Pasca Matinya Gerakan Mahasiswa

Facebook
Twitter
WhatsApp
        Gaung reformasi yang dahulu selalu menjadi topik pemberitaan media massa dan diskusi kaum terpelajar di warung-warung kopi saat ini dirasakan mulai memudar. Yang tersisa hanyalah sepenggal sejarah tentang mereka yang dahulu berdarah-darah untuk menurunkan rejim orde baru yang dianggab diktator. Pasca reformasi, kondisi bangsa ini ternyata tidak lebih baik ketimbang dahulu, bahkan belum ada perubahan yang signifikan. Perekonomian Indonesia diatas kertas memang meningkat, akan tetapi fakta dilapangan berkata lain. Angka pengangguran yang tinggi, meningkatnya jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri, dan nasib buruh tani dan buruh pabrik yang mendapat upah rendah, merupakan indikasi gagalnya pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan. Bukan hanya itu, kondisi kebangsaan yang rapuh  dapat kita saksikan secara “telanjang” bagaimana mahalnya biaya kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan pokok lainnya mengakibatkan semakin dalamnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. 
  Segelintir realitas akan kondisi kebangsaan diatas ternyata belum mampu membangkitkan kembali gerakan mahasiswa yang telah lama tertidur dan membusuk dalam lingkaran setan hedonism dan pragmatism. Hal ini terbukti dari hilangnya optimisme dan spirit perubahan kaum muda, baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Gerakan mahasiswa saat ini pun telah mendapat stigma buruk (negative) dari masyarakat, serta kehilangan dukungan  dan simpati dari mahasiswa itu sendiri. Gerakan mahasiswa yang monoton, kaku, tanpa inovasi, dan cendrung anarki telah kehilangan ruh perjuangannya karena sebagian besar gerakan mahasiswa ternyata terindikasi tunduk pada kepentingan penguasa dan pastinya Uang. Inilah yang terjadi dalam tubuh gerakan mahasiswa yang dahulu diharapkan mampu menjadi penyambung aspirasi rakyat jelata di republik yang dipenuhi pencuri yang rakus dan jahat (koruptor).
Sebuah catatan menarik pasca matinya gerakan mahasiswa adalah lahirnya generasi baru yakni generasi muda yang miskin identitas dirinya, cendrung imitatif dan plagiat. Generasi baru yang hidup dalam mesin propaganda kapitalisme yakni, media yang 1 x 24 jam menyajikan hiburan untuk memasung anak muda agar tidak berfikir dan bersikap kritis. Anak muda Indonesia yang bangga meniru budaya asing seperti, Korea, Jepang, dan Amerika, serta melupakan budayanya sendiri. Generasi yang hidup dengan budaya kekerasan, seks bebas, mabuk-mabukan, narkoba, rasis, dan kemalasan. Inilah generasi yang tenggelam dalam kesenangan dunia semata (hedonis) dan menanggalkan idealisme, nilai-nilai moral, agama, dan budaya hanya untuk mengejar harta, jabatan, serta kekuasaan yang tolak ukurnya adalah materi (pragmatis). Inilah realitas pasca matinya gerakan mahasiswa, dimana uang dan kepentingan politik mengalahkan idealisme. 
Faktanya memang menyakitkan ketika tidak lama lagi Indonesia akan memasuki pasar bebas ASEAN serta privatisasi sumber daya alam dan manusia secara besar-besaran, namun, tidak ada satupun gerakan mahasiswa yang mengawalnya dengan sebenar-benarnya perjuangan. Jika makna Jihad di kepala kita sudah terkontaminasi oleh mitos Teroris buatan bangsa Kapitalis maka, konsep perlawanan apa lagi yang tersisa dalam benak dan keyakinan kita..???? Mengutip ungkapan Gie dalam ingatan, “lebih baik aku diasingkan daripada meyerah pada kemunafikkan”.
Penulis: Abdurrahman, S.Hi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami