Solidaritas Kebablasan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Rahmawati Idrus
Rasanya belum hilang di ingatan kita insiden pengeroyokan Satuan pengamanan terhadap beberapa mahasiswa bahkan hingga hari ini mereka masih mencari setitik keadilan ditengah kampus yang katanya adalah Peradaban. 
Namun, seolah ditelan waktu kini hanya tinggal beberapa mulut yang menyinggungnya. Wajar saja ketika salah seorang pembesar kampus berani mengeluarkan statement bahwa tuntutan mahasiswa nantinya mahasiswa pula yang kembali mencabut!! sontak terdengar songong tapi toh buktinya lambat laun mulai terurai oleh putaran waktu.

Hanya saja saya berharap diamnya hari bukanlah karena kalah atau lelah tetapi ada rekonstruksi gerakan untuk memenjarakan kemudharatan. Semoga..

Namun, ketika saya masih berharap pada sebuah pergerakan lanjut, ada-ada saja kembali berulah di kampus peradaban ini. Kabar angin dari lisan-lisan yang sempat terdengar hanya berawal dari permasalahan perempuan yang menggoda pacar anak fakultas lain hingga mengakibatkan perkelahian dan serangan brutal dari gerombolan semut hitam. ahh… tiba-tiba saja saya muak dan sontak menjadi mual.

Entahlah kepala saya terasa penuh denga sekelumat amarah ketika mendengar kata “Perempuan Baku hantam” Naa udzu billahi minzalik!! sepertinya budaya malu pun kini telah terurai oleh waktu. Dimana bekas CBT yang katanya setelah mengikuti itu akan berkarakter? dimana bekas mata kuliah Akidah Akhlak? serta Program-program kampus yang katanya bisa menyekolahkan akhlak!! Entahlah sepertinya untuk budaya malu sebagian telah raip dikunyak zaman.Hingga urusan Menggoda saja sudah demikan lumrahnya. Ditambah sensi dan cemburu bertemu adu ototpun menjadi jawan siapa jago dan siapa yang tidak direkeng.

Ironis kampus yang beraroma islam serta embel-embel peradaban sekejap mata disulap menjadi arena tinju. ah. kupikir kalau setiap bulan terjadi perkelahian seperti itu terus Unit Kegitan Mahasiswa dibidang seni bela diri akan kewalahan menerima pendaftar baru.

Tak lama perkelahian sedikit mereredah, indera pendengaranku sempat mendengar kata dari lisan-lisan peredaban yang ikut menyaksikan “Solid mentongki tauwwa Semut Hitam”. Haaaaa? saya tiba-tiba terhantam dengan bisikan itu, sekelumat pertanyaan menyerang kepalaku yang sedikit lagi hampir membuat vertigoku kambuh. Apakah seperti itu yang katakan solidaritas? beginikah cara mengekspresikan solidaritas? kenapa harus solidaitas? ternyata saya baru tahu atau saya yang saat ini mulai lupa esensi dari solidaritas. 2014 wajar katanya jika semua telah berubah. dan ketika saya mulai paham dengan arti solidaritas saya tidak tumbuh diera seperti sekarang ini. yang ada kembali menimbulkan pertanyaan Solidaritas itu berbentuk apa??

ahh..mahasiswa Smaper berdemo juga beratas namakan solidaritas, Satuan Pengamanan melindungi borokrasi serta antek-anteknya juga dengan kata solidaritas dan baru-baru ini hanya persoalan memalukan juga yang harus beratasnamakan solidaritas. Bahkan solidaritas ini sudah menjadi trend kampus sepertinya sebab bukan hanya solidaritas ketika sedang mengangkat Megaphone tetapi izin, nyontek, copas (Copy Paste) hingga mogok masuk kuliah karena alasan tidak suka pada dosenpun semua dinilai dengan solidaritas…

Cukup menggelitik rasanya. Dunia kampus sejak zaman Baholah hingga modernis masih bertahan dengan nama solidaritas tapi telah berubah haluan sebab mengikuti trand style masa kini. Mungkin suatu saat nanti akan ada mata kuliah bernama solidritas dengan jumlah 8 SKS. hehe..

Hari ini sepertinya demam solidaritas seperti melejitnya lagu sakitnya tuh disini. Sakit bangsa yang kerep terlupakan atau karena kita terlalu mengangungkan kolektif kolegial yang berbuntut pada persaudaraan melahirkan solidaritas. namun, sayang dikamusku hanya tersimpan SOLIDARITAS KEBABABLASAN!!! 

Coretan kecil di Sudut Ruang.
Wisata Kebun, 07 November 2014
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum semester V

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami