Pesan Rektor Pada Wisudawan: Guru Harus Seperti Malaikat

Facebook
Twitter
WhatsApp

Kamis, 05 Januari 2012 | Suryani Musi
wisudawan
Washilah Online-Lagi Universiats Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menyelenggarakan wisuda. Wisuda kali khusus untuk sertifikasi guru program S1 Madrasah Raudatul Atfal (RA) dan  Mardrasah Ibtidaiyah (MI) serta Dual Mode System (DMS). Wisuda yang digelar khusus Fakultas Tarbiah dan Keguruan (FTK) tersebut digelar di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa, Kamis (05/01/2012).
Para wisudawan antara lain 343 lulusan kualifikasi guru, 200 lulusan MI/RA, dan lulusan 103 peserta DMS .
Dalam sambutannya, Rektor UIN, Prof Dr Qadir Gassing HT MS memesankan bahwa ada tiga yang yang ingin dia pesankan. Yakni sertifikasi, kompetensi, dan kerjasama.
“Apakah Anda sudah merasa punya kompetensi seorang guru?,”tanya Rektor secara langsung kepada semua wisudawan. Mereka menjawab iya secara koor.
Qadir Gassing menekankan, dalam undang-undang ada 4 kompetensi yang mutlak dimiliki oleh guru. Pertama, kompetensi professional. Di dalam bidang ini guru dituntut tidak boleh setengah-setengah. 
“Jangan masuk  kelas jika belum menguasai hal ini,”ujarnya.
Kedua, kompetensi pedagogik. Kembali Rektor menanyakan apakah mereka telah menguasai teori, teknik, atau cara mengajar yang baik. Namun, di sini hanaya sebagian yang menjawab iya. “Anda sebetulnya lebih hebat dari dosen. Karena yang Anda hadapi anak kecil. Mereka menangis sambil mengeluarkan ingus. Dosen tidak mengurus hal seperti itu,”katanya.
Kompetensi ketiga, keperibadian. Seorang guru harus digugu dan ditiru. Jika khilaf sedikit akibatnya akan besar. guru seolah-olah dituntut seperti malaikat karena dia menjadi contoh buat murid-muridnya. Kompetensi keempat, sosial. Punya sifat sosialan dimaksudkan, punya sifat empati, peduli, atau care.
“Setelah punya empat ompetensi tersebut maka ajukanlah sertifikasi. Tapi syaratnya yang lain harus SI. Tolong kalau pulang ke rumah pikirkan baik-baik bagaimana caranya bisa disertifikasi,” tambahnya.
Di acara ini hadir  Kepala Bidang Mapenda Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr H Darwis. Dalam sambutannya ia menekankan bahwa sebanyak kurang lebih 10 ribu yang guru MI/RA ditugaskan hanya 21 % yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mau tidak mau itu mempegaruhi secara signifikan guru di lapangan. 
“Masalah lain yang dihadapai guru sekarang, yang non-PNS hanya dapat dana dari yayasan atau dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan keterbatasan saran prasarana. Masalah lainnnya, pendistribusian yang belum merata. Biasanya hanya menumpuk di kota-kota. Sementara desa-desa kekurangan guru,”imbuhnya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami