Oleh: Muh.Akbar
Salam kesalamatan, semoga semesta tetap setia melihat jiwanya terenggut secara perlahan untuk mengakhiri akhir dari kehidupan, seorang pemikir pernah berkata bahwa “Pekerjaan yang membonsankan ketika dalam sehari kita tidak berpikir” kurang lebih seperti itu, maka dari itu marilah kita bersama-sama berpikir tentang siapa jiwa kamu sebenarnya.
Aktualisasi diri, secara harfiah dapat dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah bagian utama untuk mengenal siapa jiwa kita yang sebenarnya, siapa yang selalu berbicara tiap hari di jiwa kita, dan siapa saya, cukup sakral , namun secara ilmu pengetahuan aktualisasi diri kemudian tertuang dalam filsafat dan juga ilmu tasawuf, mempunyai subtansi yang sama namun metedologinya yang berbeda.
Akan tetapi, menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) tertuang bahwa aktualisasi berarti “Pengembangan pontensi” dimana ketika seseorang mempunyai bakat maka perlu pendalaman untuk menguasainya, kurang lebih seperti itu, namun pada dasarnya secara universal semua manusia dapat beraktualisasi diri dengan kata lain, entahkah bakat yang ingin kita temukan dan menjadikan sebagai aktualisasi diri ataukah dengan menemukan hakikat siapa jiwa kita sebenarnya.
Mengapa mencetuskan pilihan menyoal aktualitas diri dengan menyulamnya dengan filsafat dan tasawuf ?baiklah sedikit mari kita silik filsafat sederhana untuk mengeluarkan kita dari kegabutan, dari kebekuan berpikir dan dari beban pikiran unfaedah yang mengungkung inci tiap inci kepala kita yang #dirumahaja.
Filsafat jelaslah sebuah usaha memperoleh perspektif menyeluruh, mencoba menggantungkan kesimpulan ilmiah dari pengalaman kita “manusia” yang berafiliasi menjadi pandangan dunia yang konsisten. Betapa filsafat telah berhasil mengubah pola pikir umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris.
Bahwasanya rasio menjadi tolak ukur pengetahuan mencari suatu kebenaran, stop sampai disini. Karena tulisan ini tidak ingin membahas lebih jauh sampai mendeskriminasi kebenaran Tuhan dan beberapa alirannya yang karut marut memusingkan, filsafat bukan melulu menyoal perihal keberadaan Tuhan.
Namun saya dengan tulisan yang sangat sederhana ini mengajak agar kita menilik filsafat pada diri kita sendiri. Tersadarkah?hampir setiap waktu kita berfilsafat walau dengan cara yang sangat sederhana dari mempertanyakan hakikat sesuatu, dan terus terusan mencari jawabannya dengan sebuah ego “segala sesuaru memang punya makna atau esensi.”
Ketertarikan manusia pada kebahagiaan tidak dapat dipungkiri, tetapi ketertarikannya terhadap keindahan pun tidak dapat diabaikan dari kehidupan manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menangkap dunia sekitarnya sebagai suatu yang sangat mengagumkan. Mampu menangkap keindahan yang tertuang di balik benda itu sendiri sehingga benda atau alam sekitar itu menjadi mengagumkan.
Sebagai salah satu dari dimensi kemanusiaan, adalah intelektual itu merupakan dimensi yang melahirkan dorongan-dorongan suci untuk mencari kebenaran. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan untuk mengetahui dan menalar hakikat akan sesuatu.
Filsafat yang selalu menjadi endemi elit saat menjadi mahasiswa adalah dikotomi rasa dan rasio yang berusaha diselaraskan, melihat lingkungan akademis yang kritis, sangat asik rasanya melihat pemandangan provokatif filsafat di benak para mahasiswa, betapa jiwa-jiwa mereka ini meraung menggebu, mencari kebenaran dan keadilan dengan sebuah esensi parifukasi ilmu, apik dengan nuansa yang penuh semangat berapi-api, banyak majelis-majelis ilmu yang berseleweran di lingkungan kampus entah itu duduk bersila beralaskan rumput beratapkan pohon rindang ataukah lesehan di teras teras gedung kampus, duduk berjam-jam menyoal Tuhan, negara dan segala pembahasan berat lainnya… huft santai sedikit cuk…. Melibatkan hati dalam berpikir, itu bukan kelemahan dan kesalahan, mari memetik hikmah ajaran sufisme untuk menyeimbangkan, tidak ada salahnya bukan? ….
Bila diibaratkan manusia, filsafat tentang berusia senja, bahkan aktualitasnya dimonopoli oleh peradaban barat sejak abad 16 masehi. Kajian metafisika, apalagi tentang manusia dari hakikatnya tidak lagi menarik para ilmuan untuk membahasnya, bagi mereka ini kuno dan mundur August Comte, seorang imuawan sosiologi beranggapan bahwa sanya sejarah pemikiran manusia mitologi, metafisik, dan empiris, tidak lagi dijadikan satu-satunya ukuran ilmu dan validitas keilmuan.
Namun tidak menjadikan filsafat benar-benar ditinggalkan, fisafat tetaplah menjadi candu, karena esensinya manusia selalu berusaha menyelaraskan dirinya rasio dan batinnya dalam mencari alasan dan sebuah hakikat dalam menapaki kehidupannya.
*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Hadis Fakultas Ushuddin, Filsafat dan Ilmu Politik (FUFP) semester IV











