Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke 46 UIN Alauddin Makassar Peran Intelejen dalam Pusaran Global Lewat Cermin Akademika

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ketua KPK ketika membawakan Seminar Nasional di UIN

Kasus-kasus penangananan terorisme, dan kasus penagannan korupsi hampir memiliki persamaan mulai dari Orde Baru sampai sekarang. Dalam bidang korupsi saja mekipun telah memiliki sejumlah alat bukti tetapi tidak juga mampu menunjukkan penagananan secara transparansi.
 

Washilah Online-Isu peran Intelejen ini menjadi bahan perbincangan yang menarik pada seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis Universiats Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa, Sabtu 12 November 2011.
Dialog yang digelar bersama dengan Ketua Komisis Pemberantasan Korupsi (KPK), Dr M Busyro Muqoddas SH M Hum dengan tema Dinamika Peran Intelejen dalam Pusaran Global banyak membahas tentang permasalahna tentang sepak terjan intelejen mulai dari masa Orde Baru samapai sekarang. Panel dengan Direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia (HAM) Universiats Islam Indonesia Yokyakarta, Eko Prasetyo.
Seminar ini dipandu oleh Prof Dr Darussalam Syamsuddin MA. Sebelum dialog tersebut dimulai, Rektor UIN, Prof Dr Qadir Gassing memberikan  beberapa pengantar. Menurutnya, Seminar Nasional ini dengan tema sentral Mewujudkan Kampus Peradaban Melalui Pencerdasan, Pencerahan, dan Prestasi agar seminar ini mampu memberika pencerahan kepada sejumlah peserta yang beragam. Mulai dari anggota Asosiasi Professor Sulsel, Ketua Pengadilan Tinggi Negara, beberapa Rektor perguruan Tinggi, tokoh agama, guru besar, dan mahasiswa S1, S2, dan S3.
Menurutnya, Indonesia sekarang ini telah begitu banyak memiliki orang pintar namun tidak tercerahkan. “Siapa tahu ini bisa memberi sumbangsi pada perkembanagan bangsa dan tanah air,”katanya.
Makanya melalui seminar ini, menurutnya merupakan salah satu upaya agar para tokoh-tokoh penting dalam seminar ini memiliki pemahaman yang tidak keliru. Menurut Dr Busyro menyatakan bahwa pencerahan tersebut merupkan misi dari komunitas keilmuan. Sumber ilmu adalah penemuan secara empiris yang ditemukan di masyarakat lewat riset dan ketika diberi makna maka akan menjadi sumber pengetahuan. Ilmu tidak mungkin stagnan karena banyaknya gejala di amsyarakat yang bisa dibaca.
Salah satu gejala tersebut yang timbul dalam masyarakat adalah kinerja intelejen. Kinerja intelejen ini terkait dengan masyarakat hukum. Busyro menyatakan bahwa perpolitikan di Indonesia semakin tidak memiliki wajah.
“Politik kita sekarang tidak punya wajah lagi. Sudah tidak meiliki ideology yang jelas. Kecuali pemahaman yang paling mendasar, yakni pragmatis dan hedonis. Hanya mengejar kenikmatan sesaat dan kepentinagn semu. Cuma harta,” katanya.
Dr Busyro menjelaskan panjang lebar bagaiamana di setiap peristiwa yang terjadi di masa Orde Baru didalangi oleh intelejen dengan mengatasnamakan organisasi Islam yang menginginkan Negara Islam. Aparat hanya menilai secara tunggal bahwa para teroris tersebut memiliki kaitan dengan jaringan yang berbau Islam yang berjejaring.
Namun, pernyataannya itu berdasarkan pada kapasitasnya sebagai akademisi bukan sebagai ketua KPK. Melalui penelitian yang panjang dan dituangkan dalam bentuk disertasi yang dibukukan denagn judul Hegemoni Rezim Intelejen yang diterbitkan oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universiats Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tahun 2011 dengan tebal halamana 472.
Riset tersebut dilakukannya sampi ke pelosok-pelosok dan memiliki bukti rekaman dari orang yang pernah menjadi tersangka.  Dia berusaha membuktikan bagaiamana intel tersebut memangsa anak buah sendiri dengan bersembunyi di balik nama kelompok Islam.
Dosen yang menjabat di Fakultas Hukum UII Jogja ini menyatakan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi di Indonesia karena sistem kekuasaan otoriter penguasa dan kekuasaan yang berpangkal pada Soeharto.
Dia menggambarkan bagaiamana polisi dikerjai oleh intelejen, jaksa dan hakim juga dikerjai yang memakan korban ke Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.
 Bagi Eko Prasetyo yang juga bergerak dalam tim pembela Muslim menambahkan bagaiamana menderitanya keluarga korban yang dituduh sebagai terorisme. Mulai dari mendapat tekanan dari media, tekanan masyarakat, dan tekanan mental. Sebagai bagian dari Tim Pembela Muslim dia akan mendampingi para keluarga korban yang bermasalah tersebut.
Ketika salah satu peserta menanyakan kapan korupsi dan teroris akan berakhir, Busyro menyatakanbahwa dirinya bukan peramal. Kan tetapi hal tersebut akan berakhir jika semua orang yang memiliki jabatan menanggalkan jabatannya kemudian menjadi penganggur.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami