Oleh: Askar Nur
“Tunjukkan padaku sebuah keluarga pembaca, dan aku akan menunjukkan padamu siapa yang menggerakkan dunia,” kiranya seperti itulah yang pernah dikatakan oleh Napoleon Bonaparte, sosok jendral sekaligus kaisar Perancis yang tenar. Perkataan demikian merupakan sebuah bukti betapa pentingnya buku untuk dihidupkan bersama dunia. Senada dengan hal itu, buku menjelma layaknya dunia kecil yang terbangun atas harapan besar bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia. Bersama buku, dunia akan bergerak maju dengan keramahannya. Pavel dalam novel Ibunda karya Maxim Gorky menunjukkan kebijaksanaannya dalam mengubah tatanan masyarakat tanpa melalui gerakan yang bernuansa kebencian, kemarahan dan kekerasan. Gerakan yang ia lakukan bersama kawan-kawannya adalah gerakan yang menitik-beratkan pada perubahan kesadaran melalui bacaan, diskusi dan penyebaran informasi.
Kehidupan bermasyarakat selalu dipenuhi dengan dinamika. Kondisi dan struktur yang timpang acapkali menjadi panorama tersendiri di dalamnya, salah satu contohnya adalah fenomena kemiskinan meskipun berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) sejak 1970 hingga 2018, tren angka kemiskinan cenderung menurun di Indonesia meski sempat naik di tahun 1996, 1998, 2002, 2005, 2006, 2013, 2015, dan 2017. Namun masalah kemiskinan tetap merupakan salah satu permasalahan genting yang menjadi core point masalah yang mampu mengganggu stabilitas pertumbuhan masyarakat. Kemiskinan tak akan mampu menciptakan sebuah perubahan yang signifikan melainkan kesadaran masyarakat akan kemiskinan yang mampu melakukan reformasi tatanan. Kesadaran akan lahir pada tubuh masyarakat melalui keberaksaraan (kemampuan membaca dan menulis). Hal demikianlah yang pernah ditempuh oleh Pavel sehingga melahirkan sebuah gerakan tanpa kekerasan. Fenomena ini mengingatkan kita pada sosok Mahatma Gandhi yang juga melakukan perjuangan tanpa kekerasan.
Pada tahun 1893, perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat terhadap masyarakat India, serta masyarakat kulit hitam di sana untuk melakukan tindakan non-kooperasi terhadap pemerintah Afrika Selatan sehingga menyulut semangat Gandhi untuk melakukan sebuah perjuangan. Gandhi menempuh jalan penumbuhan kesadaran sebagai bentuk prinsip perjuangan sehingga melahirkan sebuah gerakan kreatif seperti pemogokan dan mampu mengintervensi kebijakan pemerintah setempat.
Beberapa bukti perjuangan tersebut menggambarkan kepada kita bahwa kemampuan melek aksara mampu mengubah lajur sebuah masa ke arah yang lebih baik. Penciptaan sebuah peradaban yang ideal tidak terlepas dari pada kecakapan membaca dan menulis oleh manusia yang bernaung di bawahnya. Di Indonesia, kabar seputaran menurunnya minat baca masyarakatnya acapkali dikabarkan oleh beberapa lembaga survei. Hal demikian merupakan sebuah sinyal lemah yang harus segera diantisipasi. Meskipun pemerintah menyadari akan hal tersebut sehingga memutuskan untuk membangun sebuah gerakan melalui beberapa program kerja, seperti peningkatan mutu perpustakaan. Namun langkah demikian belum terlalu massif dan kondusif, persoalan peningkatan mutu perpustakaan yang masih berkutat pada wilayah yang bersifat teknisi dan administratif.
Perpustakaan di berbagai wilayah utamanya di perguruan tinggi yang ada di kota-kota besar hampir semuanya dilengkapi dengan fasilitas yang terbilang mumpuni seperti perpustakaan yang dilengkapi wifi gratis untuk mempermudah akses infomasi bagi pengunjung. Hal demikian sangatlah bagus namun kebanyakan pengunjung menjadikan perpustakaan bukan lagi sebagai ruang untuk mencicipi beberapa koleksi buku melainkan sebagai ruang untuk menikmati wifi gratis dan berselancar di akun media sosialnya hingga bermain game online. Perpustakaan dikunjungi bukan lagi menjadi arena pertarungan gagasan melainkan pertarungan tim dalam game online.
Perpustakaan yang diwacanakan sebagai lokomotif penopang sebuah peradaban yang tentunya hidup dengan nuansa ilmu pengetahuan. Pelajar, mahasiswa, akademisi bahkan masyarakat umum mampu mengaksesnya tanpa hambatan untuk menikmati jajanan ilmu pengetahuan yang disediakan oleh perpustakaan. Sementara kenyataannya, masih banyak (bahkan terbilang semua) perpustakaan di perguruan tinggi memiliki jam operasional tertentu. Perpustakaan umum di sebuah perguruan tinggi seharusnya mampu diakses 24 jam atau setidaknya sampai pada jam 12 malam. Hambatan pada wilayah aksesnya menjadikan perpustakaan condong eksklusif sehingga wacana inklusi sosial di tubuh perpustakaan masih sebatas gagasan nilai yang belum berimplikasi pada prakteknya.
Hal demikian didukung pula oleh segenap pustakawan atau mereka yang bertugas melayani para pengunjung perpustakaan yang pada dasarnya, bukan hanya sekedar melayani para pengunjung namun juga seharusnya menjadi teman diskusi sekaligus memberikan rekomendasi buku yang menarik untuk dibaca oleh para pengunjung. Oleh karena itu, untuk mewujudkan perpustakaan sebagai penopang peradaban maka dekonstruksi kondisi seperti yang tergambar diatas menjadi keniscayaan sehingga mampu mewujudkan perpustakaan yang inklusif.
*Penulis merupakan eks Ketua Dema Universitas UIN Alauddin Makassar periode 2018











