Kebebasan Akademik dalam Kaca Mata Asosiasi Professor Indonesia

Facebook
Twitter
WhatsApp

Jumat, 12/07/2011 | Suryani Musi

Washilah Online-Dalam lingkup ruang kampus, kebebasan akademik (academic fredoom) menjadi perbincangan yang lagi gencar-gencarnya. Termasuk ketika adanya pro kontra Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin menerima mahasiswa nonmuslim dengan permasalahan Prof Dr Jalaluddin Rahmat (JR) yang “beraliran Syiah” yang dilarang keras oleh Front Pembela Islam (FPI) untuk menyelesaikan program doktornya di UIN.

Hal tersebut juga yang melandasi Asosiasi Professor Indonesia mengadakan sejenis dialog dengan mengusung tema Kebebasan Akademik, Kamis (12/08/2011) kemarin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di gedung Traing Centre lantai VII kampus I UIN. Dihadiri kurang lebih 20 professor.

Prof Basri (Mantan Rektor Unhas sekaligus mantan Menko) membahas kebebasan Akademik secara global dengan membandingkan kebebasan akademik di Indonesia.
Sedangkan, Prof Dr Ahmad Sewang (Pmbantu Rektor I) membahas mengenai kebebasan Akademik dalam Sejarah Islam.

Menurut Prof Sewang, terdapat gejala sekarang ini, ada kelompok yang tidak memberi ruang perbedaan dan cenderung menghakimi karena tidak sependapat.
Jika ulama sekaliber Quraish Shihab dan Mahmud Saltout dipersalahkan karena mentoleransi perbedaan, apalagi yang lain.

“Masih mending jika disalahkan, tetapi disuruh bertobat (QM), dihakim in absensia (seperti yang dialami Fazlur Rahman di Pakistan, Abd. Karim Sorush di Iran, Mahmud Taha di Sudan, Abu Zayd di Mesir, Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Ada juga diancam (JR, Tribun Timur, 7 Agustus 2011), bahkan dihukum bunuh (Faodah). Jika ini yang terjadi, kita telah mundur dan kembali ke zaman Khawarij,” papar Prof Dr Ahmad Sewang.

“Jika anda mengikuti alur pendapat di atas, sama sekali saya bukanlah otomatis menjadi pendukung satu kelompok, apalagi dituduh agen Syiah , tetapi melainkan saya memiliki cita-cita besar agar umat Islam al-taqrib baenal mazahib atau bergandengan tangan antara pemeluk mazhab, seperti istilah QS. Bahkan saya berpandangan semua mazhab dalam Islam bukanlah wahyu melainkan produk sejarah. Bagi saya, ‘Islam yes, mazhab no’ ,“ tambahnya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami