Penjara Itu Bernama Algoritma

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Dictio.id

Oleh : Arya Prianugraha

Apa yang terlintas pertama kali di pikiran ketika mendengar kata Mantan? Pemuda BUCIN mungkin menjawab, Mantan adalah orang yang pergi di saat kita lagi sayang-sayangnya, pergi dengan warisan kenangan dan luka yang amat-amat dalam.

Tapi, berbeda bagi pemuda yang hidup di tahun 80 an kata Mantan mungkin saja merujuk pada orang yang dilengserkan dari kekuasaannya setelah berkuasa 32 tahun lamanya dengan warisan karpet merah untuk investor, liberalisasi pendidikan, dan berbagai macam persoalan di segala aspek dengan kondisi yang mengibakan.

Apa yang terlintas pertama kali di pikiran ketika mendengar kata Media? seorang pemuja Kitab KBBI mungkin akan mengatakan, Media adalah alat atau sarana komunikasi seperti koran,majalah,radio, televisi, dan lain lain. Tapi lain cerita, ketika pertanyaan sama ditanyakan kepada orang yang sempat membaca pemikiran Chomsky, mungkin ia akan menjawab bahwa media adalah alat atau sarana komunikasi dan informasi yang sebelumnya sudah direkontruksi secara tertulis di ruang redaksi, berfungsi sebagai alat rekayasa opini dan alat pengontrol atas nama stabilitas suatu wilayah.

Pertanyaan yang berbeda ketika ditanyakan pada dua orang berbeda akan melahirkan jawaban yang tentu saja berbeda, sedangkan pertanyaan yang sama ketika ditanyakan pada dua orang yang berbeda belum tentu akan melahirkan jawaban yang sama. Seperti kata seorang kawan, bahwa setiap perkataan memiliki kepentingan. Dan tentu saja setiap orang berbeda kepentingan. Setiap orang berbeda, itu kalimat yang sering kita dengar dan bisa keluar dari mulut siapa saja.

Pemuka agama, politisi, juru bicara, atau siapapun itu. Secara sederhana perbedaan pemikran, pandangan, dan tingkah laku manusia dipengaruhi oleh dua aspek, dari dalam (Internal) dan ada pengaruh dari luar (External). Seperti contoh pada uraian di atas, pertanyaan yang sama ketika kita tanyakan pada dua orang berbeda. Sekalipun kedua orang itu saudara kembar, belum tentu akan menghasilkan jawaban yang kembar.

Walaupun dari segi biologis, struktur anatomi tubuh, dan semacamnya mereka kembar, tapi ada pengaruh dari luar yang membuat mereka berbeda. Misalkan, satunya pemuja Kitab KBBI, dan satunya Pembaca Chomsky sekaligus Pemuja kitab KBBI.

Di dunia modern ini, hampir setiap orang nyaris menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet. Bermain sosial media, bermain game, nonton, belajar, belanja dan berbagai macam aktivitas lainnya. Hal itu menjadi suatu kemudahan dalam menjalani hdup, tapi tidak disadari di beberapa hal sekaligus menjadi sesuatu yang berlawanan.

Internet memiliki sebuah algoritmanya sendiri. Seseorang yang suka nonton tutorial memasak di youtube, pasti beranda youtubenya akan penuh dengan konten tutorial memasak. Begitupun dengan orang yang suka nonton teori konspirasi, beranda youtube nya pasti akan penuh dengan konten teori konspirasi.

Demikianlah yang disebut dengan filter bubble, Algoritma yang mengurung kita atau lebih ekstrimnya memenjarakan kita pada satu bubble atau balon-balon tertentu. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, selain faktor dari dalam. Pikiran manusia, sudut pandang, dan tingkah lakunya dipengaruhi oleh faktor luar, dan faktor dari luar yang selalu bersinggungan dengan manusia di masa modern ini adalah internet.

Lalu apa yang salah dengan Filter Bubble? Filter Bubble mengurung kita dalam satu balon tertentu, membuat kita tinggal dalam dunia kita sendiri, bersama dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita dan membuat kita jarang bertemu dengan orang atau pemikiran yang berbeda dengan kita.

Dengan terkurung dalam satu balon kita hanya terpapar pada satu posisi yang sudah kita percaya dan menghilangkan posisi yang berlawanan. Filter Bubble mendorong terjadinya dua bias kognitif, yakni bias konfirmasi dan bias afinitas.

Bias konfirmasi adalah kecenderungan kita menganggap suatu informasi kita anggap kredibel apabila ia mendukung kepercayaan yang sudah kita pegang. Sementara bias afinitas, adalah kecenderungan kita menyutujui orang yang memiliki kesamaan dengan kita, entah itu ideologi politik, hobi atau agama.

Melalui filter bubble ini, kita mudah percaya dengan hoax dan cenderung fanatis. karena hal itu mendukung kepercayaan dengan kita, dekat dengan kita. Sebaliknya kita lebih mudah menolak sesuatu karena hal itu melawan kepercayaan kita. Sehingga muaranya adalah kita terpenjara. Kita tidak terbiasa hidup dalam pluralitas, menutup diri pada sesuatu yang berbeda dengan kepercayaan kita, selalu merasa supertiotitas, dan akhirnya di beberapa kasus mendorong tindakaan tindakan kampungan, seperti Prank sembako isi sampah, Razia buku kiri, Pembubaran diskusi, dan berbagai tindakan kampungan bin kolot lainnya.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Semester IV. 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami