Aliansi Mahasiswa UIN Melawan Takdir Gelar Aksi Lewat Panggung Ekspresi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Terlihat sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Melawan Takdir kembali menggelar aksi Panggung Ekspresi sekaligus Lapak Baca, terhadap Penolakan Beraktivitas Malam. Bertempat di lapangan takraw kampus II UIN Alauddin Makassar. Kamis (5/12/2019).

Washilah – Berbeda dengan bentuk aksi sebelumnya, Aliansi Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Melawan Takdir mendirikan panggung ekspresi sebagai aksi Penolakan Beraktivitas Malam dengan semboyang “Dengan menolak redup, kami ada dan akan berlipat ganda.” Bertempat di lapangan takraw kampus II UIN Alauddin Makassar. Kamis (5/12/2019).

Sebelumnya, diketahui bahwa aliansi ini juga telah melakukan aksi massa demonstran, namun kemudian pimpinan universitas tidak memberikan respon.

Salah satu mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) yang juga selaku Humas dalam aliansi ini, Eca mengungkapkan tujuan panggung ekspresi yang berbentuk lapak ini guna mengumpulkan kembali kekuatan untuk melakukan aksi.

“Kita sedang mengumpulkan kekuatan kembali untuk melakukan aksi tuntutan di depan rektorat, dengan cara mengadakan Panggung Ekspresi sekaligus membuka Lapak Baca ini,” tuturnya.

Disamping itu, mahasiswa FAH lainnya jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Iyat menyampaikan tanggapannya terhadap aksi yang berbentuk panggung ekspresi ini.

“Dengan adanya aksi ini, tanda bahwa kami terus mempresur setiap mahasiswa untuk menuntaskan tuntutan aktivitas malam ini sampai ke rektorat, meskipun aksi ini tidak seberapa membantu namun kami tetap akan mengadakan konsilidasi untuk mencari cara melakukan aksi lebih baik kedepannya,” tegasnya.

Lanjut, ia juga mengaku menolak pelarangan aktivitas malam yang dikeluarkan oleh rektor karena membatasi kreativitas mahasiswa

“Tolak jam malam karena sudah jelas universitas negeri patutnya mewadahi setiap mahasiswanya untuk melahirkan pemikiran-pemikiran dan karya-karya yang kreatif, jadi aturan yang dikeluarkan oleh Rektor itu memang telah membatasi kreativitas mahasiswa itu sendiri,” tambahnya.

Penulis: Aulya Febrianti & Mutmainnah S Sabrah (Magang)
Editor: Dwinta Novelia

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami