Masyarakat Papua Sering Alami Rasisme, Dema FAH Lakukan Diskusi Online

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab & Humaniora (FAH) melakukan diskusi online tentang masyarakat Papua yang sering mengalami rasisme, Kamis (11/7/2020).

Washilah – Masyarakat Papua sering mengalami tindakan rasisme, hal tersebut membuat Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab & Humaniora (FAH) mengadakan dialog online via WhatsApp, Kamis (11/7/2020).

Mengangkat tema “Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan masalah rasisme di Papua” , alasan diangkatnya tema tersebut yakni untuk mengurangi maraknya praktek rasisme terhadap masyarakat Papua, yang dinilai sangat tidak pantasn. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Dema FAH,  Wawan Harun.

“Terkait tentang pembahasan rasisme yang selalu menjadikan orang Papua sebagai objek dari rasisme merupakan suatu hal yang sangat tidak pantas,” jelasnya

Lebih lanjut mahasiswa yang akrab disapa wawan ini mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk membeda-bedakan manusia karena kita tinggal di tanah yang sama (Indonesia).

“Setiap manusia terlahir dengan berbeda beda budaya, bahasa, suku, maupun ras akan tetapi hal itu bukan berarti menjadi pembeda bagi manusia dalam hidup di tanah yang sama. Sejatinya apa pun warna kulit mau hitam atau putih kita tetap satu,” lanjutnya.

Sementara itu Mahfudz, Ketua Dema Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jayapura yang menjadi narasumber pada dialog tersebut menerangkan bahwa keadilan di Papua adalah sesuatu yang tidak bisa dikatakan tidak ada dan juga tidak bisa dikatakan ada, karena semua itu ditentukan oleh perasaan masing-masing individu.

“Berbicara keadilan ditanah Papua maka disinilah letak yang banyak menjadi perdebatan sehingga terjadilah permasalahan karena pada dasarnya adil dan tidak adil hanya perasaan yang merasakan. Jika ada yang bertanya adakah keadilan di Papua maka jawabannya ada dan sebaliknya,” terangnya.

Saat membahas mengenai rasisme di Papua, ia mengatakan hal tersebut berdasarkan perasaan masing-masing individu.

“Adakah rasisme di tanah Papua? Dalam hal ini saya tidak akan mengatakan tidak ada dan saya tidak akan mengatakan ada karena setiap individu memiliki pegalaman sendiri dan saya pribadi tergolong pada yang merasakan tidak adanya rasisme pada lingkungan yang saya tempati, kami di Papua selalu bergandengan tanpa melihat perbedaan, kami hidup rukun dan saling menjaga dan semua itu terlepas dari yang saya tidak lihat dan rasakan,” ungkapnya.

Diskusi yang dimulai pada pukul 19:31 WITA ini diikuti oleh 126 peserta dari berbagai elemen mahasiswa, baik dari UIN Alauddin maupun mahasiswa dari kampus lain.

Penulis: Ardiansyah
Editor: Rahmania

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami