Anggaran Tinggi, Kualitas Rendah.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Kamis, 01 Desember 2011 | Suryani Musi
Peserta seminar Pendidikan Nasional uin Alauddin Makassar
Washilah Online-Perwakilan Kepala Dinas Propinsi Sulsel, Kartini AS menyebutkan, total Anggaran Pendapatan Belanja Negara Pendidikan (APBN-P) tahun 2011 untuk Sulawesi Selatan lebih dari   63.7  milyar. 

     Untuk dana anggaran pendidikan  gratis tahun 2011 sebanyak 168.6 milyar. Sementara wajah pendidika  sekarang dari hari ke hari kian dipertanyakan. Lalu apa yang salah dari pendidikan ini?

     Fenomena tersebut dicarikan benang merahnya di acara Seminar Penddikan Nasional yang bertema Profesionalisme Guru di Tengah Arus Glaobal Kapitalis. Kegiatan tersebut berlangsung di gedung Training Centre kampus I Universitas Islam Negrei (UIN) Alauddin Makassar, Kamis (01/12/2011).
     Kartini mengatakan, jika dulu guru begitu dihormati. Namun, sekarang hal tersebut sudah mulai pudar. Olehnya itu, kata dia, guru sekarang harus mampu bersaing.”Belajar dengan cara yang berbeda,”ujarnya.

     Para guru sekarang diperhadapkan oleh perkembangan media yang sangat pesat. Sehingga, dituntut mempunyai keterampilan lebih, berpikir kritis, inovatif dan kreatif. Utamanya menguasai teknologi dan informasi. 

 
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM M Pd mengemukakan, untuk memperbaiki kualitas mereka adalah dengan jalan membangun karakter yang dimulai sejak dini. 
“Apakah ini adalah kesalahan kita secara kolektif mengenai rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia? Mestinya, guru sebagai ujung tombak harus berkarakter, mencipakan ke-akuan dalam dirinya bahwa ia hebat dan bisa memotifasi kepada anak didiknya,”paparnya di hadapan  lima ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan guru pada kegiatan tersebut.
Rendahnya kualitas tersebut lantaran keakuan tersebut hilang. Harusnya mereka punya komitmen untuk mencipatakan anak didik yang berkarakter.
“Tingginya tunjangan kepada gutu dari pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kualitas. Harusnya  guru malu diberi tunjangan tinggi sementara punya Sumber Daya Manusia (SDM) rendah,”kata Dra Hj St Syamsudduha M Pd yanga merupakan perwakilan dari akdemisi.
Menuru dosen fakultas Tarbiah ini menambahkan bahwa yang membedakan guru yang dulu dengan guru yang sekaranga adalah cinta. Guru yang mengajar karena cinta akan profesinya beda denan guru yang hanya mementingkan gaji yang tinggi. Karena guru yang dibarengi cinta, memberi banyak kepada mahasiswa ilmu dan energi yang dimilikinya. Menurutnya, ini merupakan persioalan keikhlasan.
     Anggota DPRD  Sulsel, Armin Hatta Coputiri menambahkan,guru sekarang tidak boleh hanya terpatok kepada kurikulum semata. Akan tetapi, kata Armin, upaya jitu menghadapi siswa, dengan menempatkannya sebagai patner belajar untuk memahaminya. Tapi, lagi-lagi ia menekankan itu akan berhasil jika dibarengi dengan keikhlasan.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami