UIN Alauddin Tak Ramah Pejalan Kaki

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sejumlah karya dipamerkan di bahu jalan dalam Kampus II UIN Alauddin Makassar. Senin (23/10/2017).

“Di pintu masuk kan sudah ada, nanti mahasiswa akan menyebar ke fakultas masing-masing, penambahan trotoar juga akan mempersempit jalanan, kalau kita matikan taman, bunga juga tidak bagus, tapi untuk ke depannya akan tetap diprogramkan,” Kepala Bagian Umum, Fatahuddin.

Washilah-Dalam Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan jalan, lebih jelas disebutkan pada pasal 131 poin pertama “Pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung berupa trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain”.

Aktivitas mahasiswa notabenenya berjalan kaki yang hampir dilakukan setiap hari di lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar, akan tetapi fasilitas yang disediakan oleh pihak kampus untuk pejalan kaki tidak memadai.

Seperti yang diketahui, pedestrian hanya dibangun di sepanjang jalan gerbang masuk saja, tidak dibangun secara menyeluruh di tiap-tiap jalan. Padahal, pengadaan pedestrian yang memadai menjamin keselamatan para mahasiswa yang berjalan kaki.

Senada dengan itu, mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Najma mengeluh karena tidak adanya fasilitas seperti trotoar yang menyebabkan pejalan kaki harus berdampingan dengan motor selain membahayakan juga terkadang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti jalan berlubang, kurangnya drainase.

“Karena tidak ada jalur pejalan kaki, kadang terkena air comberan oleh pengendara motor, pernah tanya senior yang sudah lulus katanya
dari dulu sampai sekarang pun tidak ada pembangunan,” jelasnya, Kamis (16/05/2019).

Berbeda dengan Kabag Umum, Fatahuddin, menurutnya pejalan kaki di UIN Alauddin Makassar masih terbilang sedikit dan penambahan trotoar hanya akan membuat jalan semakin sempit.

“Di pintu masuk kan sudah ada, nanti mahasiswa akan menyebar ke fakultas masing-masing, penambahan trotoar juga akan mempersempit jalanan, kalau kita matikan taman, bunga juga tidak bagus, tapi untuk ke depannya akan tetap diprogramkan,” ungkapnya, Rabu (08/05/2019).

Sedangkan menurut eks Ketua Jurusan Teknik PWK, Nursyam menjelaskan pengadaan pembangunan pedestrian ini genting untuk pejalan kaki dan psikologi mahasiswa. Ia menerangkan bahwa kondisi eksisting kampus peradaban dikelilingi banyak kos-kosan yang 100% mahasiswa UIN Alauddin Makassar kalau mau dibagi lagi 90% mahasiswa pejalan kaki, sisanya mengendarai motor, dan tidak ada fasilitas yang memadai.

Menurutnya lagi, jika dilakukan pembiaran maka pihak kampus hanya membuat mahasiswa berpotensi kecelakaan, belum lagi jika musim hujan, mahasiswa harus jalan ke kampus dengan aman dan nyaman.

Nursyam juga sangat menyayangkan, bukan hanya jalur pejalan kaki, pedestrian yang menghubungkan antar fakultas saja tidak ada sehingga kesannya gedung di UIN Alauddin Makassar berpisah-pisah. Mahasiswa yang ingin ke fakultas lain dan menggunakan kendaraan lagi yang ada hanya polusi dan mempengaruhi lingkungan.

“Kalau ada koridor penghubung fakultas dilengkapi tempat duduk juga akan membuat mahasiswa saling berinteraksi tanpa memandang perbedaan fakultas,” terang Senat FST itu.

Tulisan ini telah terbit di Tabloid Washilah edisi 109

Penulis: Viviana Basri, Hadziratul QK

Editor: Suhairah Amaliyah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami