Jangan Mudik

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc Pribadi | Muhammad Aswan Syahrin

Oleh : Muhammad Aswan Syahrin

Tak terasa, Ramadan 1441 H sebentar lagi berlalu. Bulan yang penuh berkah kali ini sungguh besar ujiannya. Pandemic Global Covid 19 yang melanda negeri ini terus berlanjut hingga merusak sendi-sendi kehidupan. #dirumah aja membuat silaturahmi tatap muka semakin jauh.

Biasanya, jelang lebaran kita disibukkan dengan pemberitaan media tradisi mudik. Puasa dan lebaran dikampung halaman adalah cita-cita semua perantau, rehat sejenak dari kepadatan kerja sehari-hari untuk beristirahat. Selain itu, tentunya mereka ingin berkumpul bersama keluarga melepas rindu setelah sekian lama mencari nafkah ditempat perantauannya.

Tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan bagi mereka yang ingin mudik, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan bahkan menghalalkan segala cara untuk menuntaskan rindu itu.

Hal itu nampak sekarang, ditengah situasi yang mencekam pemerintah mengeluarkan himbauan agar tidak Mudik. Tapi, banyak yang tidak mendengar, mereka yang sedang mudik sekarang ada yang menaiki mobil Pick Up berpura-pura menjadi muatan bahan pokok, ada juga pemilik berpura-pura mobilnya rusak sehingga menyewa mobil derek.

Fenomena mudik menjelang lebaran di Indonesia ini memang cukup unik karena jarang sekali ditemukan di negara-negara lain meski mayoritas penduduknya juga beragama Islam.

Namun kali ini berbeda, Ramadan 1441 H harapan bertemu keluarga tercinta, terutama dengan orang tua kita hanya sebatas mimpi. Bukan tanpa alasan, badai Pandemic Global Covid 19 yang terus menerus menghantui dunia.

Wabah penyakit asal Wuhan China itu sangat ditakuti manusia karena telah menyebabkan kematian. Tercatat Jumat 15/5 pukul 12.00 WIB. ada 490 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total ada 16.496 kasus Covid-19 di Indonesia sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. 3.803 dinyatakan sembuh sementara 1.076 meninggal dunia.

Penyakit ini, bukan pertama kalinya terjadi. Di zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat juga pernah mengalami musibah wabah penyakit. Seperti yang terjadi di Kota Madinah tahun ke-6 Hijriyah, kaum muslim Madinah terkena wabah penyakit tho’un (sejenis wabah penyakit kolera). Namun, Allah Ta’ala menjaga Madinah berkat doa Rasulullah SAW. Pertistiwa wabah tha’un di Madinah hanya terjadi sekali saja.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu (RA), wabah penyakit tho’un juga pernah menjangkiti negeri Syam. Dalam peritiwa itu sekitar 20.000 orang lebih meninggal dunia. Kisah ini diceritakan dalam Hadis Shahih Muslim.

Wabah penyakit Tha’un juga pernah terjadi pada masa Ibnu Zubair, yaitu pada bulan Syawal tahun 69 Hijriyah. Dalam kejadian itu ribuan orang meninggal dunia.

Ketika menghadapi penyakit itu, Rasulullah SAW mengeluarkan sabda “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.’ (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Said).

Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal itu terdapat dalam hadits “janganlah yang sakit dicampur baurkan dengan yang sehat,” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Dengan demikian wabah penyakit menular dapat dicegah dan diminimalisir.

Tak hanya itu, pada zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Saat itu Umar sedang dalam perjalanan ke Syam (Syuriah) lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit. Umar pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kisah itu diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amir.

“Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Untuk itu, mari kita mendengar perintah Rasulullah SAW ini untuk kepentingan bersama. Jangan mudik adalah salah satu kontribusi nyata Anda membantu petugas yang berjaga digarda terdepan melawan Covid 19. Bukan tanpa alasan, jangan sampai kalian niatnya baik bertemu keluarga tapi diperjalanan kalian mendapat penyakit sehingga menularkan virus Corona di tempat kalian lahir dan dibesarkan. Menahan mudik lebaran adalah salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid 19.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Semester VIII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami