Milad HMI dan Kader yang Tidak Tahu Diri

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | A. Ikhsan

 

Oleh : A. Ikhsan

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang akrab disebut Hijau Hitam dengan motto yakin usaha sampai (YAKUSA) berdiri pada dua tahun setelah Diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia atau tepatnya 5 Februari 1947.

HMI yang awalnya hanya buah pemikiran Lafran pane dan mulai ditawarkan di kampus-kampus Islam Yogyakarta karena keresahannya dengan apa yang dia alami di Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) yang tidak memasukkan warna agama. Kemudian dengan keyakinannya tentang usaha yang pasti sampai maka lahirlah HMI.

HMI Pada awalnya hanya ada 3 cabang dan terus dikembangkan dan akhirnya bisa tersebar keseluruh Indonesia. HMI besar tidak mudah seperti mengucap singkatan nama organisasi ini.

Ditengah perjalanan HMI bukan perkara yang mudah bahkan HMI harus melewati fase-fase yang sulit dari fase konsolidasi spiritual, ABRI, tantangan dan pengembangan. Tentunya HMI melewati kekerasan Fisik dan pernah menjadi korps mahasiswa yang siap berperang, karena itulah HMI dikenal sebagai organisasi yang menghimpun kader-kader militan.

Sejarah juga mencatat bahwa kader HMI pernah terlibat dalam pergerakan Kemerdekaan Indonesia untuk ikut dalam jajaran kemiliteran seperti sosok Letjend. Ahmad Tirtosudiro, kemudian komitmen terhadap perjuangan bangsa kembali dibuktikan oleh HMI ketika terjadi peristiwa G.30 S PKI yang pada saat itu mereka akan merebut kekuasaan dengan cara inkonstitusional, para aktivis HMI dari pusat maupun daerah menggabungkan diri melalui KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa). Seperti sosok Mar’i Muhammad, Fahmi Idris dan kawan-kawannya ikut andil membubarkan PKI.

Nah, setelah tahu sejarah ilmiah berdirinya HMI terus bagaimana menggerakkan sejarah itu?. 73 tahun sudah berdiri HMI dan dikenal sebagai organisasi mahasiswa Islam yang menjunjung tinggi lima kualitas insan citanya mempunya misi sebagai kader ummat dan bangsa. Apakah hari ini kader HMI masih layak disebut kader ummat dan bangsa? Jawabannya ada pada diri setiap kader yang mengisi himpunan ini.

Jikalau kader HMI hanya mengisi hari lahir HMI dengan hura-hura dan kesenangan maka penulis menganggap gagal. Tidak mudah untuk disebut kader ummat dan bangsa dan tidak mudah mengimplementasikan misi itu. Maka dari itu tentunya kader harus memahami apa itu HMI dan sudah jelas dalam anggaran dasar HMI Bab II pasal 3 bahwa HMI berasaskan Islam.

Kader HMI bisa disebut kader jikalau ada sesuatu yang melekat pada diri seorang kader yaitu menjaga independensi sebagai kader dan menampilkan lima kualitas dan lima ciri khas kader insan cita. Apa lagi HMI di anugerahi buku saku yang lahir dari buah pemikiran Cak Nur yang sebagai nilai-nilai dasar perjuangan. Maka dari itu apa lagi yang menjadi acuan dari HMI?.

Maka hari ini, hari dimana kita mengenang dan mengingat sejarah berdirinya kita meski merenung bahwa tentang HMI adalah tentang pergerakan dengan mengedepankan nilai. Maka untuk kita renungkan hari ini kita terlalu cepat menjudge diri sebagai kader tapi tindakan diluar dari pada ciri khas insan cita itu.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah HMI yang bernafaskan Islam itu adalah wadah dimana diri setiap kader bebas memakai ideologi? atau HMI kita adalah wadah untuk menjunjung tinggi satu cita cita mulia dan bisa kita sebut itu sebagai ideologi HMI.

Karena problematika hari ini adalah kita menyebut diri HMI tapi tindakan diluar dari HMI menjadi keras tanpa tata nilai itu bukan HMI. Perlu dipahami Ayahanda Lafran Pane menyerahkan jabatan Ketua Umum setelahnya semata-mata karena ingin membesarkan HMI tapi apakah hari ini begitu? Tentang itu biarkan diri kita masing masing renungi.

Penegasan itu perlu dan kita harus menjaga karena orang eksternal HMI melihat HMI dari kadernya maka tentunya kita menjadi kader harus bergerak searah nafas perjuangan Islam dan tetap menjadi kader ummat dan bangsa.

Tentang Indonesia kita berani mengatakan itu juga tentang HMI. Tentang Islam tanpa embel-embel warna keislaman seperti apa intinya tetap pada Al-Qur’an dan hadist Dan tentang kedepannya itu ada di tangan kader HMI. Jantung HMI ada pada kader maka dari itu untuk melihat HMI panjang umur dan tidak ada matinya mari kita hidupkan dengan mengkontrusksi atau menggerakkan sejarah Itu.

HMI sebagai tempat pembinaan, aktualisasi potensi mahasiswa islam, dalam konteks saat ini sudah seharusnya melakukan pembenahan diri jika HMI ingin tetap sebagai Harapan Masyarakat Indonesia karena Masa depan HMI adalah masa depan bangsa Indonesia.

Tulisan hanya sekedar pengingat. Penulis pun masih butuh banyak pelajaran dan perenungan karena tentang hidup yang tak direnungkan tak layak untuk dijalani Dan tentang apa yang kita yakini di usahakan sampai mati.

Selamat memperingati hari lahir himpunan Mahasiswa Islam yang ke-73

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Semester IV.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami