Intelegensi, Karakterisasi, dan Islamisasi Demokrasi (Refleksi Pemilma UIN Alauddin 2012)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh:
Firdaus Muhammad
Dosen Komunikasi Politik Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Wacana politik di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar berarus pada demokratisasi dan kedewasaan politik, setidaknya bercermin dari proses pemilma yang berlangsung tanpa letupan dan kekerasan politik. Proses politik ala mahasiswa tersebut berjalan dinamis, meski acapkali disematkan sosok yang kritis bahkan anarkis bagi mahasiswa, terutama setiap berlangsung hajat politik di luar kampus.
Hal ini pertanda awal yang baik untuk dirawat kalangan kampus, terutama mahasiswa yang berkecimpung dalam area politik kelembagaan mahasiwa di kampus. Mereka dinobatkan sebagai aktivis kampus.
Term aktivis acapkali disematkan kepada mahasiswa yang mampu mengintegrasikan intelegensia, intelektualisme dan dunia pergerakan dalam dan luar kampus. Maka sosok yang demikian yang dirindukan kehadirannya untuk melakukan transformasi islamisasi demokrasi dalam kampus.
Figur mahasiswa yang hanya menjadi kutu buku akan tersekap dalam kungkungan teoritis belaka, sementara mahasiswa pergerakan selalu intens melakukan advokasi di dalam dan luar kampus dengan menunjukkan sikap kritisnya, mereka dipastikan juga insan mahasiswa yang memiliki kecakapan intelegensia. Mereka pembaca buku, tak jarang pembaca buku kiri.
Sosok mahasiswa dengan tipologi kutu buku dan aktivis jalan masing-masing melakoni pilihan hidupnya masing-masing. Pengalamanpun menunjukkan, sejumlah mahasiswa kutu buku akan lebih  memprioritaskan diri lebih berkonsentrasi untuk penyelesaian studi tepat waktu dan dengan nilai tertinggi.
Orientasinya, mereka ingin bekerja sesuai latar belakang keilmuannya. Jika tidak sesuai, mereka masih berinisiatif memiliki peluang kerja yang tidak sesuai latar belakang keilmuannya. Pilihannya, harus bekerja, bukan menjadi sarjana yang siap menganggur tapi siap pakai.
Sementara tipologi mahasiswa yang menjadikan dunia aktivis pergerakan jalanan, acapkali memilih berlama-lama di kampus. Bukan mereka tidak cerdas, bahkan kecerdasannya berlipat kualifikasi keilmuan lebih baik dibanding tipe sarjana kutu buku. Tapi, menjadi aktivis telah menjadi pilihannya. Mereka memiliki karakter dan kesadaran hendak melakukan perubahan di dalam dan luar kampus.
Di luar tipe tersebut, bahkan tipe ini yang dominan di kampus. Yakni, mereka yang berada diluar kategori mahasiswa kutu buku dan aktivis. Ada kelompok mayoritas mahasiswa di kampus yang menjalani aktivitas perkuliahan dengan kemampuan intelektualitas pas-pasan, terkadang sebagian kecil dari kategori ini, untuk memenuhi IPK standar Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak memadai, padahal telah menduduki semester belasan, menghampiri drop out (DO). Pada saat bersamaan rekam jejak keaktivisannyapun tidak menonjol, mereka berada pada jalur disorientasi.
Demikian potret mahasiswa dengan tiga tipologi, yakni aktivis, kutu buku, dan mahasiwa pasif. Demikian realitas sederhana yang bisa dipotret yang memungkinkan akan adanya perspektif lain yang mengamati realitas tersebut. Di tengah realitas mahasiwa dan kondisi keilmuan dengan berbagai dinamikanya itulah, lahir sejumlah pemimpin baru produk dari proses politik yang baru saja di tunaikan dalam pesta demokrasi Pemilma di kalangan mahasiswa.
(De) karakterisasi
            Karakter building menjadi salah satu wacana yang bergulir di kampus UIN sekian lamanya, selain kampus peradaban. Proses ke arah itu sudah dimulai meski tertatih-tatih. Persoalan karakter bukan lagi menjadi keinginan tetapi menjadi kebutuhan. Kampus bertanggung jawab melahirkan mahasiswa berkarakter sesuai “permak” UIN.
            Lahirnya tiga kategorisasi atau tipologi di atas, tidak terlepas dari proses dialektika yang mewarnai proses pembentukan karakter mereka dalam kampus. Atmosfir kampus diyakini akan mewarnai seluruh rangkaian perilaku civitas akademika.
            Hal penting ditekankan bagi elite mahasiswa yang terpilih dalam proses demokratisasi di kampus UIN adalah pada penguatan karakter. Dalam hal ini, nilai kemahasiswaan terukur dari karakter mereka sebagai sosok keilmuannya dan perilakunya.
            Jika UIN hanya mampu melahirkan sarjana yang cerdas tanpa karakter seorang sarjana muslim, bisa dianggap tergolong gagal. Sebab, tanggung jawab sosial UIN bukan hanya mencerdaskan mahasiswa tetapi yang lebih ditonjolkan adalah aspek perilaku, moralitas, akhlakul karimah.
            Aspek ini menjadi pembeda dengan kampus lain. Sekiranya hanya mengejar dimensi intelegensia belaka, maka banyak kampus lain yang menjadi pilihan bagi orang tua mereka. Namun, label Islam menjadi nilai jual UIN. Artinya, setiap orang tua berharap anaknya menjadi sarjana UIN dari jurusan manapun akan memiliki karakter sebagai seorang sarjana muslim yang senantiasa menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam perilakunya dengan nilai-nilai lain yang sinergis.
            Menyadari hal itu, maka salah satu aspek yang mesti menjadi prioritas ketua BEM untuk tingkat universitas (UIN), fakultas, hingga HMJ, sejatinya bermuara pada orientasi pembentukan karakter yang melahirkan produk sarjana muslim yang memiliki kompetensi untuk berkompetisi dengan dunia kerja.
           
Demokrasi Islami UIN
            Proses politik kampus dikalangan mahasiswa telah berlalu, kini memasuki pada tahapan pembentukan pengurus dan membuat program kerja. Sejatinya, tidak ada lagi fragmentasi politik pasca pemilma. Seluruh komponen mahasiswa harus menyatu untuk bekerja maksimal sepanjang masa kepengurusannya.
            Hal terpenting lagi adalah, setiap program kerja mereka harus selaras dengan kebijakan kampus. Ada sejumlah pengalaman menunjukkan ada saja pengurus yang terobsesi bekerja dengan penuh mimpi sementara dibatasi waktu dan biaya. Menyadari hal ini, semua kegiatan mahasiswa lebih kreatif dan produktif untuk pengembangan mahasiswa UIN keseluruhannya, termasuk mendorong upaya-upaya maksiml dalam optimalisasi pembentukan karakter mahasiswa sehingga keluaran UIN menjadi sarjana yang berkarakter laiknya sosok intelegensia yang berkarakter.
Mencapai mimpi tersebut, perlu adanya komunikasi intens antara elite mahasiswa dengan elite kampus untuk menjalin sinergitas. Sekiranya antara petinggi mahasiswa yang tergabung dalam kepengurusan BEM dan HMJ tersebut, membuat program kerja bertentangan dengan kebijakan petinggi UIN, diyakini tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermakna melainkan berpotensi lahirnya fragmentasi yang menjadi bumerang dalam mewujudkan kampus berperadaban.
Menghindari hal itu, perlu adanya keteladanan dari elite atau petinggi kampus dalam melakukan pembinaan mahasiswa dalam beragam kegiatannya. Tepatnya, tidak perlu terjadi benturan birokratis terutama soal transparansi keuangan di tingkat universitas hingga fakultas. Sekiranya terdapat celah bagi mahasiswa untuk mencelah pimpinan karena kerja tidak becus antara masing-masing lini, dipastikan hanya akan menguras energi mahasiswa semata-mata untuk berdemo yang memungkinkan dimanfaatkan “oknum” memperkeruh suasana kampus.
Hal menggembirakan bagi UIN, tidak terjadi fragmentasi antara fakultas seperti terjadi di kampus-kampus besar lainnya di Makassar. Aspek ini menjadi cerminan kedewasaan mahasiswa dan kamampuan elite UIN mewujudkan demokrasi yang islami. Proses demokrasi di kalangan mahasiswa UIN yang nota bene dikenal sebagai kampus Islami.
            Sinergitas intelegensi, karakterisasi dan islamisasi demokrasi kampus sejatinya terintegrasi dalam diri insan kampus, baik mahasiswa maupun civitas akademik lainnya. Atmosfir kampus tidak terlepas dari penguatan intelektualitas. Berbekal dari keilmuan pada berbagai jurusan yang ada akan membentuk kualitas personal sebagai ilmuan, tentu dalam takarannya masing-masing. Kemudian diiringi dengan pembentukan karakter melalui proses karakterisasi guna membendung lahirnya dekarakterisasi mahasiswa.
            Kepengurusan lembaga mahasiswa melalui proses demokratis patut diapresiasi. Setidaknya dari perspektif dan kesadaran bahwa proses itu berlangsung di kampus UIN sebagai kampus islami mampu melahirkan produk yang islami, sebutlah demokrasi yang islami. Kedewasaan politik mahasiswa menjadi human capital mewujudkan pemimpin berkarakter di tengah atmospir kampus peradaban, diharapkan akan melahirkan sarjana muslim yang kutu buku sekaligus aktivis pergerakan yang siap memasuki realitas masyarakat luas yang kian kompleks.
            Ke depan, sebagai insan kampus, kita semua tetap berharap untuk merawat dimensi demokrasi tanpa fragmentasi politik berarti, yang kemudian menguatkan pembentukan karakter sebagai mahasiswa dan sarjana muslim yang memiliki kualifikasi intelengensia. Karakter itu senantiasa melekat dirinya sehingga kapan dan dimanapun mereka berada selalu dibanggakan  dan senantiasa membanggakan almamaternya. Semoga!
Selamat bekerja pada pengurus baru tingkat universitas, fakultas hingga jurusan.     

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami