Antisipasi Mubalighat Kurang Saat Ramadhan, Wanita Islam Adakan Pelatihan

Facebook
Twitter
WhatsApp

Jumat, 29/07/2011 | Suryani Musi

Washilah Online-Fenomena kekinian yang makin menggelisahkan dan sering menjadi sorotan bagi kaum muslim yakni makin kurangnya mubalighat yang bisa ceramah terutama saat bulan suci Ramadhan.

Hal tersebut rupanya melanda mendorong pengurus Wanita Islam (PWI) mengadakan pelatihan untuk para mubalighat. Pelatihan tersebut dimulai pada sekitar pukul 08 pagi sampai menjelang sore di gedung Training Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Jumat (29/07/2011).

Kegiatan yang bertema Refreshing Mubalighat Wanita Muslim Islam Sulsel tersebut menghadirkan pemateri-pemateri handal dari UIN. Seperti Dr Barsihannoor M Ag dengan materi Metode Dakwah. Dra Hj Noer Huda Noor M Ag membawakan materi Fiqh Islam.
Dr Hj Amrah Kasim M Ag dengan tema Problematika Dakwah dan Perubahan Sosial serta Dr H Aisyah Kara (Ketua WI) UIN.

Menurut Dra Noer Huda Noor kegiatan ini sebenarnya selain bertujuan untuk persiapan bulan rumadhan, juga untuk memantapkan hubungan silaturahmi wanita Islam dari berbagai daerah, sekaligus untuk merangsang pengurus daerah agar dapat membina pertumbuhan kader-kader dari daerah.

“Jadi harus ada singkronisasi antara teori, materi dan pelatihan. Dan, keberhasilan ceramah itu dilihat dari bagaimana isi ceramah tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain juga terhadap diri sendiri,” kata ketua WI Sulsel, Dr Hj Syamsuduha Shaleh MAg, isteri Pembantu Rektor Bidang Akademik, Prof Dr Ahmad M Sewang.

Hal yang hampir senada tersebut disampaikan oleh Dr Hj Aisyah Kara. Bahwa calon mubaligah itu tidak akan serta merta tahu. Meski menguasai materi dan teori namun jika tidak dibarengi dengan latihan maka itu juga tidak akan berhasil.

“Mulailah ceramah di rumah. Seorang Mubalighat tidak boleh tiba masa tiba akal. Kharus banyak membaca dan latihan. Ceramah itu ibaratnya bikin kue ibu-ibu. Harus latihan dan latihan,” katanya.

Pelatiahn ini diikuti oleh anggota WI dari berbagai daerah. Yakni Maros, Barru, Tator, Pare-Pare, Polmas, Majene, Bone, dan Makssar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami