Dibalik Redaksi UKM LIMA

Facebook
Twitter
WhatsApp
Desain | Epi Aresih Tansal

Oleh : Epi Aresih Tansal

Tahun tikus logam, tahun yang perlu diwaspadahi kata para ahli astronomi Tionghoa dan para taipan china, perkiraan bencana dari elemen air yang sulit terlihat dan logam besar bertaburan semantik nyata. Sehingga tahun tikus logam diramalkan akan mengisahkan kemelut dan bencana. Sebagai penganut mazhab jurnalisme yang tentunya mendahulukan indera dan data, mitos hanyalah sebatas berita angin yang lebih kepada takhayul, namun kepala ini mulai separuh membenarkan setelah pandemi covid-19 menjarah kebebasan penduduk bumi dan megeroyok lajur ekonomi dunia.

Ditahun tikus logam ini, Washilah menajajaki usia 35, umur yang matang dan dewasa sebagai saksi atas perjalanan kampus peradaban dari masa IAIN hingga menenteng nama UIN Alauddin, telah bersetia dengan tugasnya mengabadikan moment demi moment yang kemudian menjadi guratan sejarah dalam bentuk aksara. Semakin dewasa, Washilah lembaga si kuli tinta mulai menghijau dengan kelembagaan yang menyerupai korporasi media sungguhan, mengadopsi dua mekanika kerja industri pers yang tidak hanya seputar keredaksian namun juga manajemen kerja layaknya perusahaan.

UKM LIMA adalah nama besutan kanda Yusuf AR (pimpinan umum periode IAIN Alaudddin) kepada Washilah diakhir tahun 1999, kala itu yang menjabat sebagai pimpinan umum Washilah, kanda Arum Spink yang sekarang aktif sebagai legistalor provinsi fraksi partai Nasdem. UKM LIMA adalah nama korporasi, dan Washilah adalah brand media dari UKM LIMA yang mengoperasikan dapur redaksi dan kerja-kerja jurnalistik, seperti PT. Kompas Gramedia yang memiliki Koran Kompas, kompas.com, kompastv dan Gramedia, begitu pula dengan Bakrie brothers yang memiliki viva group (tvOne, viva.com, dan antv).

Penambahan nama ini sebagai bentuk eksplanasi agar memakasimalkan potensi dalam diri setiap kadernya, LIMA adalah singkatan dari Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin untuk melengkapi identitas Washilah. “Mengapa LIMA ?” karena angka sempurna untuk mengisahkan filosofi Washilah yang ditakdirkan berjodoh dengan angka lima. 25-05-1985 bagaiamana, tanggal yang cantik untuk sebuah dies natalis bukan.

Itulah mengapa saat berpose groupie para kader UKM LIMA selalu menampakkan jari-jemari lima seolah aksen high five kekinian, jodoh dengan angka lima tidak berakhir disitu, sejak didirikan Washilah belum memiliki ruang redaksi lembaga yang menentu, para kader dan pengurus masih nomaden beraktivitas sebagai lembaga sikuli tinta, dan kala itu masih mengandalkan fasilitas milik Rektorat, hingga pada tahun 1995 di zaman Saleh Putuhena sebagai Rektor ke-6 IAIN Ujung Pandang, mulailah disepakati adanya ruang redaksi yang nyaman untuk Washilah.

Sederhananya tugas Washilah semenjak hadir menyapa civitas kampus adalah  mewadahai, Washilah berarti “penyampai” dari asal kata bahasa arab Washola, Yashilu, Washilatan yang artinya media, jempatan dan wadah. Nama Washilah juga diambil dari singkatan nama ketiga pendirinya, Waspada Santing, Hasanuddin, dan Laode Arumahi. 35 tahun Washilah sedikit banyak telah menorehkan sajak-sajak berharga, dari mengosek secarik koran hingga mengayuh virtual pertama kali dijagat maya sebagai washilah.com pada tahun 2009.

IAIN Ujung Pandang resmi berganti status menjadi UIN Alauddin Makassar sejak 10 Oktober 2005 dan  men-download diri sebagai kampus peradaban, perlu ditelisk bahwa tanpa media peradaban tidak akan pernah ada. Ibnu Khaldun (ilmuwan muslim abad pertengahan dimasa Dinasti Abbasyiah) dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah menuruturkan bahwa peradaban tanpa media adalah kemustahilan. Peradaban ditandai dengan komunitas yang giat kreatif mengembangkan teknologi dan pengetahuan, sedang cikal bakal teknologi menurut Professor Klaus Schwab adalah dimulai dari titik awal dimensi komunikasi. Washilah telah menjalankan tugas menjadi wadah lebih dari 3 dekade silam untuk menengahi dan mewadahi pesan-pesan antara mahasiswa dan birokrasi.

Dari balik redaksi, beberapa hal yang tidak tercover dalam berita yang ditayangkan, akan sedikit diwejangkan sebagai mantan repoter Washilah, yang juga pernah terseok-seok dicekik deadline. Sependek ingatan satu demi satu memori liputan menyemburat di kepala mengisahkan jenaka, haru dan menegangkan saat mengabadikan aksi-aksi yang sensitive berujung brutal, bentrok mahasiswa, dan beberapa peristiwa yang jauh dari kondusif. Tidak ada pilihan selain menjadi berani, sebagai bentuk tanggungjawab sebab fakta harus dikabarkan, belum lagi terror dari nomor nomor yang tidak dikenal bernada pesan mengancam keselamatan.

Keadaan lapangan yang membawa langkah bertemu dengan berbagai perangai dan latar belakang berlaianan, mengasah kepiawaian reporter untuk mengorek informasi dengan baik dari setiap narasumber, juga kesempatan langkah bisa bertemu Rektor, menyapa, mengobrol dan berbicara empat mata, yang tidak semua mahasiswa bisa. Satu persatu semua itu muncul dalam etalase ingatan sembari menatap kartu pers berjuntai kenangan yang sekarang tergantung digangang pintu lemari buku.

Berembuk dalam rapat redaksi mengosek isu-isu yang dijadikan headline, adalah cerita dibalik redaksi selanjutnya, berbagai pertimbangan impact dan effect dibicarakan di sini. Pemberitaan merupakan denyut nadi sekaligus nyawa dari Washilah, meski tidak di topang dengan peralatan memadai seperti ketersediaan kamera, mic, dan tripod sebagai inventaris lembaga, bukan hal yang melegitimasi pilihan untuk terus terbata-bata dalam kekurangan, entah sampai kapan sikap nina bobo Rektorat yang selalu melagukan nanti bila kembali ditagih janji.

Kalau ada yang respect sudah pasti ada haters yah teman-teman… hehehehe meminjam pepatah lama, bahwa keberentungan yang berlebihan selalu mengundang dengki, sedikit ingin meluruskan kesalah pahaman perihal pengumuman UMM yang tiap tahunnya hanya di muat di tabloid Washilah. Adu jontos di kolom komentar sosial media tidak terelakkan, sikap sinis, nyinyir, mengutuk dan menghujat adalah lalapan netizen menjelang pengumuman UMM di forum facebook UIN Alauddin (fuam).

“Cek fakta dulu baru ngomong” menghujat tanpa tahu menahu perihal sebab dibalik itu bukanlah ciri orang yang beradab, pembaca yang terhormat…. saya ingin sedikit menjelaskan bahwa dana yang diberikan pihak rektorat kepada UKM LIMA hanya mampu men-cover biaya cetak, sedangkan kebutuhan yang lainnya pengurus UKM LIMA berusaha sebisa mungkin untuk menutupi, teman-teman pasti bisa mengkalkulasikan berapa rupiah untuk biaya normal operasional juga anggaran kegiatan setiap tahunnya. Teman-teman yang pernah berdarah-darah mengumpulkan rupiah untuk lembaga tercinta agar tetap hidup pasti tahu betul mentok diangka rupiah berapa agar bisa normal beroperasi. Apa iya masih mau satiris di kolom kometar selepas ini?

Sebagai Lembaga Pers Mahasiswa, kader Washilah juga ikut meramaikan industri media yang menggurita. Presiden Amerika Serikat ke-3 Thomas Jefferson berkata bahawa, Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan, dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial. Lain lagi dari Karni Ilyas jurnalis senior yang  sedari dulu malang melintang di dunia jurnalistik Indonesia, berawal dari Tempo, liputan6 SCTV hingga dimandat sebagai pimpinan redaksi tvOne sekeligus kepala BIN Indonesia, bang Karni berkomentar  “tugas pers serupa dengan hewan penjaga”. Happy milad UKM LIMA semoga segala hal yang baik selalu meyertai… jangan lupa diri media itu anjing penjaga (watchdog) demokrasi, bukan humas, apalagi pujangga istana, idealisme harga mati.

*Penulis Merupakan Alumni Mahasiswi Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami