakat dusun panaikang.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami