Mencari Kesesatan Ahmadiyah Isa Al-Masih = Mirza Gulam Ahmad = Imam Mahdi ??

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh Suryani Musi dan Teman LPM lain.

 

“Saya masuk Ahmadiyah karena ingin mencari kesesatannya. Namun saya tidak keluar karena saya belum mendapatkan kesesatan tersebut seperti yang dikatakan orang,” papar Pimpinan Wilayah Rohani Ahmadiyah, Mln Jamaluddin Feeli saat diskusi dengan peserta Workshop Jurnalistik, Sabtu (18/9).
Washilah OnlineDebu-debu beterbangan yang sesekali menghampiri bus rombongan Wokshop Keberagaman yang diadakan oleh Serikat Jurnalistik untuk Keberagaman  (Sejuk) mengunjungi pusat Jamaah Ahmadiyah Indonesia Wilayah Sulsel. Tepatnya di jalan Anoang Desa Maricayya Selatan Kecamatan Mamajang Makassar.

Garis polisi masih melintangi pagar tinggi gedung berlantai dua itu. Pasca penyerangan Front Pembela Islam (FPI), Minggu (14/8), garis itu masih terpasang belum juga dibuka.  Jendela yang pecah oleh penyerangan itu juga masih ada. 

Sebelum melewati pagar tinggi seorang ibu berkerudung hijau sampai dadanya menyambut kami dengan senyuman. Dialah Ketua Kaum Ibu  Ahmadiyah Sulsel, Siti Nur Rochmiwati. Tangannya terulur menyalami setiap tamunya. Pimpinan Wilayah Rohani Ahmadiyah, Mln Jamaluddin Feeli, berdiri di depan pintu pagar dengan senyum merekah menyambut kedatangan tamunya. Rombongan lelaki diarahkannya ke tangga sebelah kiri sementara perempuan ke sebelah kanan untuk menaiki menuju lantai dua. 

Ruangan yang dituju ternyata tempat ibadah. Karpet berwarna hijau tergelar menutupi lantai ruangan. Disebelah kanan ada lipatan mukena putih tertata rapi. Al-Qur’an juga tertata rapi disampingnya. Ditengah ruangan berdiri sebuah papan yang mereka sebut Hijab (perantara antara lelaki dan perempuan, red). Diatas ruangan kecil yang biasanya diperuntukkan untuk imam terdapat podium bertuliskan “Jemaat Ahmadiah Indonesia, Sul Sel”. Dinding atasnya melintang kalimat syahadat bertuliskan Arab. Di damping tulisan “Allah” dan “Muhammad” di samping kiri kanannya. Memasuki waktu shalat Ashar, diskusi kemudian dihentikan lalu salah satu anggota jemaat mengumandangkan Adzan.  Sikap sholatnya pun tak ada yang berbeda yang lainnya.

Gedung tersebut dikenal oleh masyarakat sekitar bernama Masjid An-Nusharat. Selain dipakai sebagai tempat beribadah, tempat tersebut juga berfungsi sebagai kantor oleh Jamaat Ahmadiyah Wilayah Makassar.

Sosok Mln Jamaluddin, sebagai pemimpin jemaat, penampilannya tak jauh berbeda dengan muslim lainnya. Memakai peci hitam, baju koko, memanjangkan janggut walaupun tak terlalu panjang, dan memakai celana kain di atas mata kaki. 

La Wali, sapaan akrabnya, yang mengaku mengikuti Ahmadiyah saat merantau ke tanah Malaysia di tahun 1996 pada awalnya karena penasaran. 

“Saya masuk Ahmadiyah karena ingin mencari kesesatannya. Namun saya tidak keluar karena saya belum mendapatkan kesesatan tersebut seperti yang dikatakan orang,”paparnya.
Dibalik Cerita Ahmadiyah
Rumor Ahmadiyah sesat bukan lagi isapan jempol. Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang melarang penyebaran aliran ini semakin menegaskan pandangan masyarakat sekitar akan tetapi para muballigh Ahmadiyah melontarkan pembantahan perihal rumor yang beredar akhir-akhir ini.

La Wali, Muballigh Wilayah Sulsel, mengakui bahwa syariat dan rukum iman dengan muslim lainnya mereka tidak ada yang beda. Hanya ma’rifat dari arti tentang sholat dan syahadat yang beda. 

Dengan sedikit guratan dan tanda kehitaman di kening, Syamsu Rijal yang menjabat sebagai Muballigh Ahmadiyah Cab. Pare-pare berkata “Kami percaya Mirza Gulam Ahmad merupakan nabi dan rasul akan tetapi kami tidak meyakini bahwa beliau pembawa risalah baru.”. Ia juga menambahkan bahwa aliran yag masuk di Indonesia pada tahun 1935 ini sebahagian besar mengikuti madzhab Hanafi walaupun tidak fanatik, pada kepercayaannya sosok Imam Mahdi atau Isa Al-Masih versi pasca diangkat ke langit telah datang dan juga telah meninggal pada tahun 1908 yang berwujud Mirza Gulam Ahmad. Dan yang lebih mengejutkan bahwa takkan ada sosok Dajjal yang berwujud makhluk bermata satu karena dajjal di pikiran mereka adalah segala kejahatan. Termasuk didalamnya Amerika Serikat, Konsep Trinitas, serta kita bila berbuat jahat juga.

Sampai persoalan nabi dan tunaikan haji. Lawali menyatakan bahwa mereka mengakui Rasulullah SAW, dan Allah. Namun, bedanya adalah mereka menyakini bahwa Isa telah turun ke bumi melalui Mirza Gulam Ahmad. Tanda-tanda ke-‘Isaan’ tersebut mereka yakni telah ada pada diri Gulam Ahmad. Bukan mengakui bahwa Gulam Ahmad adalah Nabi mereka.

“Kami tidak menganggap bahwa Gulam Ahmad adalah nabi kami. Seandainya ada debu yang menempel pada kaki Nabi bagian kiri Nabi Muhammad, maka masih lebih mulia debu tersebut dibading dia. Hanya kami menemukam bahwa ciri-ciri Isa tersebut telah ada pada diri Gulam Ahmad. Kemudian untuk menghormatinya, 30 tahun kemudian teman-temannya membukukan pemikiran-pemikirannya dalam bentu kitab Takzirah dengan 84 referensi buku.” 

La Wali menyatakan bahwa Ahmadiyat itu adalah organisasi jika dilihat dari segi konteks dunia. Namun, jika dilihat dari konteks agama Ahmadiyah adalah aliran.

Ditanya mengapa menyakini Mirza sebagai nabi Isa, La Wali balik bertanya. Bagaiamana kami meyakini nabi Muhammad sebagai nabi terkhir. Dia menyatakan bahwa itu adalah persoalan hati. Persoalan dia dengan Tuhan. Tidak ada yang lain.

Demikian juga dikatakan oleh Siti Nur Rochmiati. Bahwa apa yang diyakininya itu adalah persoalan dirinya dengan Tuhan. Dan, ajaran tersebut telah diterimanya ketika masih kecil karena keturunanya adalah memeluk ajaran Ahmadiyah.

“Ahmadiyah meyakini Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Islam adalah agama terakhir dan Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir,” tegas La Wali

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami