Adinda,
Disudut malam aku selalu memikirkanmu
Dalam imaji bisu aku selalu menanyakanmu
Masihkah wajahmu kau polesi dengan bedak bermerek itu?
Masihkah kau menghabiskan waktumu di cafe-cafe yang pemulung tak dapat menjangkaunya?
Masihkah kau menyantap makanan cepat saji tanpa tahu keadaan petani di desa-desa?
Adinda,
Sampai kapan kau bersembunyi dalam dunia palsumu?
Dalam ketidaksadaranmu kau telah menjadi apatis terhadap tanah airmu sendiri
Tahu kah kau, di balik jendela kacamu
Ada anak-anak malang yang tak dapat mengenyam pendidikan
Tahu kah kau, dibalik gaya hidupmu yang mahal
Harga sembako di pasar kian melonjak
Tahu kah kau dibalik kebahagiaanmu, masih banyak tangisan rakyat yang harus mengemis haknya sendiri
Adinda,
Aku mencintaimu
Tapi negeriku ini lebih membutuhkan cinta
Dan jika kau masih mencintaiku, cintai dulu negeriku
Disanalah kau dapat menemukan cintaku
Dan seiring nyanyian hujan musim ini
Aku selalu bertanya tentangmu
Sebab
Aku belum mengenalmu.
*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Semester II.











