Belajar Menjadi Laki-Laki dari Ketidakmampuan: Seperti Dendam, Harus Dibayar Tuntas

Facebook
Twitter
WhatsApp
Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Penulis Eka Kurniawan

Oleh: Muh. Arya Ramli

Di antara buku-buku yang terpajang rapi di Gramedia yang saya datangi bulan lalu, ada satu judul yang membuat langkah saya terhenti: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Hanya dari judulnya saja, saya sudah membayangkan adegan kekerasan yang brutal, bagaikan sebuah janji yang terasa kasar sekaligus mengundang. Rasa penasaran itu yang akhirnya mendorong saya membuka lembaran pertamanya.

Dan benar saja, setelah melahap lembaran demi lembaran novel ini, apa yang saya bayangkan ketika pertama kali melihat judulnya benar-benar sesuai dengan ekspektasi saya: adegan perkelahian pinggir jalan yang keras dan liar. Namun, novel ini tidak berhenti di sana. Di balik kekerasan tersebut, tersimpan sesuatu yang lebih mengganggu: persoalan maskulinitas yang rapuh, yang dipaksakan untuk tetap terlihat kuat, bahkan ketika tubuhnya sendiri tidak mampu memenuhi standar itu.

Ajo Kawir digambarkan sebagai pemuda yang akrab dengan kekerasan, bahkan seolah mencari mautnya sendiri. Namun di balik itu, ia menyimpan sesuatu yang justru meruntuhkan standar kejantanan yang selama ini dilekatkan pada laki-laki: impotensi. Dalam posisi itulah, kekerasan tampak menjadi pelarian dari kekesalan yang ia alami, sekaligus cara untuk tetap merasa utuh meskipun sebenarnya ia tidak pernah benar-benar utuh.

Selain isi cerita yang memikat, terutama bagi pembaca yang menyukai tema aksi, novel ini juga menawarkan alur yang tidak biasa. Cerita tidak disusun secara kronologis (non-linear) seperti pada umumnya, melainkan meloncat-loncat, membuat saya sebagai pembaca harus menyusunnya sendiri bagaikan kepingan puzzle.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, penggunaan alur non-linear ini, bagi pembaca yang belum terbiasa seperti saya menimbulkan rasa mengganggu sekaligus membingungkan. Perpindahan cerita yang tiba-tiba seringkali membuat saya bertanya, “Mengapa Iteung tiba-tiba berada di penjara?” Namun, setelah dibaca lebih lanjut, barulah terungkap bahwa ia membunuh Budi Baik.

Kebingungan, rasa terganggu, dan berbagai pertanyaan kerap muncul selama membaca novel ini sebagai akibat dari penggunaan alur non-linear. Namun justru karena ketidakruntutan itulah, saya terdorong untuk terus melahap lembar demi lembar, didorong oleh rasa penasaran yang perlahan menemukan jawabannya di bagian-bagian berikutnya.

Namun, di balik kompleksitas alur cerita yang tersaji, terdapat tokoh utama yang justru kehilangan simbol kejantanannya. Sulit dipungkiri bahwa impotensi dapat menghadirkan luka yang mendalam bagi orang yang mengalaminya. Di satu sisi, Ajo Kawir digambarkan sebagai sosok yang berani dan akrab dengan kekerasan, tetapi di sisi lain ia tidak mampu memenuhi hasrat seksualnya ketika berhadapan dengan perempuan yang mencintainya. Kontras ini menunjukkan tekanan besar yang harus ia pikul, bahkan hingga ke perantauan.

Apa yang dialami Ajo Kawir, serta bagaimana ia menyikapi impotensinya, memunculkan berbagai pertanyaan. Siapa yang sebenarnya membentuk stigma bahwa maskulinitas laki-laki harus diukur dari fungsi organ vitalnya? Mengapa kondisi tersebut justru menjadi sumber penilaian terhadap harga diri seseorang?

Jika dilihat lebih jauh, maskulinitas tidak semestinya direduksi hanya pada aspek biologis. Ia lebih berkaitan dengan karakter, integritas, tanggung jawab, dan cara seseorang membawa diri. Dalam konteks ini, disfungsi ereksi merupakan persoalan medis sebagaimana penyakit lain seperti Diabetes atau hipertensi yang seharusnya tidak serta merta dikaitkan dengan identitas atau nilai diri seseorang. Justru, pelabelan semacam itu berpotensi menciptakan stigma yang menghambat individu untuk memahami dan menerima dirinya sendiri.

Menjelang akhir cerita, Ajo Kawir tampak tidak lagi sepenuhnya terikat pada luka yang selama ini membebaninya. Meskipun sesekali harapan itu masih muncul, ia perlahan belajar menerima dirinya. Dalam perjalanannya sebagai sopir truk lintas daerah, Ajo menemukan cara untuk tidak lagi reaktif terhadap kekurangannya. Perubahan ini menunjukkan bahwa kedewasaan tidak selalu datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan untuk berdamai dengan apa yang tidak dapat diubah.

Setelah menutup novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, saya sampai pada satu pemahaman: seorang laki-laki tidak semestinya diukur dari fungsi tubuhnya, melainkan dari karakter, integritas, dan cara ia memperlakukan orang lain. Dalam hal ini, Ajo Kawir justru menunjukkan bentuk maskulinitas yang lebih utuh bukan melalui kekuatan fisik, tetapi melalui penerimaan diri dan kedewasaan dalam menjalani hidup.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami