Opini: Pesan Untuk Senior yang Kuhormati

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh Asy’ari

Kak, kakak senior tahu siapa Paulo Freire?, saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, hanya saja saya sering mendengar dan membaca tulisannya (Pendidikan kaum tertindas, Politik Pendidikan) dan beberapa tulisan yang membahas sedikit tentang pokok pikirannnya. Setahu saya, Paulo Freire sangat membenci kegiatan yang menjadikan manusia sebagai objek. Menurutnya, menjadikan manusia sebagai objek adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan, menyalahi fitrah ontologis manusia. Sebab sejatinya manusia adalah subjek bagi dirinya sendiri. Kakak senior yang kuhormati, sejauh yang kulihat sepertinya dirimu lebih suka melihat kalau adik-adik itu diperlakukan sebagai objek yang patuh.

Moment penerimaan mahasiswa baru ibarat memanen padi dari sawah. Memanen (mengkader) adik-adik maba untuk dijadikan sebagai kader yang militan, siap tempur untuk lembaga dan juga untuk kepentingan politikmu memangku jabatan di struktur DEMA, HMJ dan PRESMA. Oh iya kak, sekaranglah saatnya kamu beraksi, sebab adik-adik Calon Mahasiswa Baru (Camaba) sekarang sudah mulai berdatangan di kampus kita. Seperti denganmu, mereka juga jauh-jauh datang dari kampung halamannya untuk mendapatkan gelar sarjana, membanggakan orang tua dan kelak hidupnya lebih baik selepas mendapatkan gelar sarjana.

Kuamati beberapa tahun terakhir, semenjak saya menginjakkan kaki di kampus ini, beberapa dari kalian (Kakak senior) sangat bangga bila para junior menundukkan kepala, bila berjalan dihadapanmu, sangat bangga bila adik-adikmu itu memanggilmu dengan sebutan “Kanda”, sangat bangga bila adik-adikmu tunduk dan patuh kepada semua perintah-perintahmu, terlebih lagi jikalau adik-adik itu jalan jongkok dihadapanmu dengan beberapa tindakan dehumanistik lain yang sering kamu bangga-banggakan. Kalian ini melihat adik-adik itu sebagai objek, manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Kalian dengan berbangga hati melakukan tindakan dehumanistik seperti itu. Menurutku, mentalmu itu mental borjuis, mental penguasa (bukan pemimpin). Saya yakin ibumu di rumah akan sangat sedih kalau melihat tingka lakumu yang seperti itu.

Semester pertama adalah moment bagi para senior untuk gencar-gencarnya melakukan sosialisasi organisasi intelektual mereka. Organisasi tempat mereka menimba ilmu dan mendewasakan diri. Menurutnya, organisasi-nya adalah wadah terbaik bagi kalian (mahasiswa baru) untuk berproses sebagai mahasiswa. Saya yakin, tidak lama lagi kalian akan melihat wajah-wajah mereka masuk di dalam kelasmu untuk menceritakan pengalaman hebat mereka dan betapa hebatnya organisasinya itu. Tidak lama lagi, kalian akan mendengarkan ceramah ideologi mereka, ceramah yang terkadang menjelek-jelekkan lembaga lain dan juga membuat bosan orang-orang yang malas mendengarkan ceramah.

Kak, tidakkah kalian bosan bersaing dan berkonflik sesamamu?, tak bisakah kalian berdamai dan bersatu mengawal dan memperhatikan kondisi kampus kita yang sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan itu?. Kemana semboyan pluralisme dan demokrasi yang kalian bangga-banggakan itu?, bukankah praktik dari pluralisme ialah toleran dan menghormati sesama manusia?, kalian sama sekali belum mempraktekkan semboyan para pendahulumu. Tahukah kalian bahwa adik-adikmu yang menjadi korban indoktrinasi lembagamu itu ikut juga membenci kawannya yang tak se-ideologi dengannya? keharmonisan kelas baru mereka, kalian renggut dengan mengajarkannya sifat fanatik-sektarian. Saya yakin kalian akan bangga bila melihat kader-kadermu fanatik dan ikut membenci lembaga lain. Bahkan melihat simbol lembaga lain saja adik-adik itu sudah sinis, itulah peninggalanmu mahasiswa sektarian. Watak peninggalanmu itu menjadi watak dari adik-adikmu, mereka itu menjadikanmu sebagai patokan mereka, beruntung diriku cepat lepas dari sifat fanatik-sektarianmu. Kalian itu sedang mempraktikkan budaya bisu, pendidikan gaya bank model baru. Kalian mendidik adik-adik itu untuk menjadi dirimu yang baru.

Kemungkinan munculnya manusia baru (yang bukan penindan dan tertindas) akan semakin sulit jika mahasiswa seperti kalian itu belum bertobat.

Saranku yah kak, cepat-cepatlah bertobat, berefleksilah sebelum tidurmu, bertanyalah pada dirimu sendiri, “sudah benarkah tindakanku pada adik-adikku itu?”. kalau kau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu, maka kukira kau akan sudi meminta maaf kepada adik-adikmu. Sebab meminta maaf ialah langkah awal yang baik untuk memulai kehidupan baru yang lebih harmonis dan lebih manusiawi, yang jauh dari sifat sektarian.

Seharusnya indoktrinasi yang membuat adik-adik menjadi sektarian itu kau tinggalkan!, buatlah kegiatan yang berlandaskan cinta dan intelektual!. Budaya diskusi, membaca dan menulis di kampus kita itu sudah hampir punah kak, seharusnya kalian lebih membimbing adik-adikmu kearah itu, bukan justru menanamkan sifat sektarian kepada mereka. Saya yakin, jauh didalam lubuk hatimu tersimpan rasa cinta. Maka tumbuhkanlah cinta itu pada lembagamu, dan rawat rasa cinta itu. Mencintai kemanusiaan adalah fitrah ontologis manusia. Jangan kamu menyalahi fitrah itu kak!.

Dulu, si Minke mendirikan organisasi pemuda bernama Syarikat Priyayi yang bertujuan untuk menyatukan Hindia Belanda dan melawan tindakan dehumanistik pemerintah Hindia Belanda yang anggotanya terdiri dari para priyayi-priyayi muda. Meskipun organisasi itu vakum, hanya saja warisan dari organisasi itu tetap menjadi senjata ampuh untuk melawan pemerintah Hindia Belanda. Senjata itu tidak lain ialah “Medan Priyayi” – media surat kabar pribumi berbahasa melayu – yang menjadi alat perlawanan bagi Minke.

Organisasi kita saat ini, justru terkesan terlena dengan kondisi zaman milenial. Budaya membaca, diskusi dan menulis itu hampir punah. Tidak seperti pada masa penjajahan dulu, menulis adalah kegiatan perlawanan, membaca ialah kebutuhan. Kak, didiklah adik-adikmu dengan budaya itu agar bisa lahir Minke yang baru!.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) semester VIII

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami