Kekerasan Gender Berbasis Online Timpa Delapan Mahasiswi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | YayasanPulih.Org

Washilah – Waktu menunjukkan pukul 10.19 WITA, saat Siska (nama samaran) Mahasiswi UIN Alauddin Makassar menerima panggilan video dari nomor yang tidak dikenal. Layar gawai Siska terus saja berpendar-pendar. Itu adalah panggilan kedua yang dia abaikan.

Saat panggilan ketiga dari nomor yang sama (+6281543327***), Siska memutuskan menerima panggilan video itu karena menganggap penelpon tersebut ingin membicarakan hal yang penting.

Namun, panggilan video pada Jumat, 18 September 2020 pagi itu menjadi hari yang buruk bagi Siska. Si penelepon tanpa tedeng aling-aling memperlihatkan alat kelaminnya kepada Siska. Sontak Siska terkejut dan shock mematikan gawainya.

“Spontan ka matikan, mauka muntah. Terus langsung dingin tanganku, kayak traumaka,” keluh Siska.

Menurut pengakuan Siska, panggilan video dari nomor yang tak dikenalnya tersebut, tidak hanya terjadi pada dirinya. Sebelumnya, nomor asing yang mengaku atas nama Randi Ashari itu telah menghubungi enam orang.

Dalam rentang waktu sepuluh menit, pelaku yang mengaku atas nama Randi ini melakukan panggilan video secara acak. Keenam nomor itu tidak ada yang merespon panggilan Randi.

“Setelahnya saya angkat itu telfonnya, kagetka. Langsungmi saya matikan baru screenshoot nomornya dan sebar di grup ku. Bertanya ada yang kenal itu nomor atau tidak. Ternyata temanku juga di grup yang sama ditelfonki sama itu nomor,” ungkap Siska kepada reporter Washilah.

Setelah mencoba menelusuri melalui aplikasi pelacak nomor, ternyata nomor yang digunakan pelaku terdaftar sebagai nomor baru.

Teman-teman Siska yang tidak terima temannya dilecehkan secara online beberapa kali mencoba meneror nomor pelaku.

Berulang kali panggilan suara dan panggilan video dilakukan. Namun pelaku tidak merespon, hingga aktivitas terakhir pelaku terlihat menggunakan nomornya pada pukul 11.33 WITA.

Pukul 13.02 WITA, di tempat yang berbeda, seorang Mahasiswi kembali mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal (+6289601433***), Sang pengirim pesan memperkenalkan dirinya sebagai Wisnu.

Tepat setelah menyebutkan namanya, pukul 13.05 WITA, Wisnu mengirimkan sebuah video. Saat dibuka, video tersebut ternyata berisi rekaman video Wisnu sedang melakukan onani.

Dari total delapan korban, tujuh mahasiswi yang mendapatkan panggilan video, satu lainnya dikirimi pesan berisi video. Belakangan diketahui bahwa kedelapan korban ini terhimpun dalam satu Grup WhatsApp yang sama.

Siska menaruh curiga, pelaku yang mengaku atas nama Randi Ashari dan Wisnu merupakan orang yang sama. “Kayaknya orang yang samaji karena kalau aktif itu Randi, Wisnu tidak aktif. Begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Kejadian ini masuk dalam kategori Kekerasan Gender Berbasis online (KGBO) dengan bentuk sexting, karena pelaku memperlihatkan dan mengirim konten pornografi tanpa sepengetahuan korban. Dalam ilmu psikologi, perilaku dari pelaku ini biasa disebut dengan ekshibisionisme.

Penulis: Arya Nur Prianugraha
Editor: Rahma Indah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami