Herd Immunity imbas Hard to Manage?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Prevention.com

Oleh : Nur Isna Mulyani Rasya

Bulan suci Ramadan sudah berada dipekan terakhirnya, tapi tampaknya Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Skenario awal untuk membuat kurva datar dengan “di rumah saja” tak berhasil. Bahkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang susah payah pemerintah daerah dapatkan persetujuan agar menekan laju penyebaran Covid-19 dianggap tak memberikan dampak yang signifikan.

Jalanan mulai ramai, orang-orang berlalu lalang dengan santainya kesana kemari, acara buka bersama di restoran diadakan, bahkan belum lama ini santer dalam pemberitaan Bandara Soekarno Hatta disesaki oleh pengunjung hingga penutupan restoran cepat saji pertama di Sarinah menjadi pusat keramaian, padahal kurva belum datar, pertambahan kasus positif belum lagi menurun.

Tampaknya 3 bulan “di rumah saja” sudah membuat sebagian besar manusia muak, sehingga kembali ke kehidupan keramaian. Ramai di media sosial foto dan video tenaga kesehatan sambil membawa kertas bertuliskan “Indonesia? Terserah. Suka-Suka Kalian”, seakan tanda menyerah akan keras kepalanya manusia-manusia dikeramaian itu.

Hingga pada satu titik dimana Pemerintah mengeluarkan kebijakan “New Normal”. Dilansir dalam CNBC Indonesia (08/05/2020), Kementerian Perekonomian mengeluarkan skenario pemulihan dari Pandemi bahwa Mall akan dibuka pada 8 Juni 2020 dan sekolah mulai dibuka pada 15 Juni 2020, bahkan pegawai BUMN dibawah usia 45 tahun dibolehkan kembali bekerja setelah cuti Idul Fitri.

Sehingga banyak yang beranggapan bahwa skenario ini merupakan pintu masuk diberlakukannya metode “Herd Immunity” setelah kebijakan sebelumnya dirasakan tak berhasil. Lalu, apa itu Herd Immunity?

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sally A Nasution, SpPd, K-KV, FINASIM, FACP. dalam Kompas.com (12/05/2020) mengemukakan bahwa Herd immunity adalah upaya menghentikan laju penyebaran virus dengan cara membiarkan imunitas alami tubuh.

Sehingga, daya tahan atau imunitas atau antibodi diharapkan akan muncul dan virus akan reda dengan sendirinya. Lalu dilansir dalam Al-Jazeera (20/03/2020) herd immunity mengacu pada situasi dimana cukup banyak orang dalam suatu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Metode ini dapat dilakukan 2 cara, yakni dengan vaksin atau membiarkan hampir 70% populasi terinfeksi sehingg antibodi terbentuk secara alami. Dari dua cara tersebut, hanya cara kedua yang dapat diterapkan di Indonesia.

Dapat diprediksikan pula dengan cara ini malah akan meningkatkan tingkat kematian, apalagi bagi berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan yang dapat memperberat resiko infeksi virus yang semakin parah. Dilansir dalam Science alert, diperkirakan tingkat kematian akibat dari Covid-19 sekitar 0,51%.

Jika 70% yang dibiarkan terinfeksi di seluruh populasi dunia seperti pada cara kedua tadi, maka akan menembus angka 7% kematian disetiap negaranya, bahkan Indonesia diperkirakan lebih banyak lagi karena jumlah lansia lumayan banyak. Dapat diperkirakan ini dapat menimbulkan kematian massal.

Sehingga Immunity Herd ini mendapat pertentangan dikalangan ilmuwan. Tapi ada juga negara yang berhasil menerapkan ini, di Swedia contohnya yang tak menerapkan lockdown melainkan Herd Immunity, dan hasilnya dapat dilihat dalam hitungan minggu saja.

Tapi kembali lagi pada kondisi negara kita, dimana lansia dan orang yang berpenyakit bawaan tak bisa diremehkan jumlahnya, dengan diterapkannya Immunity Herd ini kita bagaikan “dilepas ditengah hutan”, lalu apa yang terjadi? Hukum rimba lah yang berlaku, yang kuat yang bertahan.

Tak dapat dibayangkan penumpukan pasien di rumah sakit, tenaga medis yang semakin berkurang karena resiko terpapar, kematian massal sehingga bisa saja kejadian di Ekuador, mayat dibiarkan tergeletak begitu saja di jalanan terjadi di negara tercinta.

Ini bukan tentang konspirasi elite dunia ataupun provokasi menolak skenario yang telah pemerintah sebelumnya, hanya sekedar mengingatkan bahwa Pandemi ini tak bisa diremehkan. Nyawa ribuan orang berada diambang kematian, nasib tenaga kesehatan tak bisa dianggap sepele lagi, jutaan pegawai dirumahkan, tak dapat dihitung lagi tetesan air mata duka kehilangan orang tersayang yang bisa saja diantara mereka adalah tulang punggung bagi keluarganya.

Kita semua bosan, kita semua muak menatap tembok yang itu-itu saja selama 3 bulan belakangan, tapi apakah rasa bosan mampu mengalahkan jiwa kemanusiaan?

*Penulis Merupakan Mahasiswi Jurusan Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)  Semester IV.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami