Krisis Identitas

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh Ardiansyah
Malam yang sunyi senyap, jiwaku tidak tenang. Kupandangi langit dari jendela. Menatap bintang di angkasa. Hati kecilku pun bertanya,” Apa Bedanya Mahasiswa Sekarang Dengan Mahasiswa Di Era Kekinian?” untuk menjawab pertanyaan itu, segera kuambil Note Book yang tergeletak di dalam kamar. Saya teringat ketika masih magan di UKM LIMA Washilah. Seniorku memutarkan film Soe Hok Gie, yang dirilis oleh Riri Riza.
Film ini diangakat dari catatan harian Soe Hok Gie. Dia adalah seorang pemuda Indonesia keturunan Cina yang tumbuh besar pada masa pergolakan di asia pasifik. Waktu Sekolah Dasar (SD) dia bersekolah di Sinwa dan melanjutkan pendidikan Sekolah menengan pertama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada.
Suatu ketika, Gie mengikuti pelajaran di sekolah. Dalam diskusi tersebut Gie berkata,” Bukankah Ada Perbedaan Antara Pengaran Dan Penerjemah?” gurunya pun menjawab,” Pengaran Itu Sama Dengan Penerjemah Karena Pengarangnya Disisni Tidak Dikenal”. Gurunya berangapan Chairil seorang pengarang. Namun Gie menolak dan berkata,” Chairil Adalah Seorang Penerjemah Dan Pengarang  Aslinya Adalah Andre  Gide.” Sang guru tetap pada penadapatnya yang mengatakan Chairil adalah seorang pengarang.
Diskusi itu semakin memanas. Gie tetap mempertahankan pendapatnya dan melawan argumentasi gurunya. Karena melawan argumentasi gurunya di dihukum, dijemur berdiri di lapangan. Nilai ulangannya delapan tapi gurunya menguranginya tiga.
Melihat kejadian itu, temannya yang bernama Hang berkata,” Gie, Napa Lho Mau Mealawan Trus, Sebenarnya Nilaimu Tidak Jelek-Jelek Amat, Jelekan Nilai Gue”. Dengan cepat Gie menjawab, “ kita gak mungkin bisa bebas seperti ini jika kita tiadak melawan. Soekarno, hatta shahrir, mereka berani mamberontak dan melawan. Berani melawan kesewenang-wenangan”.
Akibat terhadap kritikan terhadap gurunya, nilainya rendah dan dia dipanggil mengahadap ke Kepala Sekolah. Dia disuruh minta maaf kepada gurunya. Akan tetapi dia mengelak dan berkata,” Saya Lebih Pintar Daripada Teman-Teman Dikelas” Ia Menambahkan,” Asep, Nilainya Tinggi Itu Kerena Dia Keponakan Bapak “.
“Memang Demikin Kalau Guru Yang Tidak Pandai, Tidak Akan Tahan Denga Kritkan. Guru Yang Tidak Tahan Dengan Kritikan Boleh Masuk Keranjang Sampah. Guru Bukanlah Dewa Dan Selamanya Benar Dan Murid Bukanlah Kerbau.” Tambahnya.
Gie adalah sosok pelajar yang cerdas. Dia rela pindah sekolah karena nilainya ditahan dan mencari sekolah yang lain. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca dan menulis. Dia Sangat resah melihat fenomena sosial ketika itu. Rakyat semakin menderita akibat ulah para koruptor-koruptor. Yang dulunya mereka yang memperjuangkan bangsa Indonesia.
Usai tamat di Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik. Dia melanjutkan pendidikannya diperguruan tinggi. semangat belajarnya tidak pernah surut. Bahkan dia mengadakan forum-forum kajian. Hari-harinya diperguaruan tinggi dia habiskan dengan diskusi, bedah film dan menulis.
Selain belajar, dia hobi naik gunung. Dia sosok mahasiswa yang akademis, tidak tergabung dalam orgaisasi. Pada saat itu politik kampus  dan golonagn telah masuk kampus, oraganisasi besar seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga yang terkecil Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Bergerak, berteriak atas nama golongan. Demi merebut kekuasan di senat. Mereka sering megambil keputusan yang tidak mempunyai arti politis yang selalu tidak brdasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa.
“ Mereka Harus Berani Mengatakan Benar Sebagai  Kebenaran Dan Mengatakan Salah Sebagai Kesasalahan” ia menegaskan,” dan tidak menerapkan kebenaran atas nama agama, organisasi masyarakat atau apapun” ujar Gie..Kampus saat itu sedang memanas. Semua lemabaga organisasi melakukan konsolidasi untuk menduduki senat. Yang pada akhirnya senat diduduki oleh Herman Lantang, teman Gie.
Pada masa itu Negara berkecamuk. Negara masih jauh dari tujuan.. Diktator perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi diambang pintu tapi sudah menjadi suatu kenyataan. Cara-cara kebijaksanaan Negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikma musyawarah bahkan menindas dan memperkosanya. Istilah demokrasi  terpimpin hanya dijadika topeng belaka, justru akan menindas asas-asas demokrasi itu sendiri.sehingga dia membuat gerakan di  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk melakukan revolusi.
Politik kampus semakin kacau dikarenakan salah satu lembaga oraganisasi merasa didiskriminasi dalam senat. Poster-poster GMNI itu disobek. Mahasiswa yang tergabung dalam lembaga tersebut merasa keberatan dan ingin membubarkan senat.
Bukan hanya dikampus terjadi kekacauan akan tetapi di bumi Indonesia pun terjadi banyak ketimpangan. Melihat kondisi bangsa yang banyak penyelewenang dan ketidakadilan menbuat Soe Hok Gie tidak tenang dan menginginkan perubahan.
Salah satu bentuk gerakan yang dia buat untuk menentang pemerintahan Soekarno yaitu mengkritik melalui tulisan. Tulisannnya banyak di muat di Koran. Akibat dari tulisannya dia disisihkan bahkan tulisannya ditolak di percetakan.
Pada tahun 1966, pemerintah melakukan perubahan parlemen. Anggota-anggota yang pro-Soekarno dan pro-Komunis diganti. Dan kini terdapat 13 tokoh mahasiswa yang tergabung dalam parlemen. Bahkan di kabarkan mereka banyak yang memperkaya diri dengan cara yang tidak halal.
Ketika selesai menyandang mahasiswa. Teman-teman seperjuangannya kala menjadi aktisvis, kini  sudah terpisah. Fakultas Sastra Universitas Islam kala itu, banya mengalami perubahan. Dosen-dosen  tidak lagi mempunyai dedikasi dalam pekerjaannya. Dan membuat mahasiswa tak kalah malasnya.
Di kekinaian, masi adakah sosok mahasiswa yang seperti Soe Hok Gie. Berani mengkritik gurunya ketika salah. Mahasiswa dikekinian semakin dikungkung oleh dosen. Ketika dikritik akan berpengaru terhadap nilai yang akibatnya lambat selesai.
Pun saya pernah alami ketika semester satu. Kami berdiskusi dengan salah satu dosen. Kala itu, diskusi semakin alot. Sang dosen tidak mau menerima argumen kami sehingga mengusirs salah satu teman dari kami dari ruangan.
 Bedah halnya ketika kami semester lima. Mata kulia yang seharusnya 14 -16 kali pertemuan namun di percepat. Satu kali pertemuan dianggap tiga kali absen. Bahkan parahnya lagi ada salah satu mata kulia kami yang seharusnya 14 kali pertemuan. Namun baru lima kali pertemuan langsung final. Entah karena alasan apa sehingga dosen tersebut jarang masuk. Ini bukti bahwa sebagian dosen tidak mempunyai dedikasi dalam pekerjaannya. Mahasiswa yang malas kekampus melihat kondisi tersebut membuatnya semakin malas. Haruskan dosen seperti ini dipertahankan di kampus?
Mahasiswa pada zaman Soe Hok Gie, hari-harinya diisi dengan budaya-budaya diskusi dan membuat tulisan. Namun di kekinian, budaya diskusi semakin terkikis. Hanya segelintir orang yang membudayakannya. Budaya diskusi atau  yang kerap di kenal yaitu budaya kajian kini beralih kepada budaya online. Untunglah kalau berdidkusi di dunia maya. Akan tetapi, kebayakan diantara kita hanya curhat di dunia maya utamanya Face Book.  Tiap hari bahkan tiap lima menit hanya memasang status galau.
Di pelataran kampus, jarang kita mendapakan mahasiswa yang membaca buku utamanya berdiskusi tentang keilmuan. Organisasi intra maupun ekstra yang seharusnya mempunyai peran penting dalam proses pencerdasan, kini beralih fungsi sebagai lembaga mobilisasi massa untuk pemilihan di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Mahasiswa dikekinian semakin krisis dengan identitas.
Soe Hok Gie mampu menggoncang pemerintahan Soekarno kala itu hanya dengan tulisan. Saat ini kita jarang lagi menemukan mahasiswa yang produktif. Jangankan menulis, baca buku pun kita jarang menemukan di kampus. Jiwa-jiwa kritis pun semakin hilang.
Makassar, sabtu 19-01-2013

*Penulis Adalah Mantan Ketua Umum HMJ-Perbandingan Agama Periode 2011-2012

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami