Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Rappolemba

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc Pribadi | Sumarni R

Oleh: Sumarni R

Tepat hari kedua dimana peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal menjadi hal yang paling menonjol bagi umat Muslim yang dilakukan setiap tahun atau sudah menjadi adat istiadat.

Di Indonesia kita tahu bersama bahwa begitu banyak ragam budaya, contohnya saja tentang Maulid Nabi yang berbeda-beda setiap suku, ras, adat istiadat maupun agamanya. Namun, sangat berbeda perayaannya tepatnya di Desa Rappolemba Kec. Tompobulu Kab. Gowa.

Desa Rappolemba merupakan suatu pekampungan yang sangat memegang teguh jika berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasan-kebiasaan yang dari dulu sampai sekarang masih diberlakukan dan bisa dibilang sudah menjadi tradisi secara turun temurun.

Maudu’ nama lain dari Maulid di Desa Rappolemba, biasanya para masyarakat bergiliran merayakan di rumah masing-masing yang dimana pemilik rumah menyiapkan ratusan butir telur untuk di simpan di batang pohon pisang yang masih utuh dan yang berbuah. Kemudian, batang pohon pisang tersebut dihiasi bunga-bunga yang terbuat dari kertas minyak berwarna warni dan didekorasi semeriah mungkin agar anak-anak kecil tetarik dan memperlombakan nantinya disertai dengan cemilan.

Entah hal apa yang menjadi nilai utama dari tradisi tersebut, namun nampak jelas bahwa hal ini dapat menumbuhkan semangat dan rasa kekerabatan yang semakin erat sehingga turun temurun dilakukan oleh warga

Setelah syair Barazanji yang dilakukan oleh tiga sampai tujuh orang, anak-anak kecil mulai saling berlomba mengambil telur dan cemilan yang ada di batang pohon pisang, dan moment tersebut yang paling heboh, dikarenakan ada anak yang sampai menangis karena tidak kebagian telur dan juga ada anak dalam bahsa makassarnnya “Kella atau Cecceng”.

Lantas acara Maulid yang dilakukan di Masjid, sebagian orang yang ada di Desa Rappolemba menyiapkan bakul dan sebagian lagi hanya membawa makan berat untuk disajikan. Biasanya setiap perwakilan dimana terdapat tujuh Dusun yang ada di Desa Rappolemba masing-masing membuat bakul yang besar untuk diperlombakan dan bagi yang dapat juara akan dikasih hadiah oleh Bapak Kepala Desa.

Acara Maulid di Masjid juga dibarengi dengan Qashidah oleh ibu-ibu majelis Taklim sebagai salah satu bentuk memeriahkan acara.

Hingga dengan adanya acara Maulid Nabi yang di peringati tiap tahunya kita tetap ingat dan tetap bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW terus Tetap bersyukur karena masih bisa di pertemukan hari yang cukup di nanti oleh masyarakat Muslim.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami