Menciptakan Kawasan Kampus Bebas Dari Asap Rokok

Facebook
Twitter
WhatsApp
Jusfaega Hasyiradhy
Oleh: Jusfaega Hasyiradhy
(Finalis Duta Anti Rokok 2013 UIN Alauddin Makassar)

Dewasa ini merokok sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa. Budaya merokok bahkan sudah menjadi simbol keakraban mereka.

Rokok dijadikan sebagai sumber inspirasi dan ide serta pengobat stres baik di kalangan mahasiswa atupun non mahasiswa. Melihat kenyataan memang kampus merupakan salah satu tempat berkembang pesatnya budaya merokok dan itu sudah menjadi tren di kalangan sebagian mahasiswa.

Memang, merokok merupakan hak individu serta tidak ada larangan untuk merokok atau tidak, namun merokok di sembarang tempat tanpa melihat kondisi di sekitar itu merupakan tindakan yang cukup mementingkan pribadi dan menimbulkan keegoisan. Di sisi lain, mereka bahkan merampas hak pribadi orang lain untuk menghirup udara segar akibat asap yang ditimbulkan. Inilah hal yang merugikan bagi orang lain.

Oleh karena itu, tidak dipungkiri bahwa dampak dari rokok itu selain berbahaya bagi diri sendiri juga sangat berbahaya bagi orang lain. Setidaknya ketika mereka ingin merokok harus melihat tempat atau lingkungan yang tepat? Apalagi kalau merokok di tempat-tempat umum. Sebagaimana pepatah ‘hargai mereka yang tidak merokok’ sangat sesuai dengan fungsi mahasiswa sebagai agent of change.

Terkait dengan hadits Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang larangan memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, termasuk mudhorot asap rokok.

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

“Tidak boleh memulai memberi mudhorot pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

Seharusnya sebagai mahasiswa yang memiliki julukan kaum intelektual harus bisa membedakan tempat di mana mereka boleh merokok atau tidak. Hal ini dikarenakan oleh besarnya bahaya rokok itu sendiri dalam bidang kesehatan yang dapat menimbulkan gangguan fungsi sistem pernafasan hingga mengakibatkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin, yang cukup jelas tercantum di pembungkus luar rokok pada umumnya.

Bagaimana cara menciptakan kampus bebas asap rokok?
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya mengajak mahasiswa non perokok untuk menjadi penggerak dengan cara mengingatkan dan mensosialisasikan kampus yang bebas asap rokok. Bentuk sosialisasi tersebut dilakukan dengan melakukan himbauan agar tidak merokok di area tertentu di dalam kampus. Suatu lingkungan yang dibiasakan dengan penggunaan rokok secara wajar, menjadi sebuah hambatan besar dalam upaya menciptakan kondisi bebas asap rokok, sebab seseorang yang terbiasa merasa bebas merokok akan sulit menghilangkan kebiasannya itu. Terlebih jika berada pada suatu lingkungan yang kondusif untuk mempertahankan kebiasaan tersebut.

Dalam upaya mengurangi rokok di Indonesia, sesungguhnya telah ada usaha yang signifikan melalui berbagai penyuluhan maupun sosialisasi serta melalui berbagai ajakan untuk bekerja sama dari berbagai pihak. Upaya tersebut bisa menjadi peluang untuk membangkitkan kesadaran publik (public awareness). Peran serta masyarakat pun menjadi hal urgen, tidak terkecuali instansi pendidikan, maupun komunitas-komunitas yang memiliki kegiatan positif untuk ikut mengingatkan bahaya terhadap penggunaan rokok di dewasa, remaja, terlebih pada anak-anak.

Lebih spesifik di dalam lingkungan kampus misalnya, yaitu dengan tidak melibatkan sponsor rokok pada pelbagai kegiatan mahasiswa. Mempersempit ruang bagi perokok, seperti tidak memperbolehkan merokok di area tertentu di kampus dan menyediakan tempat merokok seperti di bawah pohon, bukan dalam area yang dekat dengan proses perkuliahan. Agar pada saat perkuliahan, tercipta suasana yang tenang dan kondusif. Ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah mahasiswa merokok di sembarang tempat.

Di samping itu, optimalisasi upaya ini diperlukan adanya dukungan pejabat kampus. Bukan hanya menuntut mahasiswa untuk turut menciptakan lingkungan bebas asap rokok tapi ikut memberi teladan terhadap realisasi kampus bebas asap rokok itu sendiri.

Untuk itu, menciptakan sebuah kampus peradaban bebas asap rokok diperlukan tindakan perubahan dan membuat hal-hal baru yang di mulai dari diri sendiri dan melibatkan orang lain. Sehingga kita berharap terwujudya kawasan bebas asap rokok di kampus ikut menciptakan kenyamanan saat belajar, berorganisasi, dan berinteraksi lebih luas dengan setiap orang.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat semester III

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami