Ini Makassar Kami

Facebook
Twitter
WhatsApp
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-link:"Footnote Text Char"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; vertical-align:super;} p {mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.FootnoteTextChar {mso-style-name:"Footnote Text Char"; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:"Footnote Text"; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/komputer/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/komputer/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/komputer/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/komputer/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Sec Andi Tenriawaru
   Tumbuh dan berkembang di tanah yang telah menjelma jadi pusat pertumbuhan di Kawasan Indonesia Timur merupakan pengalaman yang sangat menarik. Bertemu dengan aneka agama, suku, etnis, kebudayaan, ideologi, dan hal sensitif lainnya tak membuat masyarakat di kota Anging Mammiri’ ini menjadi eksklusif satu sama lain. Saya sendiri adalah perpaduan dua suku paling dominan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ettaku (baca: Ayah) merupakan keturunan suku Bugis tulen khususnya Bone dan Mamakku (baca: Ibu) lahir dan bertumbuh di keluarga yang bersuku Makassar. Dalam kesehariannya ada perbedaan yang cukup mencolok terutama dalam mengekspresikan diri, masyarakat Bone biasanya lebih mampu menahan ekspresi dan bertutur teratur, sedangkan masyarakat Makassar lebih outspoken atau gamblang dalam menyatakan sesuatu. Ini hanyalah sebagian kecil dari berbagai keanekaragaman di kota Makassar.
Hal diatas berbicara pada ruang lingkup kultural sedangkan secara geografis kota ini merupakan daerah pantai yang datar dengan kemiringan 0 – 5 derajat ke arah barat, diapit dua muara sungai yakni sungai Tallo yang bermuara di bagian utara kota dan sungai Je’ne’berang yang bermuara di selatan kota. Luas wilayah kota Makassar seluruhnya berjumlah kurang lebih 175,77 Km2 daratan dan termasuk 11 pulau di selat Makassar ditambah luas wilayah perairan kurang lebih 100 Km². Wilayah kota Makassar berada pada titik koordinat 119 derajat bujur timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari permukaan laut. Dengan kata lain, Kota Makassar mempunyai posisi strategis karena berada di persimpangan jalur lalu lintas dari arah selatan dan utara dalam propinsi di Sulawesi, dari wilayah kawasan Barat ke wilayah kawasan Timur Indonesia dan dari wilayah utara ke wilayah selatan Indonesia.[1]
Dari gambaran selintas mengenai lokasi dan kondisi geografis Makassar, memberi penjelasan bahwa secara geografis, kota Makassar memang sangat strategis dilihat dari sisi kepentingan ekonomi maupun politik. Dari sisi ekonomi, Makassar menjadi simpul jasa distribusi yang tentunya akan lebih efisien dibandingkan daerah lain. Memang selama ini kebijakan makro pemerintah yang seolah-olah menjadikan Surabaya sebagai home base pengelolaan produk-produk draftkawasan Timur Indonesia, membuat Makassar kurang dikembangkan secara optimal. Padahal dengan mengembangkan Makassar, otomatis akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan Timur Indonesia dan percepatan pembangunan. Dengan demikian, dilihat dari sisi letak dan kondisi geografis, Makassar memiliki keunggulan komparatif dibanding wilayah lain di kawasan Timur Indonesia. Saat ini Kota Makassar dijadikan inti pengembangan wilayah terpadu Mamminasata.
Saat ini Makassar adalah kota terpenting, tidak hanya di Sulawesi Selatan, melainkan juga di Indonesia dan bahkan dunia. Ada dua alasan utama yang sering dikemukakan para ahli dalam menempatkan Kota Makassar sebagai kota yang penting. Pertama, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian-kajian sejarah bahwa di masa lalu kota ini memainkan peran besar, baik dalam dinamika sosial maupun dalam aktivitas perdagangan (ekonomi). Pada abad ke 16-17 keberadaan Makassar disejajarkan dengan Penang di Malaysia yang merupakan pusat perdagangan Asia Selatan, dan kota Hamburg di Jerman yang merupakan pusat perdagangan di Eropa ketika itu. Dalam dinamika sosial-politik, pada awal bad ke-17, kota ini menjadi kerajaan Gowa, sebuah kerajaan besar yang kekuasaan dan pengaruh politik yang luas di jazirah selatan Sulawesi Selatan.
Demikian pula dalam sektor ekonomi melalui pelabuhan Makassar, kota ini berperan sebagai kota niaga terpenting di bagian timur Indonesia. Kota ini hanya menjadi satu mata rantai perdagangan regional yang melakukan kontak dengan kota-kota penting di Eropa, tetapi juga menyediakan pasar bagi perdagangan hasil bumi Hingga pada awal abad ke-20, setelah ekspedisi Belanda tahun 1905, Makassar telah berkembang pesat sebagai kota modern. Kedua, semenjak kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945, Makassar menjadi kota penting, di mana keberadaan pelabuhan Makassar berperan sebagai ruang tamu Kawasan Timur Indonesia (KTI), menjadi pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan dan pendidikan.
Makassar semakin mengalami perkembangan yang pesat dan telah menjelma menjadi kota metropolis, yang dapat disejajarkan dengan beberapa kota-kota besar di Pulau Jawa. Tentu saja, kemajuan yang telah dicapai, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun aktivitas ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan, serta pendidikan tidak lepas dari keinginan yang kuat dari warga kota ini untuk berubah. Kesuksesan ini juga didukung oleh kapasitas sumber daya manusia dan kerja keras pemerintah setempat.
Pemerintah sedang menyiapkan suatu landasan hukum Investasi yang akan menyertakan prinsip kebijakan investasi yang berorientasi pasar, menetapkan jaminan atas perlakuan yang sama bagi investor asing maupun dalam negeri dimanapun dan kapanpun, perlindungan atas pengambilalihan investasi. Kebebasan pengambalian investasi asing dan penggajian yang layak yang sesuai standar internasional. Tipe kepemimpinan yang diterima oleh masyarakat kota Makassar masih sarat dengan sukuisme, selama ini para pemimpin yang terpilih merupakan sosok bugis-makassar yang tergambar ramah dan tegas. Hal itulah yang mewarnai proses memimpin mereka yang mengutamakan budaya siri’ na pace yakni suatu harga diri yang dipegang mati terutama ketika menjabat suatu posisi penting. Kesiapan untuk diprotes secara langsung dan gamblang adalah harga mutalak bagi para pemimpin dalam menghadapi masyarakat majemuk yang berpemikiran terbuka.[2]
Setelah berkutat dengan kondisi geografis, suku budaya, perekonomian, dan pemerintahan maka sekarang kita beralih pada pemuda. Bertumbuh di pusat modernitas Kawasan Indonesia Timur bukan hanya memperluas akses informasi namun hal ini membuka cakrawala berpikir kritis untuk menyatakan pendapat secara terbuka. Pribadi yang terkenal keras dan berprinsip tak jarang membuat mahasiswa asal Makassar dicap ”menakutkan” oleh penduduk luar Makassar. Kelengkapan sarana hiburan juga memberi dampak positif-negatif. Di satu sisi merupakan penyemangat dari kepadatan rutinitas namun disisi lain juga dapat menjadi candu bagi para pemuda.
Diluar hal tersebut kota Makassar tetaplah menghadirkan sensasi berbeda di Indonesia khususnya Bagian Timur. Keberanian para masyarakatnya dalam bertindak dan berucap terpatri di benak seluruh masyarakat Indonesia. Hidup Makassar!! Tanpa kasar bisa, kan?

[1]“Geografis Makassar”, Pemerintah Kota Makassar, diakses dari http://bahasa.makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85, pada tanggal 25 Oktober 2011 pukul 23 : 26
[2]“Investasi dan Penanaman Modal”, Pemerintah Kota Makassar, diakses dari http://bahasa.makassarkota.go.id/index.php/component/content/article/85-tentang-makassar/70-investasi-dan-penanaman-modal, pada tanggal 25 Oktober 2011 pukul 23:24

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami