“Matilah, Kau Penindas” Oleh: M. Shoalihin

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I M. Shoalihin

Di kota-kota besar
Di desa-desa sunyi
Manusia didominasi juga dihegemoni

Negara biru, kiblat kejayaan, klaim kemajuan peradaban, keuntungan tak terbatas dan kemenangan atas tangisan.

Beriringan dengan kelaparan, tangisan kebodohan, penggusuran untuk pembangunan.

Untuk apa? Sejahtera itu bagaimana? Kemiskinan itu mengapa?

Helai napas, senyuman, kesehatan, pengetahuan juga pendidikan didominasi oleh keuntungan sistem dan kebiadaban.

Kebudayaan, ketuhanan bahkan ranjang-ranjang dimanfaatkan.

Adakah jalan untuk lari dari kehidupan ini?

Bolehkah kami tak bekerja dan bisa meneguk teh hangat dengan gula yang tak dijual mahal?
Kami padi, yang disirami hama, dijatuhi harga.
Kami punya tanah tapi digadaikan untuk biaya pendidikan dan kesehatan.

Tuhan turunlah ke bumi, nenek moyang lindungilah kami, ranjang-ranjang hidupilah.do
Kami tak ingin hidup tapi di paksa membeli nyawa.

Nabi datanglah tunjukanlah kami jalan terang, bantu kami mengasah pedang, ajarkan kami membaca buku dan menertawai berita lucu yang sulit di pahami di televisi.

Matilah, hilanglah, hancurlah. Biarkan kemanusiaan hidup di bumi.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara Fakuktas Syariah dan Hukum (FSH) semester III.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami