Dakwah Semarak, Kejahatan Juga Semarak

Facebook
Twitter
WhatsApp

Jumat, 12/07/2011 | Suryani Musi

Washilah Online-Fenomena kekinian yang terjadi di Makassar menurut Dr Hidayat M Said M Ag, makin maraknya dakwah di kalangan masyarakat tidak berhasil menekan tingginya angka kejahatan yang terjadi setiap hari. Dia menyebutkan bahwa dakwah semakin semarak dilakukan namun kejahatan juga semakin bertambah.

Hal tersebut disampaikan ketika membahwakan isi ceramah di masjid kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Kamis (12/07/2011) malam.

“Apa yang salah pada bangsa ini? Apakah umat yang salah atau mubalihgnya yang salah? Mestinya ketika dakwah semarak mestinya kejahatan itu berkurang. Akan tetapi nyatanya berbanding sama,” paparnya di depan para jamaah setengah bertanya.

Namun dia juga menyebutkan bahwa yang salah adalah mubalighnya. Bisa saja umat sudah berubah perilakunya, tapi metode dakwah atau materi tidak pernah berubah. Dia tidak mengikuti perkembangan.

Seandainya Islam adalah produk, ajaran Islam tidak ada lagi uyang mampu mengalahkannya. Namun, menurut Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah ini menyatakan bahwa justru para mubaligh itulah yang tak mampu memperkenalkan produk canggih tersebut kepada orang lain. Termasuk yeng memperkenalkan produk tidak menggunakan metode Dakwah bil Khal.

“Kita saja menyuruh orang untuk bersedekah baru kita terkenal orang yang sangat kikir. Seorang penjual parfum, untuk menyakinkan pembelinya dia juga memakai parfum tersebut. Supaya pembeli percaya,” paparnya lagi.

“Di UIN juga seharusnya demikian. Saya malu ketika diundang ke Kalimantan untuk ceramah kemudian salah seorang jamaah menyatakan bahwa UIN itu sebetulnya sangat terkenal. Tapi yang terkenal itu adalah demonya. Ketika satpam berkelahi dengan mahasiswa. Saya malu. Orang pasti berpikiran di tempatnya saja mereka gagal apalagi di Kalimantan,” tambahnya.

Menurutnya, ketika orang mempertanyakan bagaimana sebenarnya Islam ideal itu, seseorang menunjukkan UIN sebagai percontohan yang bisa dilihat orang. Bukan sebaliknya.

Dr Hidayat menawarkan solusi bahwa untuk berdakwah tidak cukup dengan teori. Akan tetapi dengan contoh yang diawali oleh diri sendiri. Itu jika mubaligh tidak ingin ceramahnya hanya dijadikan tontonan, bukan tuntunan.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami