Biseang Katallassang Pada Pekan Pencerahan

Facebook
Twitter
WhatsApp

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online-Acara penutupan acara Pekan Pencerahan yang berlangsung selama empat hari ini, dimulai sejak Jumat 08 Juli sampai Selasa 11 Juli 2011 ini ditutup dengan pementasan Seni Budaya. Pementasan tersebut dibawakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA. Pementasan tersebut digelar di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa.

Karya seni yang dipentaskan adalah musik, musik tilawah, rampak, seni rupa dalam bentuk artistik, dan kolosal. Namun di antara pementasan yang lain itu, pementasan yang paling mengundang decap kagum dari peserta yang mendapat beasiswa Bidik Misi tersebut adalah pementasan kolosal. Sampai-sampai tim steering yang duduk di sisi kanan panggung berdiri dan merapat ke dekat pementasan.

Pementasan kolosal tersebut berlangsung kurang lebih setengah jam. Menggabungkan antara musik, teater, puisi, dan tilawah.

Kolosal yang dipentaskan menurut Ketua Umum SB eSA, Muhammad Albar bercerita tentang Biseang Katallasang (Perahu Kehidupan diambil dari Bahasa Makassar). Biseang Katallassang ini bercerita bagaimana seseorang mampu mengarungi kehidupan dengan kejujuran.

“Di dalam Biseang Katallassang itu terdapat Sompe malempu’ atau berlayar yang lurus. Yang berarti kejujuran,” kata sosok yang selalu senyum ini dan kerap dipanggil Aba.

Sompe tersebut diantar menuju ke arah mata angin. Mengantar untuk memenuhi sebuah amanah. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan kejujuran kepada seseorang. Dan, terkadang untuk mendapatkan hal tersebut ada magala karang atau tantangan kehidupan. Biseang kartalassang ini diinginkan ada pada 90 peserta Bidik Misi yang mengikuti Pekan Pencerahan.

Namun, secara keseluruhan dari pementasan kolosal tersebut SB eSA hanya ingin mengingatkan bahwa Biseang Katalassang tersebut ada pada karakter Sultan Alauddin. Hal tersebut jarang ditemukan sekarang ini pada karakter para pemimpin.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami