Skripsi Instan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Rahmawati Latief

Oleh: Rahmawati Latief

Seminggu belakangan ini saya disibukkan dengan dialektika yang serius sekaligus beraroma kemarahan antara pembimbing, penguji dan mahasiswa. Apa pasal? akar masalahnya karena skripsi yang ditulis buru-buru alias instan. Saya dan Ketua Jurusan benar-benar meluangkan banyak waktu memoderasi persoalan ini. Pelik memang, tapi menyisakan sejumput hikmah yang berarti.

Seyogianya skripsi adalah karya ilmiah dijenjang S1 yang harus dikerjakan sungguh-sungguh karena berbasis riset ilmiah. Sejatinya pula skripsi adalah kolaborasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa meski secara akademik, penentu baik atau tidaknya skripsi tetap terletak di tangan mahasiswa.

Saya banyak menemukan model mahasiswa yang menyusun skripsi apa adanya, malas membaca, enggan menuruti saran dosen pembimbing dan pengujinya, tidak punya nafas panjang untuk bertarung dengan analisa ilmiah plus literatur ilmiah. Buruknya lagi, manajemen waktu yang amburadul, sehingga riset pun terkatung-katung. Banyak yang menunggu deadline akhir yudisium dan bergegaslah mereka menyelesaikan riset dengan durasi waktu yang sangat sempit. Bagaimana mungkin kualitas skripsi bisa tercapai jika waktu pengerjaan dikerjakan dengan durasi yang abnormal? Akhirnya bisa ditebak ujung ceritanya: banyak yang menempuh jalan pintas yang merupakan penyesatan akademik.

Sebagian faktor juga disebabkan karena kesibukan dosen pembimbing dan kompetensi dosen pembimbing yang kadang-kadang tidak merata. Tetapi apapun gaya atau model konsultasi dosen pembimbing, mahasiswa tetap bertanggung jawab penuh atas karya akademiknya untuk memenuhi syarat kelulusan sebagai sarjana. Kalaupun ada masalah dengan dosen pembimbing, maka konsultasi bisa dilakukan dengan pihak pimpinan jurusan untuk memoderasi.

Mahasiswa harus memiliki passion yang kuat terhadap karya ilmiah akhirnya. Suka atau tidak suka, dia akan hidup bersama dengan skripsinya berbulan-bulan. Tanpa cinta, maka saya menyangsikan skripsi itu berakhir dengan baik. Itulah sebabnya salah satu indikator pemilihan topik (selecting problem) calon peneliti harus memiliki ketertarikan yang kuat dengan isu yang dipilih. Tidak hanya berhenti di situ, sang calon peneliti pun harus menguasai metodologi dengan baik.

Bercermin pada model pembimbingan saya kepada mahasiswa bimbingan. Saya selalu mengatakan diawal pertemuan kualitas skripsi anda sangat ditentukan oleh literatur ilmiah yang cukup, kekuatan analisa ilmiah dan kemampuan menguasai metode penelitian. Selain itu sikap-sikap seperti pantang menyerah, tidak suka mengeluh, suka menaklukkan tantangan dan fokus merupakan sikap utama yang wajib untuk dimiliki. Kadang-kadang saya berpetuah dengan ucapan, “Jadikan skripsi anda sebagai masterpiece yang istimewa di jenjang S1.”

Tidak mudah memang membentuk anak didik untuk mencintai dunia riset yang menantang di tengah-tengah kerasnya teriakan atau usulan membuat alternatif lain, tugas akhir selain skripsi. Jika pun jurusan menyediakan alternatif seperti produk karya, itupun tetap harus berbasis riset.

Dengan demikian, menjalani riset secara baik adalah keniscayaan. Saya hanya meminjam kalimat Kurt Lewin seorang ilmuwan Psikologi Sosial yang mengatakan “No research without action, No action without research.”

Ini menunjukkan betapa pentingnya posisi riset dalam kehidupan manusia.

*Penulis merupakan Sekretaris Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami