Mi Instan, Makanan Kegemaran Mahasiswa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi Mi Instan (Kompas.com)

Washilah – Indonesia adalah negara kedua dari Tiongkok paling banyak mengonsumsi mi instan. Menurut data World Instant Noodles Asosiation (WINA), konsumsi mi instan di tanah air pada 2018 mencapai 12,52 miliar bungkus.

Sejak mengalami krisis beras pada akhir 1970-an industri mi instan mulai merambah di Indonesia, hingga kini tetap menjadi idola sebagian mahasiswa.

Makanan instan ini biasanya sebagai makanan pengganti nasi. Selain dikenal karena praktis, mi instan juga digemari karena rasa gurih yang dapat memanjakan lidah kata Mahasiswa Kesehatan masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Nur Fauziah Auliyah.

“Ahh pokoknya delicious enak dan praktis, ditambah banyak tugas jadi malas masak, makanya mi instan menjadi alternatif,” beber yang akrab disapa Uchi, saat ditemui di Rumahnya Jalan Karungrung Raya Kota Makassar.

Hampir setiap hari Uchi melahap mi, baik kuah atau goreng. Dengan tambahan telur ceplok, sosis, bakso, sayuran, cabe rawit, ataupun nasi putih.

“Hampir setiap hari disaat kondisi keuangan lagi menipis,” bebernya.

Selain persoalan rasa, ia mempunyai alasan doyan melahap mi instan karena harganya yang terjangkau. Bagi Uchi, tidak ada satu minggu tanpa mencecap gurihnya Indomie goreng. Walaupun ia mengetahui kandungan gizi mi instan sangat sedikit dan tentu tidak sehat jika dikonsumsi secara rutin.

“Indomie tidak sehat? konspirasiji itu, kebanyakan pejabat negara waktu mahasiswa indomiji makanan pokoknya sampai sekarang masih sehat ji,” ucapnya.

Namun, lanjutnya, hal-hal semacam itu jadi pertimbangan kesekian, karena waktu yang padat dengan proses perkuliahan.

Menurut Dosen Ilmu Gizi

Rata-rata kalori dalam satu sajian mi terdapat 370 kilo kalori, cukup untuk energi karena penuh dengan dua centong nasi, kata Syarfaini M Kes Dosen mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi UIN Alauddin Makassar.

“Zat gizi yang dominan adalah karbohidrat, lemak, dan protein,” jelasnya.

Hanya saja dalam kemasan mi instan terdapat bahan pengawet Mononatrium glutamatmonosodium glutamat (MSG) yang berfungsi untuk menambah cita rasa, namun penggunaan MSG yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati dan otak.

“Kandungan MSG-nya yang tinggi dapat merusak kesehatan jika tidak menkonsumsi yang cukup, karena bisa menjadi pemicu kanker,” terangnya.

Lain lagi soal pewarna sintetik (buatan) yang memberikan warna kuning pada mi instan. Menurutnya, mengonsumsi pewarna tartrazin secara berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

“Efek sampingnya langsung seperti urtikaria (penyakit kulit), rinitis (hidung meler), asma, purpura (kulit lebam) dan anafilaksis sistemik (shock),” jelasnya.

infografik

Pada prinsipnya, tubuh membutuhkan gizi yang bervariasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari Makanan yang seimbang seperti sayuran, buah, dan lauk pauk yang berprotein tinggi, mengandung serat, vitamin, dan mineral yang bagus untuk tubuh, karena setiap hari tubuh membutuhkan tiga zat tersebut.

“Saya sering mengatakan kepada mahasiswa tidak dilarang konsumsi mi, yang penting jangan berlebihan minimal satu sampai dua kali dalam seminggu, itu pun dengan cara memodifikasi cara pengolahannya. Seperti membuang air masakan pertama, kemudian menambahkan telur dan sayuran pada saat pengolahan mie instan sehingga posisi mie instan bisa sebagai menu sementara,” terangnya.

Terakhir, ia menekankan mi instan bukanlah makanan seburuk yang dipikirkan, namun merupakan makanan yang cepat, enak, murah dan mudah. Hanya saja, mi instan tidak boleh dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Pengaruh untuk Psikologi

Selain kesehatan fisik, pakar kesehatan ternyata menemukan fakta mengejutkan dimana makanan cepat saji bisa memberikan efek buruk bagi psikologis seseorang. Dilansir dari website kesehatan di Indonesia yang menyediakan informasi kesehatan Doktersehat.com.

Makanan cepat saji bisa memberikan efek buruk bagi psikologis seseorang, khususnya mereka yang memiliki kecanduan pada mi instan.

Zat dari mi instan yang terus dikonsumsi memberi dampak buruk pada kesehatan, buntutnya beresiko terkena sindrom metabolik bahkan meningkatkan resiko terkena penyakit alzheimer dan juga depresi.

Minimnya kandungan vitamin dan mineral pada makanan cepat saji juga berpengaruh besar pada minimnya nutrisi baik bagi otak sehingga otak mudah mengalami kerusakan. Otak pun akan mengalami ketidakseimbangan hormon yang tentu saja bisa mempengaruhi banyak fungsi organ tubuh.

Di dalam mi instan, ada banyak kandungan pengawet dan pewarna selain kandungan lemak yang tinggi. Kandungan-kandungan ini bisa memicu perubahan psikologis layaknya emosi yang cenderung lebih labil dan merasa hampa dengan dunia nyata yang kini mereka hadapi.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang ketagihan makanan cepat saji akan merasakan ketidakbahagiaan dan ingin sekali kehidupan kembali layaknya saat masih kecil. Selain itu, banyaknya kandungan karbohidrat olahan dan asam lemak omega tiga akan memicu fluktuasi pada gula darah seihngga bisa memicu depresi, kecemasan, hingga mudahnya rasa lelah muncul.

Gangguan mental berikutnya yang bisa disebabkan karena konsumsi mi instan secara terus menerus adalah hiperaktif. Bahan pewarna dan pengawet layaknya natrium benzoat diyakini bisa memicu aktifitas tubuh yang hiperaktif, khususnya jika makanan cepat saji dikonsumsi anak-anak atau mereka yang masih berusia remaja.

Lain halnya dengan hasil penelitian The Scripps Research Institutes (TSRI)  La Jolla, Californi yang dilansir dari cnnindonesia.com. Studi yang dilakukan TSRI menemukan, ketika mengonsumsi makanan kaya gula dan lemak dalam jumlah cukup besar bisa merusak tubuh. Mi instan ini akan menyebabkan kebiasaan makan kompulsif yang berlebihan. Efeknya mirip dengan kecanduan narkoba.

Dalam studi lain dari Connecticut College, mengonsumsi makanan cepat saji menunjukkan aktivasi otak di pusat kesenangan. Efeknya bahkan lebih menyenangkan dibanding mereka yang mengonsumsi narkoba.

Penulis : Muhammad Fahrul Iras / Nur Isna (Magang)

Editor : Suhairah Rasyid

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami