Aku selalu suka suara senyummu, yang didengar oleh rasaku , itu menenangkan.
Saat lekukan di bibirmu mulai nyamankan rasa, penatku tak pernah kujama lagi.
Ku lihat air yang keluar dari pori-pori mu langsung kau usap, seakan menandakan itu bukti bahwa lelah seharusnya disyukuri.
Sampai pada pikiran bertanya pada raga, kenapa kau terlalu sombong untuk bergerak? Hanya dapat melihat dia dengan keriputnya.
Dan rasa bertanya pula, kenapa hanya aku yang kau munculkan? Aksimu mana? Terdiamku, seharusnya memang bukan dia lagi, tapi lagi-lagi lekukan di bibirnya seolah berucap, aku belum selesai.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).











