Oleh: Hadziratul Qudsyah Kasim
Saya kurang lebihnya tersentil dengan salah satu ilustrasi karya seniman asal Moskow, Anton Gudim dalam akun instagramnya “@Gudim_Public”. Karya-karyanya memang dikenal dengan beragam ilustrasi yang terkesan nyeleneh, ‘dark’ dan sarkastik ini mampu mengumpulkan hampir satu juta follower!
Entah apa yang terjadi di ibu kota Rusia tersebut hingga ia selalu berhasil terilhami membuat karya-karya yang selalu ‘out of the box’ dan terkadang membuat kita heran sekaligus kagum.
Karya yang membuat saya tersentil adalah unggahan ilustrasi yang dimuat pada 28 Juni 2019 lalu dengan tidak diberi keterangan apa-apa oleh sang ilustrator adalah kumpulan gambar dengan jumlah 8 slide dengan tulisan huruf besar diawal slide “Exploring Instagram” by Gudim dengan kumpulan kotak-kotak kecil diatasnya yang memiliki tulisan berbahasa Inggris yang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah “Mengeksplor Instagram” ‘Gaya, Seni, Kecantikan, Perjalanan, Hewan-Hewan, dan yang terakhir Sains & Teknologi’.
Saya tidak menyarankan kepada anda yang memiliki paradigma, pandangan atau keyakinan yang lebih tertutup untuk melihat ilustrasi satu ini, tentu karyanya telah disesuaikan dengan moralitas umum barat dengan realita yang ada; sang ilustrator dapat dengan baik mengilustrasikan bahwa eksploitasi tubuh perempuan menjamur dalam segala bidang bahkan dalam ilustrasinya digambarkan hampir-hampir tidak masuk akal.
Penelusuran terpopuler terisi dengan hal-hal yang memang dicari oleh para pengguna Instagram namun kesemua bidang dibaluti nuansa erotis dengan menampilkan perempuan-perempuan berpenampilan terbuka sebagai model utamanya sehingga menjadi santapan empuk Gudim dalam membuat karya sindiran diatas.
Pasalnya, hal-hal tersebut yang awalnya hanya dilihat oleh mata kemudian diamini oleh pikiran yang mempengaruhi pandangan masyarakat secara umum yang kemudian membentuk masyarakat konsumtif dengan standar yang telah ditetapkan bahwa indah harus terbuka, cantik harus putih dan sebagainya, menjadi awal mula malapetaka bagi sebagian besar perempuan.
Para perempuan dihadapkan dengan penjajahan model baru dengan dieksploitasi secara besar-besaran yang ujung-ujungnya adalah memperebutkan pangsa pasar kapitalis dan diharuskan memiliki standarisasi yang rata-rata disebar oleh kaum pemodal untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini kemudian sedikit-demi sedikit menghancurkan keberagaman dalam perspektif anak-anak muda kita yang mana keberagaman seharusnya sudah menjadi sunnatullah untuk menjadikannya indah.
Realita dilapangan pun berkata demikian, sering kali kesetaraan dalam mendapatkan hak-hak yang seharusnya terpenuhi akan dipersulit akibat adanya hukum tak tertulis tentang satndar yang harus dipenuhi bagi kaum kapital, pada sistem, dan pada masyarakat.
Disinilah seharusnya peran ajaran Agama Islam yang mulia yang telah mengangkat harkat dan martabat perempuan sejak lama dengan risalah kenabian dengan tidak hanya memandang kecantikan fisikal namun juga kemuliaan akhlak, bahkan telah tercontohkan oleh para nabi dan ummahat dalam peradaban madani yang dibangunnya.
Setiap kaum ibu seharusnya diupayakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kesetaraan dalam segala aspek yang telah dicantumkan dalam Hak Asasi Manusia, tanpa adanya diskriminasi untuk mempersiapkan kaum ibu sebagai madrasah pertama bagi generasi mendatang.
Karena pada dasarnya semua orang akan setuju bahwa generasi terbaik datang dari ajaran-ajaran baik yang ditanamkan sejak dini yang kemudian menjadikannya landasan bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara yang ideal. Namun semua tak akan tercapai jika kita semua dan negara tak mampu menunjang persiapan untuk membentuk perempuan-perempuan tangguh.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Semester VIII (FDK)











