Mahasiswa Tanpa Membaca, Bagai Tubuh Kehilangan Darah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Nurfadhilah Bahar
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang minat membacanya sangat rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa survei yang menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa-siswa sekolah dasar di Indonesia berada di urutan ke 29 dari 30 negara dibelahan dunia. Bagi masyarakat Indonesia, membaca belum dijadikan sebagai kegiatan untuk mendapatkan informasi. Namun, lebih kepada menonton televisi atau mendengarkan radio. 
Menurut Tella dan Akande (2007), siswa yang ada di sekolah dasar sebaiknya membaca setiap harinya kira-kira dua jam tanpa ada gangguan lain yaitu TV, apalagi untuk siswa yang berada pada level yang lebih tinggi yaitu mahasiswa. 
Begitu pun dengan mahasiswa. Minat membaca dikalangan mahasiswa masih tergolong rendah. Minat mahasiswa sekarang untuk membaca berbeda dengan mahasiswa jaman dulu. Jaman dahulu, saat buku-buku yang beredar dan fasilitas masih terbatas mahasiswa malah lebih termotivasi untuk mengerahkan seluruh kegiatannya untuk mencari dan menemukan informasi sebanyak-banyaknya dengan membaca buku. Sementara, di jaman modern, dimana telah muncul teknologi-teknologi informasi yang dapat membantu dalam proses membaca, malahan menurunkan minat membaca mahasiswa. 
Kegiatan belajar mengajar, menulis, ataupun berdiskusi merupakan kegiatan yang menuntut mahasiswa untuk selalu membaca. Kurangnya materi atau informasi yang ingin diajarkan, bahan-bahan yang ingin di tuliskan atau materi yang didiskusikan, karena kurangnya minat membaca di kalangan mahasiswa. Banyak pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari bacaan yang mendorong setiap individu untuk mengapresiasikan ide dan pendapatnya untuk membangun bangsa ini. 
Kurangnya minat membaca juga terbukti ketika mahasiswa mengikuti perkuliahan. Di saat dosen menjelaskan, ia hanya memberikan sebagian besar materi-materi kepada mahasiswa. Namun, mahasiswa tak dapat berpikir kritis untuk mengajukan pertanyaan kepada dosen dalam materi tersebut. Ketika ditanya mengapa mahasiswa tak mampu memberikan pertanyaan kepada dosen saat materi berlangsung, maka mahasiswa mengaku bingung dan tidak tahu harus bertanya apa (takut jika pertanyaannya tak berbobot). Pertanyaan yang berkualitas akan dijawab dengan jawaban yang berkualitas pula. Mahasiswa yang tidak mampu memberikan pertanyaan yang berkualitas, kemungkinan karena sebelumnya mahasiswa jarang atau bahkan tidak pernah membaca materi yang disampaikan oleh dosen. 
Faktor penyebab 
Informasi yang sangat menarik dapat menyita perhatian individu daripada informasi yang dianggap penting. Misalnya: Individu cenderung lebih menyukai bacaan novel, komik, atau
majalah daripada bacaan penting seperti buku pengetahuan atau materi yang menjadi bahan ajaran para dosen. Informasi yang diselingi dengan penggambaran yang terkesan hidup, menimbulkan reaksi emosional yang melibatkan pembacanya merupakan bahan bacaan yang menarik perhatian mahasiswa saat ini.
 Sebenarnya, ada dua karakteristik minat membaca individu, yakni seseorang yang tidak mempunyai motivasi untuk membaca padahal mereka mampu memahami bacaan dengan baik dan seseorang yang sama sekali tak tahu membaca. Penyebab seseorang yang malas membaca diantaranya; lebih kepada perilaku kebiasaan yang suka berhura-hura seperti, bermain dengan social media (facebook, twitter, dll), menonton TV (sinetron, acara-acara music). Selain itu rendahnya pemahaman kosa kata, dimana dalam setiap literature bacaan banyak menggunakan kosakata bahasa asing yang kadangkala sulit dipahami oleh mahasiswa. Adanya unusr pemaksaan dalam membaca sehingga mengilangkan kesenangan membaca itu sendiri. 
Setelah menelusuri survei-survei yang ada, bagaimana dengan kampus kita sendiri, yakni kampus peradaban UIN Alauddin Makassar. Bukankah pemandangan yang sangat langka melihat mahasiswa yang berlalu lalang tanpa menggenggam sebuah buku. Bagai seorang pastur yang terus menggenggam kitab injil kemanapun ia pergi. Bagai seorang pastur yang bangga dengan kitab injilnya. Sangat jarang ditemukan. Apalagi di era yang serba m

odern seperti ini. Dimana-mana menjadi mudah untuk melakukan browsing internet, bukannya membaca informasi yang ada di internet atau membaca buku di lobi fakultas atau pojok perpustakaan sambil menunggu dosen, melainkan melakukan chating-chatingan di anak tangga.

Bagaimana mahasiswa dapat dikatakan sebagai agen of change apabila membaca saja tidak bisa dijadikan sebagai kebutuhan. “Mahasiswa yang tidak pernah membaca bagai tubuh yang kehilangan darah.” 
*Penulis adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komuniasi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami