“Rombak Total Gerakan Pemuda”

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh El Abdil Rahman DM

Sebuah revolusi besar haruslah di mulai dari
perubahan kecil..

Tujuh puluh delapan tahun sudah deklarasi sumpah pemuda menjadi tonggak sejarah gerakan pemuda Indonesia. Sumpah pemuda menjelma menjadi identitas kebangsaan yang menembus sekat-sekat ideologis, suku, dan agama. Tak terbantah, petuah sumpah pemuda berhasil mengakhiri ruang dikotomi ideologis antara islamisme, nasionalisme, dan marxisme yang dulu pernah diperdebatkan Soekarno dan M. Natsir.
Sumpah pemuda juga berhasil menengahi ruang debat antara modernisme dan tradisionalisme dalam wacana keislaman, serta antara feodalisme dan integralisme dalam ranah kebangsaan. Inilah akar historis visi kebangsaan dimana ruang pluralisme agama dan politik menjadi niscaya.
Kini, setelah 82 tahun berlalu, nampaknya kita dituntut untuk menata ulang kembali model gerakan pemuda. Sebagai sebuah gerakan kebangsaan yang memiliki visi keindonesiaan, model gerakan pemuda, hendaknya mengintegrasikan visi keindonesiaan sebagai ruh gerakan.
Sudah saatnya mengakhiri keterjebakan gerakan pemuda dalam ruang dikotomi ideologis dan kultural. Digiring dalam ranah politik yang menyuguhkan intrik-intrik “busuk” politik, kehidupan pragmatis, yang seketika melemahkan dan menistakan idealisme.
Kini gerakan pemuda-mahasiswa pasca-reformasi tidak lagi dihadapkan otoritarianiasme dan diktatorianisme politik, tetapi dihadapkan pada problem sosio-kemasyarakatan yang akut. Seperti lemahnya kesadaran dan kepekaan sosial masyarakat. Diperhadapkan pula pada menguatnya tirani kapitalistik yang dipraktekkan melalui budaya konsumtif dan hedonis. Dihadapkan pula pada pudarnya identitas kebangsaan dalam bingkai nasionalisme dan lunturnya rasa kebersamaan serta tercederainya pluralisme.
Gerakan pemuda pasca-reformasi hendaknya bisa menyuguhkan tranformasi sosial menuju masyarakat madani. Pola gerakan hendaknya diarahkan pada pembentukan modal sosial (social capital) dalam ranah pemberdayaan masyarakat bawah melalui gerakan peradaban (tamaddun) sebagai proses awal menuju masyarakat madani (civil society). Di saat lemahnya kepekaan sosial pemerintah dalam pemberdayaan kaum lemah dan masyarakat terpinggirkan, pemuda diharapkan mampu menjadi agen transformasi sosial. Pemuda pasca-reformasi hendaknya mampu menerjemahkan basis filosofis tata kebangsaan dalam titah sumpah pemuda melalui gerakan berkeadaban yang membela hak kaum miskin dan masyarakat yang selama ini terpinggirkan oleh tatanan struktural.
Ada beberapa tawaran program, ide, fokus pergerakan di antaranya, pertama, melalui gerakan antikemiskinan dan antipengangguran. Fokus advokasi ini menjadi strategis, mengingat gerakan anti-kemiskinan dan pengangguran sudah menjelma menjadi sebuah gerakan global. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan terjadinya peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia, ditambah lagi dengan berbagai persoalan kemanusian. Sehingga perlu juga di tambah dengan gerakan anti-KKN dengan menanamkan kultur dan prinsip kejujuran dalam pribadi seorang pemuda.
Akhirnya, sejarah akan mencatat dengan tinta emas ketika pemuda pasca-reformasi mampu membumikan idealisme dan mengartikulasikan gagasan-gagasan konstruktif menuju masyarakat peradaban.( EL Abdurrahman DM)

“Hei Pemuda….!! Berhentilah mengeluh, cengeng, bersikap manja, lemah, dan hanya menjadi korban penjual gerakan. Jika kau peduli pada bangsa mu, peduli pada jutaan kaum miskin dan pengangguran di republik ini… bergeraklah, bertindaklah, jangan menunggu.”

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami