Anarki Menjadi Tren Demonstrasi Makassar?

Facebook
Twitter
WhatsApp

Aksi anarkis yang kerap mewarnai demonstrasi Mahasiswa Makassar, dinilai kian meresahkan. Seperti ungkapan ngga’ ngepul ngga’ rame, anarki seakan menjadi tren, yang selalu diikutkan dalam setiap aksi demonstrasi. Di mata demonstran, demo kurang “wah”, tanpa aksi anarkis.

Menurut Pembantu Rektor III Universitas Hasanuddin, Ir Nasaruddin Salam, anarki terjadi ketika ada deadlock, atau jalan buntu. Demonstran kemudian anarkis ketika proses konsolidasi, gerakan, dan unjuk rasa yang dilakukan tak menemukan solusi. Kebuntuan tersebut karena berbagai hal. Bisa karena tuntutan demonstran tak diindahkan, atau karena demo tersebut memang di-setting untuk anarkis. Nasaruddin menjelaskan beberapa pengalamannya saat turun ke lapangan meninjau aksi demonstrasi. “Memang ada beberapa demonstran, kalau turun demo, itu targetnya adalah caos. Terkadang, saya ditanya oleh seorang demonstran. Jangan dekat-dekat pak, ini kalau wartawannya sudah datang, demo akan anarkis,” terangnya saat memberikan materi dalam diskusi bulanan IMMIM, di Gedung IMMIM Center (23/10). Meskipun sebenarnya, demonstrasi tersebut direncanakan damai dan diizinkan, tapi pada pelaksanaannya di lapangan, aksi lempar baru, pengrusakan fasilitas umum, sampai membakar mobil dinas yang kebetulan lewat, kerap terjadi. Mereka yang anarki tersebut pun berdalih, bahwa mereka dipancing-pancing aparat, atau ada yang memprovokasi.

Kasat Intelijen (KASAT) Polresta Makassar, AKBP Karim Samandi memaparkan, kebanyakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa itu ditunggangi. Ada oknum yang memanfaatkan aksi tersebut. “Ada beberapa lembaga atau LSM yang mengarahkan aksi mahasiswa. Sebut saja Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi (GERMAK), yang diketuai Kama Cappi. Mereka itu yang bawa babi, di belakangnya ada foto wapres, pada aksi demonstrasi beberapa bulan lalu.” Tujuan mereka yang sering demo, lanjut Karim, itu ujung-ujungnya duit. Menurut data kepolisian, rata-rata demonstran itu adalah mahasiswa yang pas-pasan, butuh duit, dan tentu bukan orang kaya. Mahasiswa yang demo di Makassar pun, jarang ditemukan asli orang Makassar. Justru kebanyakan berasal dari daerah luar, kebanyakan dari provinsi lain.

Sebetulnya, demonstrasi merupakan perbuatan yang mulia. Di dalamnya terkandung niat untuk mewujudkan sebuah sistem yang lebih baik, dengan menggugat berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Menurut Dr. Mohd Sabri AR, kita harus melihat demonstrasi yang anarkis itu sebagai sebuah dampak, dari berbagai kejahatan yang dilakukan elit-elit politik di Negara ini. “Pecahan kaca itu biasa. Lempar batu, Pengrusakan mobil-mobil itu biasa. Itu hanya dampak dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan di tingkat elit: korupsi, kolusi, penyelewengan dana, dan lainnya. Justru kejahatan yang berbahaya itu kejahatan psyche, kejahatan wacana.” Mantan Aktivis Mahasiswa di tahun 80-an ini menjelaskan hasil-hasil diskusinya dengan kalangan mahasiswa yang ada di garis kiri. Menurutnya, selama ini kita diminta untuk menjadi nasionalis, sementara Negara tak memberikan apa-apa buat kita. Kita sekolah, dibayar. Kita kuliah, ingin kawin, makan, semuanya dibayar. Lalu apa yang diberikan Negara untuk kita? Olehnya itu, gerakan perlawanan pun muncul sebagai dampak dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap Negara. Munculnya ide-ide kiri, pemihakan kepada rakyat miskin, doktrin tentang ketidakpercayaan rakyat terhadap Negara, akhirnya mengubah logika berpikir mereka, bukan “aku berpikir maka aku ada,” tapi “aku ada karena aku melawan.” Satu kata menuntaskan persoalan bangsa ini, yakni: lawan. Sabri percaya, ada skenario global yang disusun orang-orang berkepentingan di balik berbagai kerusuhan di Negara ini. Ini disampaikan pada diskusi bulanan IMMIM, tentang Akar Permasalahan Demo Anarkis, jumat lalu.

Diakui Ir Nasaruddin Salam, memberantas aksi anarkisme mahasiswa cukup sulit. Diperlukan kerjasama yang baik oleh bukan hanya aparat polisi dan pimpinan kampus, tapi juga orangtua mahasiswa tersebut. Media juga harus ikut membantu. “Jangan lagi menonjolkan bad news is a good news. Wartawan harusnya jangan cuma meliput demo, tapi beragam kegiatan-kegiatan kampus yang bernilai akademik dan pengembangan intelektual,” ujarnya. Nasaruddin menambahkan, mahasiswa perlu pembinaan yang lebih. Jika di UIN Digodok sebuah program pembangunan karakter, di Unhas, kata Nasaruddin, ada program Mendesain Hidup dan Mengelola Masa Depan.

Sebagai warga Makassar, beberapa pemberitaan media massa harusnya membuat kita sadar, betapa tingginya angka anarkisme di kota ini, bahkan distigma menjadi kota kerusuhan. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, mengapa masyarakat Makassar yang terdiri dari beraneka ragam budaya, serta memegang asas siri’ na pacce ini mudah terhasut, dan mahasiswanya gampang diperalat? (abie)

Demonstrasi Anarkis Dalam Beberapa hari terakhir
18 Oktober
Demo menolak rencana kedatangan SBY di Depan Kampus Universitas Muslim Indonesia, Jalan Urip Sumoharjo. Terjadi baku lempar antara mahasiswa dan Polisi. 1 Mahasiswa Ditangkap. Satu buah sepeda motor milik seorang polisi dirusak.
19 Oktober
Demonstrasi oleh Mahasiswa Universitas Negeri Makassar, menolak kedatangan SBY, di Depan Hotel Clarion, Pertigaan Jl. Raya Pendidikan-AP Pettarani. Terjadi baku lempar antara mahasiswa dan polisi. Lima polisi luka-luka, Empat mahasiswa ditangkap, dan dua wartawan luka.
20 Oktober
Aksi peringatan 1 tahun Pemerintahan SBY, depan kampus Universitas Hasanuddin. Dua mobil dinas dirusak Mahasiswa. Mobil Dinas tersebut antara lain, milik Dinas Kehutanan, dan Dinas Kesehatan Sulbar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami