Kupu-Kupu yang Bingung

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Kompasiana.com

Oleh : Ardiansyah

Saat itu pukul delapan kurang lima menit ketika mulket memarkir motor di tempat yang sudah seharusnya, seperti biasa sebelum meninggalkan tempat dan masuk ke ruang perkuliahan ritual sisir/merapikan rambut menjadi sebuah keharusan yang membudaya disebagian laki-laki modis hahaha… sisir belah dua ala Charli Van Hoten (vokalis grub musik ST12 yang kini berganti nama menjadi setia band).

Helai demi helai terus dirapikan, dengan mantra ludah di ujung jari membuat tampilan mulket menjadi semakin gagah saja (menurutnya dalam hati). Di belakang tempatnya berdiri tidak sengaja terdengar sekelompok mahasiswa yang tengah membahas isu Covid-19 yang akhir-akhir ini melanda hampir semua belahan dunia termasuk Indonesia sendiri. Dengan mata yang melotot dikemasi wajah yang serius, mereka tampak fokus dan benar-benar merasa resah dengan kondisi yang ada. Teori konspirasi, kritik pemerintah, serta nasib masyarakat menghangati pembicaraan mereka pagi itu.

Bagi mulket yang memiliki nalar kurang kritis, hal-hal seperti itu sangatlah membosankan dan tidak menarik untuk dibahas, sambil melangkah pergi dalam hati dia berkata “elleh belum tentu ketika jadi penguasa kalian akan seidela itu”. Di dalam kelas juga demikian, mereka yang aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan mengeluhkan hal yang sama namun tidak semua dari kami aktif di organisasi kemahasiswaan, maka dari itu tidak semua juga tertarik dengan pembahasan seperti itu.

Saat mereka memancing sebagian besar dari kami untuk ikut berdiskusi kami malah asik bermain hp dan melakukan hal-hal yang kami senangi, saat itu juga salah seorang dari mereka berkata “kalau kalian sebagai mahasiswa hari ini tidak resah lagi dengan kondisi sekarang, tidak resah melihat pemerintahan sekarang, dan tidak merah melihat rakyat yang semakin tertindas oleh kekuasaan yang tidak manusiawi ini, untuk apa kalian jadi mahasiswa?” mau menjawab apa ketika ditanya seperti itu? Jangankan beradu argumen, berbicara saja untuk membatah bahasa kami belepotan.

Begitulah kondisi lingkungan pergaulan mulket, sekarang semua semakin kritis saja kala nasip rakyat kecil terancan dengan adanya covid-19. Bagi mahasiswa seperti mulket yang tidak memikirkan tentang nasip masyarakat ditengah pandemi dianggap tidak berguna, rugi menjadi mahasiswa dan bahkan ada beberapa yang menganggapnya benalu yang mending tidak usah menjadi mahasiswa saja.

Kritis dan universal menjadi salah satu dari banyak dasar pemikiran yang dimiliki mahasiswa-mahasiswa aktivis kampus, memiliki pemikiran yang terbuka menjadi hal yang ingin mereka tularkan kepada mahasiswa lain.

Selepas kuliah seperti biasa rutinitas mahasiswa dengan jenis seperti mulket ini jika tidak pulang ke kos untuk tidur, ya ke perpustakaan mengerjakan tugas. Saat akan melangkah keluar gedung perkuliahan, terlihat seseorang berambut gonrong tersenyum dan menghampirinya. Dia adalah Aldi teman seangkatan yang terkenal sebagai aktivis di Fakultas.

Aldi : eh… mau kemana?

Mulket : mau pulang, kebetulan kuliah sudah selesai

Aldi : kuliah, pulang, kuliah, pulang… bagaimana bisa kau menjadi mahasiswa yang bermanfaat kalau kesibukanmu hanya itu?

Mulket : biarlah… toh aku juga tidak tertarik untuk ikut-ikutan hal-hal yang biasa kau lakukan.

Aldi : nah kalau pemikiranmu hanya sebatas itu lantas masih pantaskah kau disebut mahasiswa?

Mulket : Kau sendiri bagaimana? Perkuliahanmu saja berantakan, nilaimu banyak yang E.

Aldi : itu semua kulakukan karena sibuk berorganisasi dan membantu teman-teman di jalan, berdemonstrasi memperjuangkan hak-hak rakyat.

Mulket : berarti tidak ada salahnya dong, ketika kamu menjalankan satu kewajiban mahasiswa, aku juga menjalankan kewajiban yang lain.

Aldi : memang duduk dan menjadi budak dosen dengan tugas-tugasnya yang tidak masuk akal menjadikanmu seseorang yang pantas disebut sebagai mahasiswa?

Mulket : kamu sendiri bagaimana? memang dengan meninggalkan perkuliahan dan mengkoleksi nilai-nilai eror juga menjadikanmu pantas disebut sebagai mahasiswa?

Aldi : sudahlah untuk apa juga kujelaskan padamu yang kerjaannya kuliah pulang kuliah pulang saja.
Sambil berlari aldi meninggalkan mulket, mulket berteriak dan bertanya

Mulket : mau kemana, perkuliahanmu kan dimulai sebentar lagi?

Aldi : kuliah tidak penting, mending saya pergi aksi di depan rektorat!

Tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinga mulket, ya suara itu adalah suara perutnya yang mulai kelaparan hehehe… memang sudah waktunya diberi asupan. Dia kemudian memutuskan untuk mampir di kantin dulu mengisi perut. Di kantin mulket bertemu dengan Aji seniornya yang sudah enam tahun berkulaih dan terancam akan di DO jika tahun ini tidak selesai.

Aji : eh… mulket…

Mulket : siap senior!

Aji : dari mana?

Mulket : dari fakultas senior, baru saja selesai kuliah.

Aji : oh iya, jangan malas kuliah ya, nanti kamu seperti saya.

Mulket : loh… kakak kan mantan ketua organisasi, banyak ilmu, pegalaman organisasi dan berkegiatan juga banyak, kan bagus kalau saya bisa seperti kakak.

Aji : ya… karena itu juga aku selesainya lama. Seandainya dulu aku lebih rajin masuk kuliah nilai ku tidak akan tertinggal.

Mulket hanya mengangguk dan seolah merasa aneh dengan pernyataan yang baru saja ia dengar, seakan merasa aneh karena kak Aji dan Aldi merupakan mahasiswa yang sama-sama aktif di banyak organisasi, mereka hanya beda semester saja.

Aji : saya duluan dulu ya mul, mau kuliah dulu perbaikan nilai hahaha…

Mulket : siap senior!

Dengan lahapnya karena memang sedang lapar bukan karna masakannya enak juga, mulket meyantap makanannya tanpa henti seolah-olah sudah satu minggu tidak makan. Dari sudut kantin terdengar suara samar memanggilku, mul… mul… ketika kulihat ternyata dia adalah kak Ardi ketua Himpunan Mahasiswa di Jurusanku.

Ardi : sediri saja makannya?

Mulket : iya kak, teman-teman sudah pulang duluan.

Mulket : kakak dari mana?

Ardi : baru-baru habis aksi di depan Rektorat.

Mulket : oh… iya kak tadi Aldi juga bilang sih, memang ada aksi apa?

Ardi : permohonan kebijakan bantuan kepada mahasiswa.

Mulket : Bantuan apa itu kak?

Ardi : kampus kan minggu depan akan ditutup karna corona dan perkuliahan kita saja di semester ini baru berusia dua minggu lantas diwacanakan kampus mau melakukan perkuliahan secara daring memalaui media online, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa kampus akan memfasilitasi mahasiswa dalam bentuk kuota internet misalnya. Kan kalau begitu UKT yang kita bayar semester ini bisa dikatakan rugi.

Mulket : oh iya juga sih kak, pantas tadi Aldi memilih tidak masuk kuliah katanya “mending ikut aksi”.

Ardi : hahaha… bagaimana ya, itu sih tergantung masing-masing saja. Karena kalau ikut aksi cuman buat gaya-gayaan ya percuma juga nanti ditanya akar masalahnya terus cuman diam kan bodoh juga. Kamu sendiri kenapa tidak ikut aksi?

Mulket : hehehe… kebetulan tadi ada kuliah kak (memberi alasan pasaran yang memang menjadi alasan level 1 dikalangan mahasiswa)

Ardi : kuliah toh… tidak salah juga sih, toh itu hak kamu juga. Kalau kamu beranggapan bahwa aksi itu tidak cocok atau hanya membuang waktumu ya itu pilihanmu, saya tidak berhak juga memaksakan apa yang saya pahami masuk di otakmu untuk kamu pahami juga.

Mulket : hehehe… mungkin begitulah kak pikiran saya, dan itu juga sudah tertanam dipemikiran saya. Tapi apa itu salah? Soalnya tadi Aldi kayak nggak terima gitu sama cara pikirku yang begini-gini saja.

Ardi : gimana ya, sebenarnya hak kamu untuk memilih apa yang ingin kamu lakukan. Kalau jiwamu memang tidak cocok dalam hal pergerakan dan keorganisasian tidak bisa dipaksakan juga, toh buat apa menjalani sesuatu kalau kamu tidak merasa nyaman dengan hal itu sementara ada hal lain yang jelas-jelas membuatmu nyaman.

Mulket : tapi kata Aldi mahasiswa tidak ada gunanya jadi mahasiswa kalau cuman kuliah, pulang, kuliah, pulang saja kerjanya.

Ardi : hahaha… bahaya juga Aldi, sebenarnya kalau saya sendiri tidak suka memaksakan orang untuk mengikuti apa yang saya pahami ya karena kembali lagi saya yakin pikiran, niat, dan tujuan orang berbeda-beda. Kalau dibilang menjadi mahasiswa seperti kamu tidak ada gunanya ya keliru juga, soalnya dengan kamu aktif berkuliah mengkoleksi nilai yang bagus dan tugas-tugas kamu penuhi secara disiplin kan bentuk dari sikap yang kamu ambil untuk membantu dirimu sendiri dan membahagiakan orang tuamu, jadi tidak ada yang salah dengan itu. Namun ketika kamu pergi untuk aksi dan membela kepentingan bersama, disitu kamu tidak hanya membantu dirimu sendiri tetapi juga membantu ratusan bahkan ribuan orang yang merasa akan disengsarakan oleh kebijakan-kebijakan tertentu. Jadi pilihannya diskala kegunaanmu sih, mau berguna untuk diri sendiri dan keluarga atau berguna untuk banyak orang. Hehehe tapi itu urusanmu sih, aku cuman berusaha membuka pola pikirmu.

Mulket : waduh… mau bilang apa lagi ini kalau begini hahaha…

Ardi : hahaha… kuliah saja yang rajin kalau itu membuatmu nyaman. Kalau begitu saya ke fakultas dulu ya, ada rapat dengan pengurus himpunan.

Mulket : oh iya kak, hati-hati.

Mulket sedikit merasa tercerahkan, lega dan merasa aneh disaat bersamaan, bagaimana tidak ternyata ada orang yang mampu mengerti dengan pemikirannya. Selepas makan Mulket seperti biasa langsung menancap gas dan pulang ke kos-kosannya.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Semester VI.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami