Jadi, ini Ditanyakan ke Siapa ?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Andi Rini Sulestiani.

 

Oleh Andi Rini Sulestiani

Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, salah satu kampus Islam terbaik di Indonesia, kampus terluas kedua di Makassar setelah Universitas Hasanuddin (Unhas). Kampus yang unggul karena memiliki latar belakang agama yang diyakini soal akhlak tak perlu lagi diragukan. Semenjak kuliah di UIN pada tahun 2015 banyak perubahan luar biasa yang terjadi, mulai dari bangunan-bangunan kos yang bertambah, pohon-pohon yang berkurang, jalur kampus yang berubah, regulasi aturan pimpinan kampus, tak lupa jajaran mobil baru di parkiran gedung Rektorat.

Serta pelarangan jam malam, tarif kampus serta Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) cleaning service (CS). Isunya hanya ada satu cleaning service perfakultas, saya mendadak bertanya, banyak CS perfakultas saja bapakku tercinta (Rektor UIN) terkadang masih memasang muka kusut di setiap jum’at memeriksa fakultas yang masih kelihatan kotor, terlebih jika hanya satu CS, saya tidak membayangkan bagaimana rupa fakultas dan muka para penyidak kebersihan. Masalah CS hanya masalah baru yang minta diselesaikan, kabar tarif kantin juga masih belum selesai, harga sewa yang mencapai dua kali lipat tidak jelas, anggarannya mau kemana. Kalau harga sewa naik SPP mahasiswa bisa turun?

Kalau pace-mace menjerit karena harga sewa, otomatis mahasiswa akan tercekik karena harga makanan yang tidak lagi menjadi sahabat, mie instan akan senantiasa menjadi kawan atau mungkin ini hanya alibi agar mahasiswa menjadi bodoh dan malas karena sering mengonsumsi mie instan sehingga tak lagi mengkiritik kampus lebih banyak, tapi ku fikir ini salah, aktivis kampus meskipun makan indomie yang salah tidak akan menjadi benar malah akan semakin kritis karena tidak kenyang, guyonan sekarang sih bilang “Kamu rese kalau lagi lapar”.

Jadi harusnya jangan bikin makanan tambah mahal nanti para aktivis kelaparan dan tambah garang pak, jadi yah mending sewa tarif kantin difikir dululah kalau mau dinaikkan daripada saling lempar ini tanggung jawab bagian ini, bagian itu yang ujung-ujungnya bilang “Coba deh tanyakan yang berwenang kami cuman ikuti perintah”. Persoalan kampus akhir-akhir ini membingungkan, kampus tidak lagi fokus membentuk akhlak yang akhir-akhir ini menjadi masalah, malah fokus memikirikan bisnis yang transparansi, keuntungannya tidak jelas dikemanakan. Lantas masalah ini mau ditanyakan ke siapa? Ketika pimpinan yang harusnya bertanggungjawab saling melempar, masa iya ke jajaran mobil dinas baru di parkiran Rektorat?

 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami