Satu Celana untuk Satu Minggu

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Shaleh Muhammad
Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya menjadi keinginan bagi semua orang tua untuk putra-putri mereka. Demi masa depan yang lebih baik. Baik dari keluarga yang mampu atau yang kurang mampu. Sedikit saya ingin menceritakan perjuangan dan pengalaman saya hingga bisa terdaftar di Uiniversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin ini.
Berasal dari keluarga yang kurang mampu membuat rasa tanggung jawab saya terhadap masa depan dan keluarga sangat besar. Mendengar sahabat-sahabat saya yang riuh membincangkan dimana mereka akan kuliah, kala itu masih kelas III SMA. Menimbulkan Sejuta pertanyaan dalam benak saya, orang tua saya orang miskin apa bisa saya juga lanjut kuliah?.
Seiring waktu berlalu akhirnya orang tua saya sepakat untuk mengirim anaknya yang pusingakan masa depan ini, ke kota dimana disana ada rumah kerabat bisa menjadi tupangan tidur. Saya didaftarkan oleh om yang rumahnya tempat menumpang saya

, di Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman) tepatnya di Kabupaten Polewali Mandar(Polman) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).Saya memilih jurusan yang benar membuat saya pusing, yaitu Matematika.

Setelah waktu berjalan, saya sudah menjadi mahasiswa di Unasman . Tapi setiap saya berhubungan dengan teman saya ada yang mengganjal di hati saya. Yang membuat saya resah adalah semua teman saya dari SMA dulu tidak ada yang Kuliah di Sulbar,semuanya diluar daerah. Ada yang di Makassar ada yang di Jawa, tentunya saya termotivasi untuk kuliah di luar daerah juga .Dalam hati saya” ya kalau tidak sanggup di Jawa di Makassar saja”.
Setelah selesai Ujian akhir semester II di Unasman saya memutuskan untuk pergi ke Makassar mendaftar ulang sebagai Mahasiswa baru(Maba) di UIN Alauddin Makassar. Setelah dua kali saya mendaftar akhirnya saya lulus pada jurusan Jurnalistik. Jurusan yang saya tidak pernah kenal sama sekali dan akhirnya membuat saya jatuh cinta.
Seperti biasa, waktu sudah cepat berlalu dan membuat saya sebagai Maba resmi di UIN Alauddin Makassar.Saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UIN Alauddin sangat sederhana dibandingkan dengan teman-teman yang lain.Melihat kondisi keluarga saya yang kurang mampu membuat semangat dalam diri untuk belajar dengan baik.
Saya tinggal di salah satu Pondok di sekitar Kampus II UIN Alauddin, setiap pagi saya harus berjalan kaki kurang lebih 1 km dan sudah pasti juga terik Matahari menjadi sahabat setiap pulang dari Kampus. Beginilah hidup dirantau orang semua serba kekurangan atau terkadang sama sekali tidak ada.
Saya sangat bersyukur sama yang Kuasa karena saya bisa lanjut kuliah walau kondisi materi keluarga tidak mendukung.Setiap pulang dari Kampus saya takut dengan hujan, saya takut celana yang satu-satunya basah dan itu bisa membuat saya tidak kuliah esok harinya.Sering orang tua menelfon dan mananyakan keadaan tapi saya harus berbohong, karena saya tau walupun saya bilang saya kekurangan ini atau itu pasti orang tua saya menderita lagi mencari uang.”lebih baik saya yang memakai satu celana dalam satu minggu daripada orang tua susah payah cari rezki”.gumanku setiap mencuci celana kesayangan sekaligus satusatunya itu.
Saya berangkat dari kampung hanya membawa tiga lembar celana panjang, dan keduanya itu sedah robek , mungkin karena sudah tua.kadang juga saya berpura-pura sakit lutut kepada Dosen karena saya mengikat lutut sayadengan sapu tangan yang dimana celana saya robek.
Inilah Sedikit kisahku Dalam Menuntut Ilmu di Rantau orang.

  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami